Tema Hari Perdamaian Sedunia ke-60: Melucuti Teknologi demi Perdamaian
Oleh Alessandro Di Bussolo dan Kielce Gussie
Tanggal 1 Januari 2027 menandai peringatan Hari Perdamaian Sedunia ke-60. Paus Leo XIV memilih tema "Melucuti Teknologi, Melayani Perdamaian: Politik sebagai Tanggung Jawab Preventif". Melalui tema tersebut, Paus ingin menyoroti tanggung jawab moral mereka yang dipanggil untuk menjalankan tugas di bidang politik.
Paus Leo juga mengajak umat manusia untuk memajukan martabat setiap orang dan membantu membangun perdamaian, yang menurutnya harus dimulai dengan "melucuti teknologi".
Mengacu pada ensikliknya, Magnifica humanitas no. 198—"tidak ada algoritma yang mampu membuat perang dapat diterima secara moral"—Paus Leo memperingatkan risiko yang muncul dari penggunaan kecerdasan buatan untuk mengambil keputusan militer.
Ia menyampaikan seruan yang sungguh-sungguh kepada seluruh komunitas internasional agar membangun "kesepakatan bersama yang mampu melindungi tanggung jawab manusia dan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam situasi ketika kehidupan manusia dan hidup berdampingan secara damai di antara bangsa-bangsa dipertaruhkan."
Memperkenalkan ensiklik
Ketika memperkenalkan dokumen tersebut pada 25 Mei di Aula Sinode Baru, Paus menyampaikan bahwa dokumen yang hampir mencapai 200 halaman itu merupakan hasil refleksi Takhta Suci mengenai teknologi baru dan kecerdasan buatan.
Menurut Paus, teknologi dan kecerdasan buatan kini menyentuh "banyak bidang kehidupan kita", memengaruhi berbagai keputusan, dan "secara radikal mengubah cara perang dilakukan".
"Kecerdasan buatan harus dilucuti"
Dari refleksi tersebut lahir sebuah keyakinan yang oleh Paus Leo sendiri disebut "mengusik". Keyakinan tersebut menjadi benang merah ensikliknya: "Kecerdasan buatan harus dilucuti."
"Saya tahu kata-kata ini kuat," kata Paus Leo. Namun, ia menjelaskan bahwa kata tersebut dipilih dengan sengaja karena situasi saat ini membutuhkan kata-kata yang mampu menarik perhatian, membangunkan hati nurani, dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh umat manusia.
Teknologi tidak boleh melemahkan daya kritis
Paus Leo menegaskan bahwa selama ini Gereja telah berkomitmen pada perlucutan senjata nuklir sebagai sebuah "pelayanan bagi perdamaian dan martabat keluarga manusia".
Dalam pengertian serupa, menurutnya, kecerdasan buatan kini juga perlu dilucuti, karena, seperti energi nuklir, teknologi tersebut harus melayani semua orang dan kebaikan bersama.
"Keputusan-keputusan mengenai teknologi tidak boleh pernah dipisahkan dari hati nurani dan tanggung jawab."
Dalam Magnifica humanitas, Paus merefleksikan bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan keadilan yang diwujudkan dalam tindakan.
Namun, ketika teknologi melemahkan daya kritis manusia, perdamaian itu sendiri berada dalam bahaya. Karena itu, melucuti senjata saja tidak cukup. Kita harus membangun.
Mengarahkan AI bagi kebaikan bersama
Paus kemudian mengenang pengalamannya selama menjalankan pelayanan misioner di Peru setelah terjadi banjir. Dari pengalaman tersebut, katanya, ia belajar bahwa membangun kembali tidak sekadar berarti mengganti apa yang telah hancur.
"Membangun kembali berarti memperbaiki ikatan, memulihkan kepercayaan, dan menyalakan kembali harapan akan masa depan. Selain itu, tidak seorang pun membangun kembali sendirian."
Hanya melalui visi yang integral seperti itulah kecerdasan buatan dapat diarahkan bagi kebaikan bersama.
Hanya dengan bekerja bersama—mereka yang merancang sistem dan mereka yang menanggung akibatnya, negara-negara kaya dan miskin, lembaga dan individu, pusat-pusat kekuasaan dan kelompok-kelompok yang berada di pinggiran—manusia dapat membangun masa depan bukan hanya bagi segelintir orang yang memiliki keistimewaan, melainkan bagi seluruh keluarga manusia.
