Cari

Paus: Bahkan dalam Saat-Saat Paling Gelap, Yesus Tidak Meninggalkan Kita

Dalam renungan Angelus mingguan, Paus Leo mengatakan kepada ribuan peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus bahwa “kehadiran Yesus mengubah segalanya”.

Oleh Françoise Niamien

Berbicara kepada umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk doa Angelus hari Minggu, Paus Leo merefleksikan bacaan Injil hari itu, yang menggambarkan bagaimana Yesus “datang kepada murid-murid-Nya di tengah badai dengan berjalan di atas air” (bdk. Mat 14:22-33).

BACA TEKS PIDATO BAPA PAUS LEO XIV

“Jangan takut”

Pemandangan tersebut, yang seharusnya menenangkan para murid, justru membuat mereka semakin ketakutan. Dalam situasi penuh kecemasan itu, Kristus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

“Kehadiran Tuhan mengubah segalanya,” jelas Paus Leo. “Petrus bahkan berhasil melangkah beberapa langkah di atas gelombang untuk menghampiri-Nya; kemudian ia menjadi takut, mulai tenggelam, dan Yesus menyelamatkannya.”

Karena itu, perikop Injil tersebut menunjukkan pentingnya untuk tidak takut dan tidak pernah mengalihkan pandangan kita dari Yesus.

Para peziarah berkumpul di lapangan Santo Petrus
Para peziarah berkumpul di lapangan Santo Petrus   (@VATICAN MEDIA)

Kekuatan iman

Paus Leo mengatakan bahwa pengalaman tersebut melahirkan pengakuan iman dari hati para murid: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah!”

Paus menghubungkan pengakuan iman tersebut dengan kisah lain dalam Injil Matius, ketika Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman dan tidak bimbang, [...] kamu akan dapat berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut, hal itu akan terjadi” (Mat 21:21).

Menurut Paus, inilah yang dialami para murid di danau: damai Kristus menjangkau mereka di tengah gelombang air yang mengamuk.

Jangan pernah merasa diri paling hebat

Paus Leo menarik dua pelajaran dari mukjizat tersebut. Pertama, “jangan menjadi sombong ketika mengalami keberhasilan”.

Kedua, “jangan berputus asa, bahkan dalam saat-saat gelap ketika kita merasa tidak berdaya menghadapi berbagai persoalan dan, meskipun telah berusaha, kita merasa seolah-olah justru bergerak mundur, bukan maju”.

“Dalam segala keadaan,” kata Paus, “Yesus tidak meninggalkan kita dan, jika dengan rendah hati kita menyambut-Nya ke dalam perahu kehidupan kita—melalui doa, sakramen, dan mendengarkan Sabda-Nya—kita akan menemukan dalam diri-Nya damai, terang, dan kekuatan bagi perjalanan kita.”

Paus mengakhiri renungannya dengan berdoa agar “Perawan Maria membantu kita menjalani kehidupan seperti ini, dengan penyerahan penuh kepercayaan kepada Allah, dia yang disebut berbahagia karena imannya”.

09 Aug 2026, 13:41