Dalam Sebuah Audiensi, Paus : Musik Sakral untuk Muliakan Allah dan Kuduskan Umat Beriman
Oleh Deborah Castellano Lubov
Paus Leo XIV melanjutkan rangkaian refleksinya mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium. Pekan ini, ia berfokus pada bab keenam dari dokumen tersebut, yang didedikasikan untuk musik sakral.
Dalam katekese tersebut, Paus Leo mengamati bahwa Konstitusi menyatakan bahwa “tradisi musik Gereja universal merupakan harta yang tak ternilai, bahkan lebih besar daripada bentuk seni lainnya.”
Musik sakral, katanya, “merupakan bagian dari tindakan liturgis dan bukan sekadar bagian dekoratif dari perayaan.”
Ungkapan Doa dan Iman
Paus mengamati bahwa bernyanyi dan memainkan musik sakral dalam liturgi “berarti berdoa, menyelaraskan hati seseorang dengan hati saudara-saudari kita dan dengan Allah, melalui partisipasi aktif dalam misteri yang sedang dirayakan.”
Mengingat bahwa musik mengungkapkan dimensi afektif dari doa, Paus Leo mengutip perkataan Santo Agustinus, “Cantare amantis est,” yang diterjemahkan sebagai “bernyanyi adalah milik mereka yang mengasihi.”
“Hal ini,” refleksi Paus, “sangat penting karena membantu kita membuka hati terhadap karya Allah dalam rahmat dan membiarkan diri kita dibentuk olehnya.”
Selain itu, Bapa Suci mengingatkan bahwa nyanyian menumbuhkan persekutuan. “Nyanyian berkontribusi pada kesatuan hati,” katanya, “mengatasi perbedaan di antara manusia dan menyatukan semua orang dalam pujian kepada Allah melalui simfoni suara. Dengan demikian, nyanyian menjadi epifani Gereja, sebuah perwujudan nyata dari persekutuan yang merupakan bagian dari hakikatnya.”
Bermutu Tinggi dan Terutama Bersumber dari Kitab Suci
Paus Leo menjelaskan bahwa, mengingat makna teologis yang mendalam dari nyanyian sakral sebagai bagian integral dari tindakan liturgis, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi.
“Pertama,” katanya, “nyanyian harus pada setiap tingkat sesuai dengan apa yang paling tepat bagi momen liturgis, melampaui mode atau kepekaan tertentu dari para komponis.”
Paus mengatakan bahwa bentuknya, terutama dalam dimensi melodinya, “pada saat yang sama harus luhur dan sederhana, memiliki kualitas musik yang tinggi dan mudah dibawakan, khususnya ketika dimaksudkan untuk dinyanyikan oleh seluruh umat.”
Untuk alasan yang sama, ia menegaskan kembali bahwa nyanyian sakral “harus sesuai, mendalam dan sekaligus mudah dipahami, terutama terinspirasi oleh Kitab Suci, buku-buku liturgi dan Tradisi rohani Gereja.”
Karena itu, Paus mengatakan bahwa hal tersebut membutuhkan discernment yang cermat dan menekankan bagaimana Konstitusi merefleksikan partisipasi aktif umat beriman.
Lagu Gregorian Mendapat Perhatian Khusus
Paus Leo mencatat bahwa Konsili juga memberikan perhatian besar kepada nyanyian Gregorian, tanpa mengecualikan bentuk-bentuk musik sakral lainnya dalam perayaan.
“Tema yang dekat dengan pembaruan Konsili adalah inkulturasi, termasuk dalam bidang musik sakral,” katanya. “Secara khusus, berkenaan dengan tradisi musik dari berbagai budaya, Konsili menekankan pentingnya mempertimbangkannya secara sungguh-sungguh, karena tradisi-tradisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan religius dan sosial masyarakat.”
Dalam konteks ini, Paus Leo mengingatkan bahwa pendahulunya, Paus Santo Yohanes Paulus II, menekankan perlunya “memurnikan ibadat dari keburukan gaya, dari bentuk-bentuk ekspresi yang tidak menyenangkan, dari teks-teks musik yang tidak menginspirasi dan tidak layak bagi tindakan agung yang sedang dirayakan,” sehingga martabat dan keunggulan komposisi liturgis dapat terjamin.
Pada saat yang sama, Paus Leo mencatat bahwa seorang komponis harus mengingat bahwa musik liturgi tidak dapat dinilai semata-mata berdasarkan kualitas artistiknya.
Paus mengatakan bahwa musik yang diperuntukkan bagi ritus sakral juga harus sesuai dengan tuntutan khusus liturgi, dengan tetap berpegang erat pada teks, sesuai dengan momen liturgis yang menjadi tujuannya, serta secara tepat mencerminkan gerak-gerik dan karakter ritus.
Terakhir, ia menggemakan rekomendasi Konsili mengenai pembinaan dan latihan yang memadai dalam musik sakral di seminari, rumah-rumah pembinaan bagi para religius laki-laki dan perempuan, serta di berbagai lembaga dan sekolah Katolik lainnya, sambil selalu memastikan bahwa para musisi dan penyanyi memperoleh pembinaan liturgi yang kokoh.
Paus Leo XIV menutup refleksinya dengan mengingatkan bahwa para Bapa Gereja sangat menghargai nyanyian liturgis sebagai simbol persekutuan gerejawi, ketika ia mengutip Santo Ignatius dari Antiokhia.
“Biarlah masing-masing dari kalian menjadi sebuah paduan suara,” katanya, “sehingga, dalam keselarasan dan kesatuan, mengikuti nada Allah, kalian dapat menyanyikan dengan satu suara melalui Yesus Kristus kepada Bapa, agar Ia mendengar kalian dan, dari karya-karya baik yang kalian lakukan, mengenali bahwa kalian adalah anggota Putra-Nya.”
