Cari

Beberapa nelayan dan jala mereka Beberapa nelayan dan jala mereka 

Kardinal Czerny untuk Sea Sunday: Kapal Tidak Boleh Menjadi Tempat Isolasi

Dalam pesannya untuk Sea Sunday 2026, Kardinal Michael Czerny menyoroti berbagai tantangan kompleks yang dihadapi para pekerja maritim saat ini ketika laut semakin “ditandai oleh ketegangan, ketidakamanan, perang, dan ketakutan.”

Oleh Kielce Gussie

Setiap tahun pada hari Minggu kedua bulan Juli, Gereja-Gereja Kristen di seluruh dunia memperingati Sea Sunday (Hari Minggu Laut), sebuah hari yang didedikasikan untuk mendoakan para pekerja maritim dan keluarga mereka. Pada tahun 2026, peringatan ini jatuh pada tanggal 12 Juli dengan tema “Harbours of Hope: The Church Alongside Seafarers” (Pelabuhan-Pelabuhan Harapan: Gereja Mendampingi Para Pelaut).

Kardinal Michael Czerny, Prefek Dikasteri untuk Pengembangan Manusia Integral, menulis pesan untuk Sea Sunday dengan judul “Beyond Cargo and Commerce: The Human Face of the Sea” (Melampaui Muatan dan Perdagangan: Wajah Manusiawi Laut).

Lebih dari Sekadar Pekerjaan Mereka

Dalam pesannya, Prefek Dikasteri menyoroti bagaimana dunia terus bergantung pada laut, danau, sungai, serta jalur-jalur perairan. Namun, ia menekankan perhatian pada wajah-wajah manusia di balik industri maritim, yaitu lebih dari 1,8 juta orang yang kehidupannya terkait dengan jalur-jalur perairan tersebut.

Begitu banyak mata pencaharian, komunitas, dan keluarga bergantung pada para pria dan perempuan ini. “Krisis di Selat Hormuz telah mengingatkan dunia betapa dalam ketergantungan umat manusia pada laut dan mereka yang bekerja di atasnya,” jelas Kardinal Czerny.

Karena itu, pada Sea Sunday, Gereja Katolik “mengingat para pria dan perempuan ini bukan semata-mata karena pekerjaan yang mereka lakukan atau barang-barang yang mereka angkut, melainkan sebagai pribadi-pribadi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah serta dianugerahi martabat yang tidak dapat diganggu gugat.”

Setiap pekerja maritim atau pelaut memiliki kisah hidupnya sendiri dan, tegas Kardinal, mereka layak untuk “dilihat, dihormati, dan dihargai.”

Rasa Terisolasi

Namun, Kardinal Czerny menunjukkan bahwa para pekerja maritim masih menghadapi ketidakpastian karena laut, yang selama ini menghubungkan bangsa-bangsa dan masyarakat, kini semakin “ditandai oleh ketegangan, ketidakamanan, perang, dan ketakutan.”

Para awak kapal tidak hanya harus menghadapi bahaya yang datang dari laut, tetapi kini juga harus menanggung dampak konflik, seperti kekurangan pangan, keterbatasan kebebasan bergerak, dan ketakutan akan keselamatan hidup mereka sendiri.

Perubahan ini semakin memperkuat perasaan terisolasi dari masyarakat luas, memperpanjang waktu perpisahan dengan keluarga, serta menambah kelelahan emosional yang mereka alami.

Bahkan dengan kemajuan teknologi, Prefek Dikasteri itu berpendapat bahwa banyak orang justru merasakan isolasi yang lebih besar karena “kedekatan manusiawi semakin langka.”

Para pekerja maritim menyaksikan jumlah awak kapal yang semakin sedikit, waktu singgah di daratan yang semakin singkat, tekanan yang terus-menerus, serta jadwal kerja yang sangat ketat.

Sebagaimana ditekankan dalam ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, sistem teknologi dan ekonomi tidak boleh mereduksi manusia menjadi “sekadar data, roda dalam mesin, atau komoditas.”

Sebaliknya, martabat dan kebebasan manusia harus senantiasa dijaga.

Karena itu, sebuah kapal tidak boleh menjadi tempat “isolasi yang sunyi atau sikap acuh tak acuh, sebuah Babel modern di mana orang-orang hidup berdampingan tetapi tetap tidak terlihat dan tidak terdengar.”

Laut Mempersatukan Kita

Sebaliknya, kehidupan di laut dapat menjadi contoh bagaimana orang-orang dari berbagai bangsa, budaya, dan keyakinan hidup dalam persaudaraan, solidaritas, dan saling menghormati.

Kardinal Czerny menegaskan bahwa laut dapat mengajarkan umat manusia bahwa “kita saling memiliki satu sama lain. Samudra tidak memisahkan manusia; samudra menghubungkan mereka.”

Gereja Katolik berupaya mengingatkan setiap pekerja maritim bahwa mereka tidak pernah sendirian dan tidak pernah dilupakan.

Selain itu, samudra bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan ciptaan Allah yang dipercayakan kepada umat manusia untuk dipelihara. Namun, jalur-jalur perairan dunia saat ini menderita akibat pencemaran, kerusakan lingkungan, dan eksploitasi.

Sekitar 88 persen permukaan laut telah tercemar oleh limbah plastik. Pada tahun 2018, hampir 90 persen sumber daya ikan dunia telah dieksploitasi secara penuh atau mengalami penurunan yang serius.

Namun, ini bukan hanya masalah kehidupan laut atau para pekerja maritim. Sebagaimana ditegaskan Kardinal Czerny, “ketika samudra menderita, umat manusia turut menderita bersamanya.”

Karena itu, menjadi tanggung jawab semua pihak untuk melindungi kehidupan laut, mendorong praktik yang etis dan berkelanjutan, membela martabat dan keselamatan para pekerja maritim, serta mengembangkan semangat tanggung jawab global dalam merawat lautan kita.

Gereja pun tidak dapat menjauh dari tanggung jawab ini. Sebaliknya, Gereja harus dekat dengan para pekerja maritim dan pelaut.

“Gereja dipanggil untuk naik ke dalam perahu: mendampingi, mendengarkan, menghibur, membela martabat manusia, dan menjadi tanda yang nyata akan harapan dan rumah di tengah badai kehidupan manusia.”

Melalui para kapelan dan pelayanan yang secara khusus didedikasikan bagi para pria dan perempuan ini, Gereja dapat melanjutkan “tradisi panjang Apostleship of the Sea (Opus Apostolatus Maris)” yang berfokus pada pengingat bahwa setiap “pelaut, nelayan, pekerja maritim, dan pekerja navigasi perairan pedalaman selalu dikenang, dihargai, dan tidak pernah sendirian.”

24 Jun 2026, 12:39