Komisi di Vatikan tentang Kecerdasan Buatan Mengadakan Pertemuan Perdana
Vatican News
Pertemuan pertama Komisi Antardikasteri tentang Kecerdasan Buatan (Interdicasterial Commission on Artificial Intelligence/ICAI) diselenggarakan baru-baru ini, menandai dibentuknya badan baru untuk mendorong koordinasi dan kerja sama di antara berbagai lembaga Takhta Suci yang terlibat dalam kajian, refleksi, dan pemanfaatan kecerdasan buatan.
Pertemuan yang berlangsung di Palazzo San Calisto itu mempertemukan para perwakilan dari Dikasteri Ajaran Iman, Dikasteri Kebudayaan dan Pendidikan, Dikasteri Komunikasi, Dikasteri untuk Mendorong Pembangunan Manusia Integral, serta Akademi Kepausan untuk Kehidupan, Akademi Kepausan Ilmu Pengetahuan, dan Akademi Kepausan Ilmu Sosial.
Tujuan pertemuan tersebut adalah berbagi aneka inisiatif yang sedang berjalan, mengidentifikasi prioritas bersama, serta menetapkan langkah-langkah awal dalam suatu proses yang bertujuan memajukan visi tentang kecerdasan buatan yang melayani martabat manusia, kesejahteraan bersama, dan misi Gereja.
Dikasteri untuk Mendorong Pembangunan Manusia Integral dipercayakan untuk mengoordinasikan Komisi tersebut selama tahun pertama masa kegiatannya.
Dalam sambutan pembukaannya, Kardinal Michael Czerny, SJ, Prefek Dikasteri tersebut, menyoroti empat aspek yang sangat penting dalam perkembangan kecerdasan buatan saat ini: laju perkembangannya yang belum pernah terjadi sebelumnya, dampaknya terhadap martabat manusia, semakin intensifnya dialog antara Gereja dan sektor teknologi, serta gaung kuat yang ditimbulkan oleh ensiklik Magnifica Humanitas.
Perhatian khusus diberikan pada perlunya kebijaksanaan dan ketajaman murni dalam menilai fenomena yang menawarkan peluang besar, namun sekaligus menghadirkan risiko dan tantangan etis, sosial, budaya, serta lingkungan yang semakin signifikan.
Lembaga-lembaga yang hadir memaparkan berbagai kegiatan dan refleksi mereka mengenai kecerdasan buatan, dengan mengacu pada studi serta inisiatif yang membahas dampak ilmiah, sosial, etis, dan pendidikan dari teknologi tersebut.
Pertemuan itu juga mengingat kembali perjalanan yang dimulai melalui Kongres tentang Etika AI dan Seruan Roma for Etika AI, serta pesan Bapa Suci mengenai hubungan antara kecerdasan buatan dan perdamaian pada Hari Perdamaian Sedunia 2024.
Koordinasi, Pembentukan, dan Dialog
Mengenai peran Komisi yang baru dibentuk ini, muncul kesepakatan luas bahwa Komisi ini perlu menjalankan dua fungsi utama.
Di satu sisi, Komisi harus mendorong koordinasi internal, berbagi informasi, dan refleksi mengenai penggunaan kecerdasan buatan di dalam berbagai lembaga Takhta Suci. Di sisi lain, Komisi juga harus menjadi rujukan dalam memberikan pertimbangan dan dukungan bagi berbagai inisiatif yang berkembang di bidang ini.
Para peserta menekankan pentingnya memajukan dialog terbuka dengan kalangan akademisi, ilmuwan, dunia usaha, serta konferensi-konferensi para uskup.
Mereka menegaskan bahwa Gereja harus terus berinteraksi dengan berbagai perubahan yang sedang berlangsung di masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Komisi memandang bahwa sebuah situs web khusus akan berguna untuk membagikan berbagai inisiatif dan mempermudah penyebaran informasi.
Langkah-Langkah Selanjutnya
Mengenai agenda berikutnya, Komisi memutuskan bahwa pekerjaannya akan dilakukan secara bertahap.
Langkah pertama dapat mencakup pemetaan berbagai inisiatif yang sudah ada, pengumpulan tema-tema yang diidentifikasi oleh berbagai lembaga, serta penyusunan pedoman mengenai penggunaan kecerdasan buatan di lingkungan Takhta Suci.
Para peserta menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pertemuan pertama Komisi Antar-dikasteri tentang Kecerdasan Buatan.
Menurut mereka, pertemuan tersebut memberikan gambaran yang menarik mengenai berbagai inisiatif yang sedang berlangsung, sekaligus menjadi pengalaman berharga dalam berbagi antar berbagai dikasteri yang diwakili serta menunjukkan manfaat nyata dari koordinasi.
Komisi akan kembali mengadakan pertemuan pada pertengahan Juli.