Cari

Paus Leo ketika berkunjung ke Kepulauan Canary Paus Leo ketika berkunjung ke Kepulauan Canary   (ANSA)

Paus Leo XIV: “Jeritan anak-anak yang terlantar naik dan terusir sampai kepada Allah”

Dalam Pesan untuk Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-112, yang akan diperingati tanggal 27 September 2026 dengan tema “Bahkan hanya seorang dari anak-anak ini”, Paus Leo XIV mengatakan bahwa jeritan anak-anak yang terlantar menggugah hati nurani semua orang.

Oleh Deborah Castellano Lubov

“Jeritan anak-anak yang terlantar dan terusir sampai kepada Allah hari ini.” Demikian disampaikan Paus Leo XIV dalam Pesannya untuk Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-112, yang akan diperingati Gereja pada 27 September. Pesan tersebut dirilis hari ini oleh Kantor Pers Takhta Suci.

Tema Hari Migran dan Pengungsi Sedunia tahun ini adalah “Bahkan seorang dari anak-anak ini”, yang diambil dari Injil menurut Santo Matius.

Paus Leo XIV mengawali Pesannya dengan menegaskan bahwa tema “Bahkan meskipun hanya  seorang dari anak-anak ini mengarahkan perhatian kita kepada anak-anak yang secara langsung mengalami migrasi dan pelarian, kepada tanggung jawab untuk merawat mereka, serta kepada janji Tuhan: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mrk 9:37).

Anak anak di bawah umur kelompok paling rentan

Bapa Suci mengingatkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan dalam arus migrasi global. Ia juga menegaskan bahwa penderitaan yang dialami anak-anak migran tidak berakhir ketika mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ia mengenang anak-anak yang masih sangat kecil yang telah kehilangan orang tua, saudara kandung, maupun teman-teman mereka, serta mereka yang telah menyaksikan tindakan kekerasan yang tak terlukiskan.

Ada pula anak-anak yang terpisah dari keluarga mereka dalam jangka waktu yang lama. Bahkan mereka yang melakukan perjalanan bersama orang tua pun tidak luput dari kondisi yang sangat berat dan traumatis.

“Pada akhirnya,” lanjut Paus, “kita tidak boleh melupakan situasi tragis mereka yang terpisah dari orang tua akibat pemulangan ke negara asal.”

Paus juga mengecam banyaknya korban jiwa di sepanjang jalur migrasi, perdagangan dan eksploitasi manusia, perekrutan anak-anak untuk digunakan dalam konflik bersenjata, kekerasan seksual, perkawinan paksa, serta berbagai kekejaman yang mereka alami atau saksikan selama perjalanan.

Martabat yang direndahkan

“Martabat mereka,” katanya, “diinjak-injak dengan berbagai cara.”

Namun, di tengah begitu banyak kegelapan, Paus Leo menyampaikan penghargaan kepada banyak orang, keluarga, lembaga-lembaga sipil, dan komunitas gerejawi yang “memilih untuk tidak melewati begitu saja” mereka yang menderita, melainkan memberikan solidaritas.

Menghadapi kenyataan tragis tersebut, Paus mengatakan bahwa pikirannya tertuju pada perkataan Yesus yang secara mendalam menantang hati nurani kita: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

Paus menegaskan bahwa persoalannya bukanlah angka atau statistik.

“Injil,” katanya, “mengundang kita untuk tidak menghitung:  meski hanya seorang saja. setiap anak, setiap manusia, memiliki martabat yang tak terhingga.”

Tindakan kemanusiaan dan iman

“Di hadapan setiap anak migran,” tegasnya, “kita dipanggil untuk melakukan suatu tindakan kemanusiaan dan iman, karena kita dapat menyambut dan berjumpa dengan Tuhan.”

Paus menyayangkan bahwa anak-anak migran sering kali lebih mudah diabaikan karena mereka tidak memiliki orang dewasa yang mampu melindungi dan mendukung mereka.

Karena itu, ia menegaskan bahwa “kita perlu melakukan intervensi di negara-negara asal mereka untuk menghilangkan penyebab yang memaksa mereka melarikan diri, sekaligus memberikan perlindungan dan sambutan di negara-negara transit maupun negara tujuan.”

“Jeritan anak-anak yang terlantar dan terusir sampai kepada Allah hari ini, sebagaimana dahulu jeritan yang terdengar dalam Kitab Keluaran,” katanya. Ia menambahkan, “Kita tidak boleh tetap acuh tak acuh dan tidak boleh membiasakan diri dengan penderitaan seperti ini.”

Sementara itu, di dalam  kehidupan pribadi kita, lanjutnya, kita dipanggil untuk membuka mata dan hati guna mendengarkan secara mendalam kisah, ketakutan, dan impian mereka,” serta mengatasi sikap menjaga jarak yang membuat manusia hanya dipandang sebagai statistik yang tidak secara langsung berkaitan dengan kehidupan kita.

“Ini merupakan sebuah undangan,” demikian Paus menegaskan, “untuk mengakui martabat setiap anak, bahkan sebelum melihat statusnya sebagai seorang ‘migran’, serta melindungi hak-hak dasarnya: hak untuk hidup, hak memperoleh pendidikan, dan hak atas taraf hidup yang memungkinkan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial secara penuh.”

Seruan menghadapi fenomena ini

Dalam kehidupan Gereja, kata Paus, kita dipanggil “untuk mengubah penyambutan dari sebuah konsep abstrak” menjadi “praktik pastoral yang berkesinambungan.”

Bapa Suci mengatakan bahwa tugas ini tidak dapat begitu saja diserahkan kepada lembaga-lembaga atau organisasi yang memiliki kharisma khusus.

“Di hadapan wajah-wajah nyata yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari,” serunya, “seluruh komunitas Kristiani dipanggil untuk memandang anak-anak ini sebagai putra dan putri mereka sendiri serta terlibat dalam kisah nyata masing-masing dari mereka.”

Komunitas-komunitas Kristiani, katanya, hendaknya didorong untuk memajukan integrasi para pengungsi dan migran serta menghargai mereka sebagai anggota penuh keluarga Gereja.

“Bahkan  meskipun hanya seorang dari anak-anak ini, dalam cakrawala berbagai agama,” lanjut Paus, “mengingatkan kita bahwa kerentanan kaum muda tidak mengenal batas agama dan menyatukan kita dalam tanggung jawab kemanusiaan dan spiritual yang sama.”

Menurut Paus, hal ini menjadi lahan yang subur bagi dialog antaragama yang konkret. Dalam dialog tersebut, umat beriman, dengan bertolak dari keyakinan mereka masing-masing akan dimensi transenden, dapat bekerja sama membangun jaringan perlindungan.

“Komunitas-komunitas beriman,” katanya, “dipanggil untuk menciptakan ruang-ruang di mana setiap anak laki-laki dan setiap anak perempuan dihormati dan dihargai dalam identitas budaya mereka masing-masing,” sehingga mencegah risiko mereka menjadi sasaran radikalisasi oleh kelompok-kelompok ekstremis.

Diperlukan perubahan perspektif yang mendesak

“Bahkan meskipun hanya seorang dari anak-anak ini, dalam konteks lembaga-lembaga sipil,” lanjut Paus, “memanggil kita untuk menegaskan kembali prinsip kepentingan terbaik bagi anak.”

Kepada lembaga-lembaga publik dan swasta, yang “berkewajiban mengutamakan perlindungan dan martabat setiap anak dan remaja,” Paus mengatakan bahwa hal tersebut “menuntut penerapan instrumen hukum yang efektif untuk perlindungan, mendorong reunifikasi keluarga, serta mencegah trauma yang ditimbulkan oleh perpisahan.”

“Diperlukan perubahan perspektif yang mendesak,” katanya. “Fokus perdebatan harus bergeser dari sekadar mengelola migrasi menuju perlindungan penuh dan segera terhadap hak-hak asasi manusia, dengan menerapkan sebuah ‘tanggapan yang terkoordinasi, penuh dukungan dan efektif, yang mampu menjamin perlindungan, penyambutan, dan kesempatan nyata untuk integrasi bagi mereka yang bermigrasi.’”

Paus Leo XIV mengakhiri Pesannya dengan doa:

“Marilah kita mempercayakan anak-anak migran dan pengungsi kepada perlindungan keibuan Santa Perawan Maria, yang bersama Santo Yosef dan kanak-kanak Yesus mengalami kekejaman kekerasan Herodes dan tragedi pengasingan di Mesir.”

“Semoga Maria menyertai langkah-langkah mereka dan membantu komunitas-komunitas kita menjadi tanda-tanda Injil yang hidup dan dapat dipercaya.” 

14 Aug 2026, 12:22