Paus Leo sedang berdoa di Borgo Laudato Si’ di Taman Kepausan Castel Gandolfo Paus Leo sedang berdoa di Borgo Laudato Si’ di Taman Kepausan Castel Gandolfo   (ANSA)

Paus Leo XIV: “Luka-luka perang melampaui medan pertempuran”

Dalam Pesannya untuk Hari Doa Sedunia ke-11 untuk Pemeliharaan Ciptaan, Paus Leo memperingatkan bahwa perang membawa konsekuensi yang menghancurkan jauh melampaui medan pertempuran. Ia mengatakan bahwa kita dipanggil untuk meneladani pemberian damai dari Tuhan dan bekerja demi perdamaian di dunia.

Oleh Deborah Castellano Lubov

“Sebagai ganti senjata perang, Allah damai sejahtera memberi kita kekuatan untuk menyembuhkan, mendamaikan, dan membangun peradaban kasih.”

Paus Leo menyampaikan hal tersebut dalam Pesannya untuk Hari Doa Sedunia ke-11 untuk Pemeliharaan Ciptaan, yang diterbitkan pada Kamis oleh Kantor Pers Takhta Suci.

BACA PESAN LENGKAP PAUS LEO XIV

Gereja memperingati Hari Doa Sedunia ini setiap 1 September, dengan tema tahun ini: “Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas” (Yesaya 2:4).

Dalam konteks ini, Bapa Suci menegaskan bahwa kita dipanggil untuk menjaga berbagai “ekosistem” yang dipercayakan kepada kita: ekosistem ciptaan, hubungan antarmanusia, dan hati manusia itu sendiri.

“Alat-alat sejati untuk membangun perdamaian,” tegas Paus Leo, “bukanlah senjata penghancur; sebaliknya, alat-alat itu adalah kebenaran, dialog, kesabaran, kebaikan, keadilan, belas kasih, pengertian, kepedulian, dan kasih,” yang mengalir dari hati yang dibentuk oleh Injil dan diteguhkan oleh rahmat Allah.

Menyembuhkan luka-luka dunia

Hanya kualitas-kualitas tersebut, ia mengakui, yang memiliki kekuatan untuk mengubah pribadi, memperbarui komunitas, dan menyembuhkan luka-luka dunia.

Bapa Suci menegaskan bahwa jalan yang terbentang di hadapan kita memang tidak mudah, tetapi arahnya jelas.

“Kita dipanggil,” katanya, “untuk membiarkan hati kita diperbarui, sehingga kita dapat mencari perdamaian dan merawat ciptaan.”

Dipanggil untuk bekerja sama dengan Allah dalam menghadapi krisis dan penderitaan

Dalam pesannya, Bapa Suci mengatakan bahwa jika kita menjalankan tugas ini dengan kerendahan hati dan iman, kita akan menjadi rekan kerja Allah dalam karya pembaruan-Nya.

Ia menyayangkan bahwa saat ini kita menyaksikan begitu banyak krisis dan penderitaan manusia. Pada saat yang sama, ia mencatat bahwa gangguan terhadap keseimbangan harmonis ciptaan tampaknya semakin cepat terjadi.

“Fenomena-fenomena ini,” lanjutnya, “tidaklah saling terpisah; semuanya merupakan satu seruan memohon penyembuhan dan perdamaian yang muncul dari dunia yang terluka.”

Tawaran damai yang unik dari Yesus

“Allah kehidupan, yang dinyatakan dalam Yesus Kristus,” Paus Leo meyakinkan, “menawarkan damai yang tidak dapat diberikan oleh dunia: ‘Damai esamen Kutinggalkan bagimu; damai esamen-Ku Kuberikan kepadamu’ (Yoh 14:27).”

Damai ini, kata Paus, “bukanlah sesuatu yang dangkal atau sementara,” tetapi “mengalir dari kasih Kristus yang abadi dan kepedulian-Nya terhadap setiap manusia.”

Namun, ia mengingatkan bahwa janji perdamaian ini sangat kontras dengan kenyataan yang kita lihat di berbagai belahan dunia.

Ia mengamati bahwa berbagai esam masih terus diarahkan pada kekerasan dan peperangan.

Kehancuran yang bertahan hingga beberapa generasi

“Perang,” keluhnya, “meninggalkan luka yang melampaui medan pertempuran,” “merenggut nyawa, memisahkan keluarga dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka, sehingga memperdalam ketakutan, ketidakadilan dan perpecahan,” serta “meninggalkan kehancuran sosial dan ekologis yang bertahan hingga beberapa generasi.”

Selain itu, kata Paus, hubungan antara konflik bersenjata dan kerusakan lingkungan sering menciptakan lingkaran setan yang menghancurkan ekosistem, mencemari sumber daya penting seperti udara dan air, serta mengancam ketahanan pangan.

Ia mengakui bahwa kenyataan ini memperburuk kemiskinan, ketimpangan, dan ketegangan sosial baru yang pada akhirnya dapat memicu munculnya konflik-konflik lainnya.

Perang menciptakan luka yang merusak

“Lebih dari itu,” katanya, “perang menciptakan luka yang merusak seluruh tatanan kehidupan, tidak hanya melukai individu dan komunitas, tetapi juga jaringan hubungan mereka dengan seluruh keluarga manusia serta keharmonisan mereka dengan ciptaan.”

Perang juga, lanjutnya, “mengungkapkan kegagalan yang lebih mendalam untuk hidup menurut gambar dan rupa Allah, menghormati kehidupan, serta merawat bumi yang dipercayakan kepada kita.”

Bapa Suci menyebut hal ini bukan hanya sebagai kegagalan politik, tetapi juga kegagalan moral dan spiritual.

“Berakar pada keinginan-keinginan yang menyimpang serta penyalahgunaan kebebasan dan kekuasaan manusia,” katanya, “perang menjadi kesaksian yang bertentangan dengan Injil perdamaian.”

Krisis-krisis tersebut, serunya, menuntut bukan hanya tanggung jawab, tetapi juga pertobatan hati yang menghasilkan kesetiaan yang lebih mendalam kepada Allah, kasih kepada esame, dan penghormatan terhadap anugerah ciptaan.

Pembaruan hati diperlukan

Paus Leo kemudian menunjukkan bahwa luka-luka akibat perang dan kerusakan bumi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi hati manusia.

“Untuk membangun esamen yang damai,” desaknya, “kita tidak hanya perlu memperbarui struktur, tetapi juga memperbarui hati kita.”

Ia mengecam bahwa “akar penyebab konflik dan eksploitasi ciptaan berasal dari krisis etika dan budaya, termasuk hilangnya rasa akan batas-batas, keinginan untuk mendominasi, pengejaran keuntungan jangka pendek, serta ketidakmampuan untuk mengakui martabat setiap manusia yang diberikan oleh Allah.”

Karena itu, ia mengatakan bahwa melalui kerja sama dengan esame Allah, diperlukan pertobatan pribadi dan bersama yang lebih mendalam—sebuah esame kepada Allah yang akan menata esame keinginan-keinginan kita, menyembuhkan luka-luka kita, dan membantu kita bertumbuh dalam esamen.

“Tanpa transformasi batin ini,” tegasnya, “perdamaian akan tetap rapuh dan berumur pendek. Namun, ketika hati diperbarui, berbagai kemungkinan baru mulai terbuka.”

Jalan menuju pertobatan ekologis yang autentik

“Apa yang telah digunakan untuk kehancuran,” renungnya, “dapat diarahkan esame kepada kehidupan, kepada kepedulian terhadap kaum miskin, memberi makan mereka yang lapar, dan menjaga ciptaan.”

Dengan demikian, inilah jalan menuju pertobatan ekologis yang autentik, “ketika dampak perjumpaan kita dengan Yesus Kristus menjadi nyata dalam hubungan kita dengan dunia di sekitar kita.”

Menurut Paus, perdamaian dimulai dari hati dan kemudian mengalir keluar menuju hubungan kita dengan esame, komunitas, dan dunia yang lebih luas.

Meskipun tantangan yang dihadapi “sangat besar”, Paus Leo meyakinkan bahwa Allah tidak meninggalkan kita tanpa sarana untuk mengalami penyembuhan dan transformasi.

Pada akhirnya, ia berdoa:

“Semoga Tuhan memberi kita keberanian untuk berjalan di jalan ini, sehingga pada zaman kita, pedang-pedang benar-benar dapat ditempa menjadi mata bajak, janji Injil semakin berakar dalam dunia kita, dan damai Kristus merajai seluruh ciptaan.”

20 Aug 2026, 12:06