Cari

Paus Leo merayakan Misa di Basilika Bunda Maria Para Malaekat Paus Leo merayakan Misa di Basilika Bunda Maria Para Malaekat   (@Vatican Media)

Di Assisi, Paus mendorong kaum muda untuk ‘menyentuh daging yang menderita dari sesama’

Dalam Misa untuk Pertemuan Kaum Muda Fransiskan 2026 di Assisi, Paus Leo mendorong kaum muda untuk “mengatasi sikap pasrah dan ketakutan” serta “menulis lembaran-lembaran baru sejarah.”

Oleh Tiziana Campisi

Paus Leo memimpin Misa pada hari Kamis bagi ribuan kaum muda dari seluruh Eropa yang berkumpul di Assisi dalam Go!, Pertemuan Kaum Muda Fransiskan 2026.

Dalam perayaan Ekaristi di Basilika Santa Maria degli Angeli, Paus mengajak kaum muda untuk pergi ke “pinggiran” masyarakat, “di mana ketidakadilan dan keangkuhan segelintir orang merampas martabat dan impian banyak orang.”

“Kita dipanggil untuk membaca Kitab Suci bersama Sang Guru,” kata Paus Leo, “menafsirkan zaman kita, dan mengambil keputusan sambil berjalan mengikuti jejak-Nya. Kita berada di sini untuk mengatasi sikap pasrah dan ketakutan, serta melepaskan keraguan yang menahan langkah kita sebagaimana dahulu menghalangi para rasul. Yesus mengundang kita berdialog dengan kisah hidup-Nya agar kita dapat menulis lembaran-lembaran baru sejarah.”

Paus menambahkan bahwa Assisi adalah tempat di mana “segala sesuatu seakan berbisik bahwa hidup kita dapat diubah, memancarkan terang, dan memperbaiki dunia.” Ia mengingatkan bahwa di kota inilah “transformasi Santo Fransiskus, Santa Klara, dan kemudian ribuan kaum muda lainnya” pertama kali dimulai.

Mendengarkan dan mengambil keputusan

Mengawali homilinya, Paus Leo mengajak umat merenungkan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (Transfigurasi Tuhan), yang dirayakan Gereja pada hari itu.

Menurut Paus, Yesus “dimuliakan justru dalam percakapan dengan Bapa, dengan mereka yang mendahului-Nya—Musa dan Elia—serta dengan orang-orang sezaman-Nya, yaitu para murid.”

“Gereja hadir untuk membawa kita masuk ke dalam dinamika mendengarkan dan mengambil keputusan ini,” kata Paus, “agar kita memahami untuk siapa kita hidup dan bagaimana kita harus hidup.”

Ia menegaskan bahwa Gereja adalah “komunitas tempat kita belajar membedakan suara Allah” dan berani menunjukkan ketaatan kepada Roh Kudus, ketaatan yang menjadikan semua orang yang mengikuti Yesus berani dan kreatif.

Merangkul “Saudari Kemiskinan”

Paus Leo mengatakan bahwa jika pilihan Santo Fransiskus untuk meninggalkan dunia merupakan tindakan yang revolusioner, maka pilihan Santa Klara bahkan “lebih mengagumkan.” Seperti Fransiskus, Klara ingin hidup “dalam kebebasan sejati.” Menurut Paus, di situlah letak “energi” Kekristenan, yaitu semangat awal yang selalu melahirkan permulaan-permulaan baru.

“Karena itu, kaum muda terkasih, hari ini Eropa dan seluruh dunia menantikan dari kalian para santo dan santa baru. Beranilah percaya pada Sabda Injil, jadilah manusia seutuhnya dalam kebebasan Yesus Kristus, dan rangkullah Saudari Kemiskinan! Tema pertemuan kalian—Go!—adalah sebuah perutusan, sebuah panggilan untuk menempuh jalan-jalan yang belum memiliki peta, sebab jalan itu terbuka ketika kita mendengarkan hati, menaati Roh Kudus, dan mengikuti Tuhan yang Bangkit ke mana pun Ia telah lebih dahulu melangkah.”

Paus melanjutkan bahwa semua itu harus dilakukan tanpa menjaga jarak “dari luka-luka Tuhan.” Mengutip Evangelii Gaudium, ia mengingatkan perkataan Paus Fransiskus bahwa “Yesus ingin kita menyentuh penderitaan manusia, menyentuh daging yang menderita dari sesama. Ia mengharapkan kita berhenti mencari ruang-ruang pribadi atau kelompok yang membuat kita tetap jauh dari inti penderitaan manusia.”

Membangun peradaban kasih

Paus Leo menegaskan bahwa meskipun kaum muda “mungkin tidak dipahami, bahkan oleh orang-orang di rumah sendiri—seperti yang dialami Santo Fransiskus—meninggalkan budaya kekuasaan dan meruntuhkan tembok-tembok yang memisahkan manusia tidak pernah berarti mengkhianati keluarga, kota, ataupun tradisi.”

Sebaliknya, katanya, langkah itu membebaskan kita “dari bayang-bayang mereka, dari musuh-musuh yang diciptakan oleh ketakutan dan ketidaktahuan, serta dari kekerasan yang berusaha memaksakan keteraturannya sendiri atas kenyataan yang jauh lebih luas daripada yang dapat kita pahami.”

“Percaya kepada Allah berarti menemukan, seperti Fransiskus dan Klara, dunia yang dipenuhi saudara dan saudari untuk dihargai dan dilayani, bukan dieksploitasi atau dikuasai,” kata Paus. “Bukan dunia yang harus dipertahankan, melainkan dunia yang harus dirangkul.”

06 Aug 2026, 12:44