Cari

Paus Leo menyapa orang orang muda setibanya di Asisi Paus Leo menyapa orang orang muda setibanya di Asisi   (@Vatican Media)

Paus di Assisi: Bangunlah Peradaban Kasih, Bukan Perpecahan

Di Basilika Santa Maria degli Angeli, pemberhentian pertama dalam kunjungan pastoralnya, Paus Leo menjawab berbagai pertanyaan dari kaum muda. Ia menegaskan bahwa radikalisme Injil adalah "kebalikan dari fundamentalisme: radikalisme Injil tidak membuat kita buta dan penuh kekerasan, melainkan peka, penuh perhatian, serta terbuka untuk menerima semua orang."

Oleh Antonella Palermo

Bagaimana warisan rohani Santo Fransiskus dari Assisi dapat dihidupi pada masa kini? Bagaimana kita dapat menghayati semangat pelayanan dan keramahtamahan di dunia yang semakin diwarnai penindasan dan konsumerisme? Dan bagaimana kita tetap menaruh kepercayaan kepada Gereja yang juga mengalami krisis dan berbagai kontradiksi?

Itulah beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Paus oleh tiga orang muda. Mereka menyuarakan kegelisahan yang bukan hanya dirasakan oleh generasi mereka sendiri, tetapi juga oleh banyak orang lainnya.

Paus Leo memulai kunjungan pastoralnya ke kota Assisi di wilayah Umbria dengan bertemu kaum muda di Santa Maria degli Angeli. Menanggapi setiap pertanyaan secara mendalam, beliau kembali menegaskan beberapa prinsip penting: agama tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan politik, sementara kepemimpinan harus membebaskan, bertanggung jawab, dan merangkul semua orang.

Melawan Arus: Menyembuhkan Kenangan dan Membangun Rekonsiliasi

Karolina, seorang peserta dari Zagreb, menjadi penanya pertama. Ia bertanya bagaimana seseorang dapat tetap menjadi murid Kristus yang autentik dan membagikan iman yang hidup, yang tidak hanya berhenti di dalam tembok gereja.

Menanggapi pertanyaan itu, Paus kembali menyinggung tema perang. Ia mengingatkan bahwa Karolina berasal dari "sebuah kawasan di Eropa yang hanya tiga puluh tahun lalu mengalami perang, sekaligus mengalami bahaya ketika identitas keagamaan bercampur dengan nasionalisme."

Menurut Paus, komitmen panjang Ordo Fransiskan dalam membangun dialog di kawasan tersebut telah membantu umat Katolik, Kristen Ortodoks, dan Muslim hidup berdampingan secara damai. Inilah jalan yang, menurut beliau, harus terus ditempuh.

"Saat ini, setia pada tradisi kedekatan itu berarti berani melawan arus, berupaya menyembuhkan kenangan masa lalu, dan membangun rekonsiliasi. Umat Kristiani semakin dipanggil untuk menjadi pembawa damai di tengah masyarakat yang tergoda memanfaatkan agama dalam konflik berbagai identitas."

Karolina menjabat tangan Paus Leo
Karolina menjabat tangan Paus Leo   (@Vatican Media)

Misinformasi dan Prasangka Menimbulkan Ketakutan; Kristus Membuka Hati

Untuk hidup sebagai putra-putri rohani Santo Fransiskus dari Assisi, Paus menegaskan bahwa hal itu berarti memahami makna sejati dari radikalisme Injil.

"Radikalisme Injil adalah kebalikan dari fundamentalisme: radikalisme Injil tidak membuat kita buta dan penuh kekerasan, tetapi menjadikan kita peka dan penuh perhatian, selalu mengikuti Yesus, sehingga tetap rendah hati dan terbuka menerima setiap orang. Memang tidak mudah, tetapi itulah yang membawa sukacita yang besar."

Menurut Paus, menempuh jalan ini terkadang berarti mengambil pilihan-pilihan yang tidak nyaman atau tidak populer, sambil menolak segala bentuk manipulasi.

"Bersaksi tentang Kristus tetap merupakan sesuatu yang menarik sekaligus menuntut, karena kesaksian itu membuka pikiran dan hati kita melampaui batas-batas buatan manusia—melampaui ketakutan yang lahir dari misinformasi dan tembok-tembok prasangka."

Teknologi Membuat Kita Lupa Cara Hidup Bersama

Paus Leo kemudian merenungkan pandangan Santo Fransiskus bahwa kemiskinan justru dapat mendekatkan orang-orang, bahkan ketika mereka tampak saling berjauhan.

Beliau mengingatkan kembali makna menjadi Gereja: sebuah rumah yang terbuka bagi semua orang, sebuah komunitas yang mau mendengarkan dan mengalami sukacita persaudaraan. Gereja juga merupakan tempat di mana orang kembali menemukan makna kebersamaan secara nyata, melampaui dunia virtual, serta kembali menghargai keheningan yang, menurut Paus, "merupakan kebalikan dari perang dengan segala kekerasan, teriakan, dan kekejamannya."

"Saudara-saudari muda terkasih, betapa indahnya dapat berkumpul bersama dan 'berbicara tentang Allah', serta dalam terang-Nya berbicara tentang kehidupan, dengan segala keindahan, misteri, dan kesungguhannya!"

Beliau kemudian mendorong kaum muda untuk menjadi saksi cara hidup seperti itu di mana pun mereka berada.

"Berikanlah kesaksian tentang cara hidup ini, terutama pada masa ketika teknologi membuat kita perlahan-lahan lupa bagaimana hidup bersama sebagai manusia yang sungguh nyata, dengan tubuh dan darah."

Giovanni mendengarkan Paus Leo menjawab pertanyaannya
Giovanni mendengarkan Paus Leo menjawab pertanyaannya   (@Vatican Media)

Mengucapkan "ya" untuk menjadi Paus

Menanggapi pertanyaan Giovanni, Paus Leo membagikan sekilas perjalanan pribadinya.

Ia menjelaskan bahwa setiap keputusan harus diperbarui setiap hari, dan bahwa panggilan hidup merupakan "sebuah perjalanan penebusan dan penyembuhan." Panggilan itu menuntut komitmen setiap hari serta kewaspadaan terus-menerus terhadap dosa yang dapat mengaburkan penilaian seseorang.

"Dari pengalaman saya, saya dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya sendirian. Ia selalu menyertai saya, juga dengan menghadirkan orang-orang yang berjalan bersama saya. Dalam panggilan saya sebagai imam, anggota komunitas Ordo Santo Agustinus, dan misionaris, saya menemukan terang yang menuntun saya hingga hari ini, sampai akhirnya saya harus mengatakan 'ya' kepada panggilan yang sangat istimewa: menjadi Paus."

"Tuhan tidak pernah meninggalkan saya sendirian," tegas Paus.

Tembok-tembok tak kasatmata yang memisahkan kota-kota kita

Luigi, seorang pemuda berusia 22 tahun dari Sisilia, bertanya tentang ketaatan kepada Penerus Santo Petrus, terutama ketika hal itu terasa sulit atau ketika muncul skandal di dalam Gereja. Bagaimana, tanyanya, seseorang dapat tetap tinggal dalam "Kasih yang menyembuhkan" itu?

Paus Leo XIV menegaskan bahwa persatuan sangat dekat dengan hati Yesus. Paus, yang menjadikan persatuan sebagai tema moto episkopalnya, menggambarkannya sebagai sesuatu yang "revolusioner." Meskipun Gereja memiliki kegagalan dan luka-luka, persatuan itu, katanya, tetap mungkin diwujudkan dan nyata terlihat.

"Di sekitar Yesus, laki-laki dan perempuan yang sebelumnya tidak pernah bertemu atau menghabiskan waktu bersama menjadi saudara dan saudari. Ketika mukjizat Gereja ini terus terjadi, syukur kepada Allah, hal itu tetap mengagumkan bahkan di kota-kota kita yang dipenuhi tembok-tembok tak kasatmata yang memisahkan orang satu sama lain. Betapa banyak bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan dapat segera berakhir ketika kita saling mengakui sebagai saudara dan saudari."

Luigi mendengarkan Paus Leo
Luigi mendengarkan Paus Leo   (@Vatican Media)

Kuasa Yesus tidak merendahkan, tetapi mengangkat

Jawaban Paus membalikkan logika dunia, sejalan dengan kata-kata Magnificat.

Kuasa sejati, jelasnya, tidak diukur dari kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, melainkan dari kesediaannya melayani sesama dengan kerendahan hati.

"Bukan merampas, melainkan menerima; bukan menggenggam erat, melainkan mengembalikan: inilah kehidupan Allah, yang menyembuhkan Gereja dan menjadikannya umat yang merdeka, tempat di mana orang dapat bernapas dan menemukan keselamatan."

Menutup jawabannya, Paus menegaskan bahwa keinginan Yesus bagi Gereja sangat jelas: Gereja harus menjadi Tubuh-Nya dan menghadirkan kehidupan-Nya. Itu berarti mengikuti teladan-Nya dan menjalankan kekuatan yang berbeda—kekuatan yang tidak merendahkan, melainkan mengangkat orang lain.

06 Aug 2026, 09:50