Di Assisi, Paus mendorong kaum muda untuk berani memimpikan” hal-hal besar”
Oleh Daniele Piccini
Kunjungan pastoral Paus Leo XIV ke kota Assisi, Italia, hari Kamis, 6 Agustus, akan menjadi penutup rangkaian empat hari pertemuan, lokakarya, dan kesempatan untuk berbagi pengalaman. Dalam kesempatan itu, Paus akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kaum muda serta memimpin Perayaan Misa. Seperti yang beliau sampaikan setahun lalu pada Yubileum Kaum Muda di Tor Vergata, Paus akan mengajak mereka untuk tidak puas dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.
Mereka yang berkarya dalam pelayanan pastoral kaum muda, termasuk Bruder Luca de Pasquale, salah satu penyelenggara “Ayo! Ke Pertemuan Kaum Muda Fransiskan!” yang akan mempertemukan ribuan kaum muda Eropa berusia 18 hingga 33 tahun di kota Santo Fransiskus tanggal 3–6 Agustus, mengamati bahwa banyak orang muda kini kehilangan hasrat yang kuat dan bahkan telah berhenti memimpikan masa depan mereka.
Bruder Minor berusia 38 tahun itu mengatakan kepada Vatican News bahwa sangat penting bagi kaum muda untuk mendengarkan seseorang seperti Paus, yang mampu berbicara kepada mereka tentang kepenuhan hidup. Ia juga menekankan pentingnya memandang Santo Fransiskus sebagai teladan "kegelisahan yang kudus", seorang pribadi yang tetap mampu berbicara kepada kaum muda masa kini seolah-olah ia adalah teman sezaman mereka.
Tanya Jawab
Seperti apa agenda kunjungan Paus ke Assisi pada pagi hari tanggal 6 Agustus?
Bruder Luca: Bapa Suci akan tiba cukup pagi, sekitar pukul 08.30. Seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung di Basilika Santa Maria degli Angeli, yang menaungi Kapel Porziuncola, kapel kecil yang dipugar oleh Santo Fransiskus dari Assisi, tempat ia tinggal, mendirikan Ordo Saudara Dina, dan akhirnya wafat. Tempat ini sangat penting bagi keluarga Fransiskan kami, sekaligus memiliki makna khusus dalam peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus (Transitus), yang kami rayakan tahun ini.
Paus akan meluangkan waktu sejenak untuk berdoa secara pribadi di dalam Kapel Porziuncola. Setelah itu, beliau akan menuju lapangan di depan basilika. Karena keterbatasan kapasitas, banyak peserta tidak dapat masuk ke dalam gereja, sehingga mereka akan berkumpul di alun-alun. Di sana, Paus akan mendengarkan tiga orang muda dari berbagai wilayah Eropa yang akan mengajukan tiga pertanyaan mengenai tiga tema yang berbeda.
Selanjutnya, Paus akan mengadakan pertemuan tertutup dengan keluarga-keluarga Fransiskan. Sekitar pukul 10.00 atau 10.30, beliau akan memimpin Perayaan Misa. Hari itu juga bertepatan dengan Hari Raya Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (Transfigurasi Tuhan).
Banyak kaum muda akan hadir di Assisi: peserta GO! Franciscan Youth Meeting, mereka yang baru menyelesaikan Franciscan March ke-44 dan datang untuk Perayaan Pengampunan Assisi, serta mereka yang datang khusus mengikuti Misa bersama Paus Leo XIV. Suasananya akan menyerupai Hari Orang Muda Sedunia versi Fransiskan...
Kami yakin bahwa dalam homilinya Bapa Suci akan menyampaikan pesan yang mampu merangkum makna seluruh pengalaman yang telah dijalani kaum muda selama beberapa hari sebelumnya. Setelah Misa pada Kamis, 6 Agustus, dan setelah Paus meninggalkan Assisi, kami akan menyerahkan kepada mereka semacam "piagam misioner."
Apa yang dimaksud dengan piagam misioner itu?
Selama beberapa hari sebelum bertemu dengan Paus, para peserta akan mengikuti berbagai lokakarya dengan beragam tema. Di satu sisi mereka diajak untuk mendengarkan, sementara di sisi lain mereka juga diberi kesempatan untuk tampil aktif dan menyampaikan pandangan mereka sendiri.
Pada akhir pertemuan, kami akan menyusun semacam rangkuman dari berbagai gagasan yang muncul dalam diskusi kaum muda. Rangkuman itu kemudian akan dijadikan dasar penyusunan sebuah piagam misioner yang dapat mereka terapkan di komunitas-komunitas lokal mereka di seluruh Eropa maupun di tempat lain.
Pertemuan dengan Paus akan menjadi puncak dari empat hari kegiatan bagi kaum muda. Menurut Anda, momen apa yang paling penting atau paling berkesan selama empat hari tersebut?
Lokakarya merupakan inti dari seluruh kegiatan ini. Pada malam pertama, kaum muda akan tiba dan mengikuti sesi pengantar yang membantu mereka memahami pengalaman yang akan mereka jalani, melalui refleksi dari Uskup Agung Assisi, Mgr. Felice Accrocca, dan Profesor Marco Erba.
Mereka akan diajak memahami kembali pengalaman Kutipan Matius tahun 1221, sebuah peristiwa penting dalam kehidupan Santo Fransiskus dan Ordo Fransiskan yang juga menjadi inspirasi bagi pertemuan tahun ini.
Selain itu akan diadakan lokakarya mengenai perdamaian, pengampunan, dan panggilan hidup. Semua itu menjadi kesempatan bagi kaum muda untuk kembali mendengarkan panggilan Allah dalam kehidupan mereka. Pada tanggal 4 Agustus mereka lebih banyak diajak mendengarkan, sedangkan pada 5 Agustus, melalui lokakarya yang lebih interaktif, mereka dapat berbicara dan mengungkapkan pengalaman serta pandangan mereka secara langsung.
Kami juga menyediakan sebuah tempat yang sangat kami cintai dan sejak awal ingin kami masukkan ke dalam rangkaian kegiatan, yakni Semak Duri Berapi, sebuah kapel doa yang dapat dikunjungi kaum muda di sela-sela lokakarya. Selama acara berlangsung juga akan diadakan adorasi Ekaristi tanpa henti di Basilika Santa Maria degli Angeli, serta tersedia kesempatan mengunjungi dua pameran.
Siapa yang menyelenggarakan kedua pameran tersebut?
Salah satunya, yang mengangkat tema Santo Fransiskus, diselenggarakan oleh kami, para Saudara Dina (Fransiskan) dari Umbria dan Sardinia. Tujuannya adalah membantu orang mengenal Santo Fransiskus dengan menyingkirkan berbagai gambaran yang selama ini dilekatkan kepadanya dan kembali kepada kata-katanya sendiri sebagaimana tertuang dalam Wasiatnya.
Pameran lainnya disiapkan oleh sekelompok mahasiswa dari Lombardia. Berangkat dari berbagai situasi perang yang terjadi di dunia, mereka menampilkan kisah orang-orang yang menghadirkan terang melalui rahmat Injil.
Acara ini ditujukan bagi kaum muda berusia 18 hingga 33 tahun, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Mengapa Anda juga mengundang mereka yang tidak beriman, dan harapan apa yang ingin dicapai?
Melihat bagaimana Santo Fransiskus terus menarik perhatian banyak orang, bahkan melampaui batas-batas iman, mendorong kami untuk berani membuka diri bagi mereka yang mungkin ingin melangkah melampaui prasangka, menemukan kembali hal-hal yang sungguh penting dalam hidup, dan mungkin berjumpa dengan Tuhan. Kami tidak tahu apakah itu akan terjadi; itulah harapan kami, tetapi tanpa membuat praduga apa pun.
Berapa banyak kaum muda yang akan ambil bagian?
Pendaftaran ditutup pada 30 Juni. Sekitar 2.150 kaum muda akan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, di samping semua orang yang akan hadir dalam Misa yang dipimpin Paus.
Sosok Santo Fransiskus mencakup banyak tema yang dekat dengan hati kaum muda: kepedulian terhadap lingkungan, relasi yang radikal dengan Kristus, kasih kepada mereka yang paling rentan, serta penghormatan terhadap perempuan. Menurut pengalaman Anda, bagaimana hubungan kaum muda dengan santo ini?
Fransiskus memiliki daya tarik yang luar biasa. Yang memikat orang kepadanya adalah kesederhanaannya, kemampuannya berbicara kepada kehidupan kaum muda seolah-olah ia adalah salah satu dari mereka, dan terutama karena ia adalah seorang pemimpi besar. Ia tidak pernah menjadi orang muda yang sekadar menerima apa yang diberikan kehidupan. Ia selalu berani melangkah lebih jauh. Itulah yang memikat begitu banyak kaum muda.
Setiap kali saya bertemu kaum muda di sini, saya senang mengajukan satu pertanyaan. Berapa pun usia mereka, saya selalu bertanya, "Apa impianmu? Apa kerinduan terbesar yang ada di dalam hatimu?" Sungguh menyedihkan ketika banyak dari mereka tidak mampu menjawabnya. Seolah-olah mereka sudah menyerah. Namun ketika mereka mendengarkan kisah hidup Santo Fransiskus, mereka melihat bahwa ia tidak pernah menyerah, melainkan selalu berani melangkah lebih jauh.
Dalam beberapa tahun terakhir, daftar buku terlaris di Italia dipenuhi karya-karya tentang Santo Fransiskus. Mengapa minat terhadap "Si Miskin dari Assisi" kini melampaui kalangan akademis dan menjangkau masyarakat luas?
Fransiskus menyentuh berbagai tema yang sangat aktual dan dekat dengan kehidupan masa kini: kepedulian terhadap ciptaan, penghormatan dalam relasi antarmanusia, serta kesadaran bahwa kita semua adalah saudara dan saudari di tengah dunia yang semakin dikuasai oleh individualisme. Semua itu merupakan tema-tema yang berbicara secara mendalam kepada manusia zaman sekarang.
Namun, ada satu risiko yang harus dihindari, yaitu membuat Santo Fransiskus seolah-olah mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak pernah ia katakan, atau memberikan kepadanya identitas yang sesungguhnya bukan miliknya.
Dalam rangka kegiatan ini, kami juga menghadirkan sebuah pameran yang sebelumnya dipamerkan pada Pertemuan Rimini tahun lalu. Pameran tersebut akan tetap dibuka di Santa Maria degli Angeli sejak dimulainya acara GO! hingga Hari Raya Santo Fransiskus. Ketika sesekali kami menjadi pemandu pameran itu, kami sering mendengar pengunjung berkata, "Kami belum pernah benar-benar mengenal Santo Fransiskus sebelumnya!"
Dapatkah Anda memberikan contoh sesuatu yang sering dikaitkan dengan Santo Fransiskus, padahal sebenarnya ia tidak pernah mengatakannya atau melakukannya?
Kidung Saudara Matahari sering ditafsirkan semata-mata sebagai nyanyian tentang ekologi, seolah-olah Fransiskus adalah tokoh pelestarian lingkungan yang terutama menempatkan makhluk ciptaan di atas segala sesuatu.
Penafsiran seperti itu kurang tepat. Ketika Fransiskus menulis kidung tersebut, ia baru saja menerima stigmata di La Verna. Pada saat yang sama, sebagian saudara seordonya telah menyingkirkannya dan tidak lagi menghendakinya sebagai Pemimpin Umum Ordo. Secara rohani, ia sedang mengalami kesendirian yang mendalam.
Kidung itu pada hakikatnya adalah madah pujian kepada Allah. Fransiskus berbicara tentang seluruh ciptaan karena semuanya memancarkan jejak Sang Pencipta. Dengan memandang ciptaan, ia melihat pantulan Allah sendiri. Pandangan inilah yang menolongnya agar tidak tenggelam dalam penderitaan dan pergumulan pribadinya.
Acara ini ditujukan bagi kaum muda Eropa. Apa yang dapat dikatakan Santo Fransiskus kepada Benua Biru pada masa sekarang?
Harapan kami, Santo Fransiskus dapat menolong kaum muda menanggapi kerinduan akan makna hidup yang mereka simpan dalam hati. Semoga ia membantu mereka terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terdalam yang mereka miliki. Mungkin sebagian dari mereka telah menemukan arah hidupnya, tetapi mereka tetap membutuhkan seorang pembimbing, seorang bapa, atau sahabat yang mendampingi perjalanan itu.
Fransiskus dapat menjadi sosok tersebut: seseorang yang mampu melampaui batas-batas konteks keagamaan dan merangkul seluruh dimensi kehidupan manusia.
