Paus Dorong Kaum Muda di Medjugorje Temukan Kembali Keindahan Berjumpa dengan Tuhan
Oleh Edoardo Giribaldi
Janji-janji tentang kebahagiaan yang mudah dan instan memang tampak menarik. Namun, semua itu sering kali berlalu tanpa meninggalkan makna yang bertahan lama. Yang tersisa justru pertanyaan-pertanyaan mendalam, kegelisahan yang berdiam di dalam hati manusia, serta kerinduan akan sukacita yang sejati dan abadi. Dari kerentanan inilah perjalanan iman yang autentik dapat dimulai melalui perjumpaan dengan Allah, "yang memuaskan setiap hati dan memberi kekuatan untuk selalu memulai kembali."
Inilah inti pesan Paus Leo XIV yang disampaikan melalui Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin kepada kaum muda dari 73 negara yang berkumpul di Medjugorje untuk pembukaan Mladifest, festival kaum muda internasional. Festival yang dimulai pada 1989 itu diselenggarakan setiap tahun, sementara perayaan Ekaristi berlangsung di altar terbuka Paroki Santo Yakobus.
Berjumpa dengan Tuhan yang memuaskan setiap hati
Pesan tersebut dibacakan oleh Uskup Agung Aldo Cavalli, Visitator Apostolik dengan penugasan khusus untuk Paroki Medjugorje, sesaat sebelum Misa yang dipimpin Uskup Agung Francis Assisi Chullikatt, Duta Besar Takhta Suci untuk Bosnia dan Herzegovina serta Montenegro.
Dalam pesannya, Paus mengajak kaum muda kembali ad fontem—kepada Kristus, sumber kehidupan baru dan sukacita sejati. Melalui doa, mendengarkan Sabda Allah, dan sakramen-sakramen, mereka diajak menemukan kembali "keindahan perjumpaan pribadi dengan Tuhan, yang memuaskan setiap hati dan memberi kekuatan untuk selalu memulai kembali."
Mencari kebenaran yang memerdekakan
Paus juga mendorong kaum muda untuk dengan tulus mencari "kebenaran yang memerdekakan", tanpa membiarkan diri diperdaya oleh "ilusi kebahagiaan yang sementara". Dengan mengikuti Yesus, katanya, setiap orang dapat menerima bahkan pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit maupun kegelisahan hati sebagai kesempatan untuk membedakan kehendak Tuhan dan bertumbuh dalam iman.
Percaya kepada Roh Kudus dan Maria
Pesan tersebut ditutup dengan ajakan agar kaum muda membiarkan diri mereka "dituntun oleh Roh Kudus" serta mempercayakan diri kepada perantaraan Bunda Maria, sehingga mereka dapat menjadi "saksi Injil yang bercahaya, penggerak persaudaraan, dan pembangun perdamaian di tengah masyarakat."
