Kardinal Grzegorz Ryś menyampaikan meditasi biblisnya dalam Konsistori Luar Biasa yang berlangsung di Aula Audiensi Paulus VI. Kardinal Grzegorz Ryś menyampaikan meditasi biblisnya dalam Konsistori Luar Biasa yang berlangsung di Aula Audiensi Paulus VI.   (@Vatican Media)

Kardinal Ryś: Orang Samaria yang Baik Hati Menawarkan Model Gere

Kardinal Grzegorz Ryś mengatakan kepada Konsistori Luar Biasa bahwa Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati menawarkan model bagi Gereja dalam mewartakan Injil pada masa kini. Menurutnya, perumpamaan itu mengajak umat Kristiani untuk mengenali luka-luka kemanusiaan modern sekaligus tanda-tanda belas kasih yang sudah hadir di dunia.

Oleh Vatican News

Merenungkan pertanyaan, “Di dunia seperti apa kita dipanggil untuk mewartakan Injil?”, Kardinal Grzegorz Ryś mengajak para kardinal untuk melihat Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati sebagai pedoman dalam memahami dunia masa kini sekaligus misi Gereja di dalamnya.

Berbicara dalam Konsistori Luar Biasa di Vatikan, Uskup Agung Łódź, Polandia, itu mengambil inspirasi dari kisah Orang Samaria yang Baik Hati dalam Injil Santo Lukas. Ia mengingatkan bahwa Santo Paulus VI, pada penutupan Konsili Vatikan II, pernah menggambarkan perumpamaan tersebut sebagai “model” dan “norma” bagi Gereja dalam berinteraksi dengan dunia modern.

Alih-alih berbicara tentang dunia dalam pengertian yang abstrak, Kardinal Ryś mengatakan bahwa Injil mengundang umat Kristiani untuk merenungkan pribadi manusia secara konkret. “Merenungkan manusia tidak berarti kita mengabaikan perenungan tentang dunia,” katanya. Ia menambahkan bahwa setiap pribadi turut membentuk dunia sekaligus tetap menjadi “jalan utama dan mendasar bagi Gereja.”

Ia pertama-tama merefleksikan sosok pria yang dirampok dalam perumpamaan tersebut sebagai gambaran kemanusiaan masa kini. Seperti musafir yang terluka itu, banyak orang menjadi korban kekerasan, tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga martabat mereka. Banyak pula yang memikul luka psikologis dan spiritual yang tersembunyi, sementara tak terhitung jumlahnya mengalami kesepian dan sikap acuh tak acuh, meskipun hidup di era komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kardinal tersebut juga menyoroti perjalanan musafir yang meninggalkan Yerusalem sebagai simbol masyarakat yang semakin menjauh dari Allah. Menurutnya, sekularisasi modern serta penyalahgunaan agama untuk kepentingan ideologis sama-sama berkontribusi pada hilangnya martabat manusia yang autentik.

Namun, perumpamaan itu juga menghadirkan harapan melalui sosok orang Samaria.

Meskipun dianggap sebagai orang luar bahkan musuh, orang Samaria itu justru menjadi guru yang sejati, kata Kardinal Ryś. Sosok tersebut menantang Gereja untuk menyingkirkan prasangka dan belajar dari tindakan belas kasih di mana pun tindakan itu ditemukan.

Belas kasih, kedekatan, dan kemurahan hati orang Samaria menunjukkan bahwa kasih tidak hanya menjadi milik eksklusif umat Kristiani, melainkan ruang tempat Gereja dan dunia dapat bertemu dalam dialog yang tulus. Daripada menanggapinya dengan rasa iri, katanya, umat Kristiani seharusnya mengakui dan bergabung dalam berbagai karya belas kasih yang telah hadir di tengah masyarakat.

Menutup refleksinya, Kardinal Ryś mengatakan bahwa kedua tokoh dalam Injil itu mewakili dua wajah dunia masa kini: “seorang saudara yang setengah mati dan seorang asing yang mengajarkan kepada kita di mana kehidupan sejati berada.”

Dalam keduanya, katanya, Allah terus memanggil Gereja untuk mewartakan Injil.

26 Jun 2026, 14:34