Paus Leo: 'Saya mengikuti dengan prihatin situasi yang mengkhawatirkan di Ceuta'
Oleh Deborah Castellano Lubov
"Saya mengikuti dengan prihatin situasi yang mengkhawatirkan di Ceuta, seraya memohon kepada Allah, melalui perantaraan Bunda Maria dari Afrika, agar ditemukan solusi yang membawa perdamaian, stabilitas, dan keadilan."
Seruan itu disampaikan Paus Leo XIV dalam bahasa Spanyol setelah mendaraskan doa Angelus pada hari Minggu di Vatikan.
Kota otonom Spanyol Ceuta, yang terletak di pesisir utara Afrika dan berbatasan dengan Maroko, saat ini menghadapi keadaan darurat migrasi yang serius.
Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ribu orang berusaha memasuki wilayah tersebut dari Maroko, sehingga fasilitas penampungan kewalahan dan pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan pasukan keamanan.
Di tengah krisis ini dan berbagai upaya penyeberangan laut yang berbahaya, sedikitnya 67 orang dilaporkan meninggal dunia. Menurut Reuters, sebagian besar korban tenggelam di laut atau tewas akibat desak-desakan saat penyeberangan yang berlangsung kacau.
Doa agar perang segera berakhir
Selanjutnya, Paus mengarahkan perhatian kepada semua orang yang menderita akibat perang.
"Mari kita terus berdoa memohon perdamaian, agar peperangan di seluruh dunia segera berakhir dan solusi diplomatik bagi setiap konflik dapat ditemukan," ujarnya.
Secara khusus, beliau mengenang para korban permusuhan, terutama "mereka yang paling lemah dan tak berdaya", seraya mendoakan anak-anak, para lanjut usia, dan mereka yang sakit.
Paus Leo juga berdoa agar Tuhan "menghibur mereka yang menderita serta memberkati karya semua orang yang membawa bantuan dan penghiburan."
Pengampunan Assisi
Pada akhir sambutannya, Paus mengingatkan bahwa akhir pekan ini Gereja merayakan Pengampunan Assisi, dan mengajak umat beriman untuk bersyukur atas anugerah rohani yang besar ini serta menghargainya dengan sepenuh hati.
Pengampunan Assisi adalah indulgensi penuh yang secara tradisional dikaitkan dengan Santo Fransiskus dari Assisi. Indulgensi ini dapat diperoleh dengan menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi, mengunjungi gereja paroki atau gereja Fransiskan, mendaraskan Syahadat, Doa Bapa Kami, serta mendoakan Bapa Suci dan intensi-intensinya.
Tradisi Pengampunan Assisi bermula pada tahun 1216, ketika Yesus Kristus, Santa Perawan Maria, dan para malaikat menampakkan diri kepada Santo Fransiskus di Porziuncola, kapel kecil yang dibangunnya di kota Assisi, Italia.
Ketika Yesus bertanya apa yang diinginkannya demi keselamatan jiwa-jiwa, Santo Fransiskus memohon agar Allah berkenan menganugerahkan indulgensi penuh kepada semua orang yang memasuki kapel tersebut.
Kemudian, rahmat indulgensi ini diperluas bagi siapa saja yang mengunjungi gereja paroki atau gereja Fransiskan pada tanggal 1 atau 2 Agustus.
