Cari

Paus Leo menyapa para peziarah sebelum Audiensi Umum Paus Leo menyapa para peziarah sebelum Audiensi Umum   (@VATICAN MEDIA)

Paus dalam Audiensi Umum: Doa adalah tindakan pengharapan

Paus Leo menyampaikan katekese kelimanya mengenai Sacrosanctum Concilium, Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi. Dalam katekese tersebut, beliau merefleksikan dimensi eklesial doa liturgi dan menggambarkan liturgi sebagai "tempat perjumpaan, tempat Allah berinisiatif mendekati umat manusia melalui Putra-Nya."

Vatican News

Paus Leo kembali mengadakan Audiensi Umum hari Rabu, 5 Agustus, setelah beberapa pekan beristirahat di Castel Gandolfo. Di hadapan ribuan umat beriman yang berkumpul di Basilika Santo Petrus, Bapa Suci melanjutkan refleksinya mengenai Konstitusi Sacrosanctum Concilium, dengan menyoroti pentingnya doa liturgi.

"Mengikuti ajaran Rasul Paulus, Roh Kuduslah yang mengajarkan kita berdoa," kata Paus. "Sejak hari Pentakosta, Roh Kudus tinggal di dalam Gereja, mengilhami setiap kegiatannya, terutama doa." Sejak saat itu, lanjut beliau, Gereja "tidak pernah berhenti berkumpul untuk merayakan misteri Paskah."

Menemukan kembali hakikat doa

"Dalam zaman kita," lanjut Paus, "di tengah pola pikir yang didominasi oleh tuntutan efisiensi dan konsumerisme, doa dapat tampak tidak berguna dan sepele."

Di dunia "di mana ilmu pengetahuan dan teknologi mengklaim mampu memberikan semua jawaban", berdoa dapat dianggap sebagai bentuk pelarian atau sekadar teknik psikologis untuk mencapai kesejahteraan pribadi. Namun, Paus menegaskan bahwa doa "layak ditemukan kembali dalam hakikatnya yang sejati."

Tempat perjumpaan dengan Allah

Konstitusi Sacrosanctum Concilium menanggapi kebutuhan tersebut dengan sungguh-sungguh. Dokumen konsili itu menegaskan bahwa istilah "doa" menunjuk pada liturgi secara keseluruhan. Menurut Bapa Suci, perspektif ini sangat menentukan karena "menjadi pedoman pembaruan liturgi dengan menjadikan partisipasi aktif umat beriman sebagai pilar utamanya."

Liturgi, lanjut Paus, pertama-tama merupakan "tempat perjumpaan, tempat Allah berinisiatif mendekati umat manusia melalui Putra-Nya."

Menguduskan kehidupan sehari-hari

Setiap minggu dan setiap hari, Ekaristi serta Ibadat Harian merupakan "nafas kehidupan Gereja yang membuat Roh Kudus mengalir ke seluruh Tubuh-Nya," kata Paus. Dalam doa itu, Kristus "mempersatukan seluruh umat manusia dengan diri-Nya dan mengikutsertakan mereka dalam kidung pujian ilahi yang dinyanyikan-Nya."

"Berakar pada Ekaristi, yang cahayanya terus dipancarkan, Ibadat Harian menguduskan waktu dalam kehidupan kita sehari-hari," ujar Paus Leo, sebelum menjelaskan berbagai waktu doa: "Pada pagi hari kita memulai hari dengan iman dan syukur; pada tengah hari kita memohon kekuatan untuk tetap setia dalam pekerjaan; pada sore hari, setelah tugas selesai, Ibadat Sore mengiringi saat matahari terbenam; dan pada malam hari kita tertidur sambil menyerahkan diri kepada damai Allah."

Mengakhiri katekesenya, Paus Leo menegaskan bahwa "setiap jam doa adalah tindakan pengharapan," dan bahwa "selama peziarahan kita di dunia ini, kita berjaga bersama seluruh Gereja sambil menantikan kedatangan Tuhan yang mulia."

05 Aug 2026, 11:27