Paus: Seperti aliran sungai yang menuju mata airnya, musik menuntun kita kepada Allah
Oleh Edoardo Giribaldi
Musik dapat membawa manusia melampaui ambang misteri. Seperti seseorang yang mengikuti aliran sungai hingga akhirnya menemukan mata airnya, keindahan nyanyian dapat menuntun kita kepada Allah, memuaskan dahaga akan makna dan kebahagiaan yang tidak dapat dipenuhi oleh dunia.
Demikianlah gambaran yang disampaikan Paus Leo XIV dalam refleksinya pada acara Kidung Perdamaian yang berlangsung pada malam 29 Juli di Borgo Laudato si', di Taman Kepausan Castel Gandolfo, di bawah rindangnya pohon ek tua yang dikenal dengan nama "Methuselah."
Mengingat kembali "paduan suara para malaikat dan orang kudus" yang disebutkan dalam Kitab Suci, Paus menjelaskan bahwa mereka tidak "secara harfiah bernyanyi sepanjang waktu." Harmoni sempurna mereka lahir dari permenungan bersama akan Allah—sebuah harmoni yang juga dapat didekati melalui musik di dunia ini.
Acara yang diselenggarakan oleh Laudato si' untuk Pusat Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan Yayasan Andrea Bocelliyang diwakili langsung oleh tenor ternama Andrea Bocelli, merupakan bagian dari rangkaian peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi.
Pembacaan dalam acara tersebut mencakup kutipan dari tulisan Santo Fransiskus, termasuk Kidung Makhluk Ciptaan (Canticle of the Creatures), disertai bacaan Kitab Suci dan kutipan dari beberapa Paus, mulai dari Santo Paulus VI, Santo Yohanes Paulus II, hingga Paus Fransiskus
Paus menggambarkan pertemuan tersebut sebagai sebuah kesempatan yang penuh sukacita. Bersama Andrea Bocelli dan paduan suara ABF Voices yang terdiri dari 164 anak-anak dan remaja dari Tanah Suci, Uganda, dan Italia. Mereka dipersatukan oleh kecintaan pada musik. Namun, banyak di antara mereka juga memiliki pengalaman hidup yang ditandai oleh perang, kemiskinan, dan penderitaan.
Paus Leo menegaskan bahwa nyanyian indah mereka, bersama doa dalam berbagai bahasa yang dipanjatkan pada akhir pertemuan, menunjukkan bagaimana musik mampu mempersatukan berbagai suara menjadi satu harmoni, di mana setiap orang memberikan sumbangan yang khas bagi keseluruhan. Dengan demikian, paduan suara menjadi lambang harmoni dan kerja sama.
Sesuatu yang lebih besar daripada diri kita
Merenungkan "paduan suara surgawi" yang digambarkan dalam Kitab Suci, Paus mengatakan bahwa kesatuan mereka lahir karena mereka menemukan dalam Allah "kepenuhan kebahagiaan."
Ia kemudian berkata:
"Ketika kalian bernyanyi, apakah kalian menyadari bagaimana musik membawa kita semua ke dalam pengalaman baru—sesuatu yang lebih besar daripada apa pun yang dapat diciptakan oleh masing-masing dari kita sendirian? Itulah pengalaman akan keindahan. Keindahan membuka cakrawala baru dan membangkitkan dalam diri kita kerinduan untuk melangkah ke arahnya."
Seperti aliran sungai menuju mata airnya
Berjalan menuju cakrawala itu berarti menemukan bukan sekadar "sesuatu", melainkan "Seseorang".
Paus melanjutkan:
"Sebagaimana kita dapat mengikuti aliran sungai hingga ke mata airnya, demikian pula keindahan musik mengundang kita untuk berjumpa dengan Dia yang adalah Keindahan itu sendiri. Teruslah mengembangkan anugerah yang telah Allah berikan kepada kalian, dan biarkanlah semuanya itu menuntun kalian kepada-Nya."
[ Photo Embed: Para anggota koor ABF Voices]
Dunia tidak dapat memuaskan dahaga kita akan makna hidup
Paus mengakui bahwa hati kaum muda sering kali "gelisah". Namun, hanya Tuhan—"segala sesuatu yang kita cari dalam hidup"—yang sungguh dapat memberikan ketenangan kepada mereka.
Ia berkata:"Ingatlah bahwa kalian diciptakan untuk hal-hal yang agung, dan seluruh dunia ini tidaklah cukup untuk memuaskan dahaga kalian akan makna dan kebahagiaan."
"Bapa Suci mengasihi kalian dan mendoakan kalian"
Paus Leo kemudian menyampaikan pesan yang menyentuh kepada kaum muda yang hadir:
"Bapa Suci mengasihi kalian dan mendoakan kalian, keluarga-keluarga kalian, serta negara-negara kalian."
Kata-katanya kemudian berubah menjadi doa bagi perdamaian. Ia memohon agar damai berkuasa "di semua wilayah dunia yang masih menderita akibat kekerasan."
Bagi para peserta muda, kesempatan berdoa bersama Paus menjadi puncak dari perjalanan selama sepuluh hari, di mana para anggota paduan suara dan para pendamping mereka mengalami pembinaan, persahabatan, dan persaudaraan melalui seni bernyanyi.
Foto: .
Komitmen Andrea Bocelli Foundation
Paus menutup refleksinya dengan menyampaikan terima kasih kepada Andrea Bocelli Foundation atas dedikasinya dalam mendukung kaum muda yang menghadapi keterbatasan di bidang pendidikan dan tantangan sosial.
Ia berkata:
"Melalui kekuatan musik, kalian turut ambil bagian dalam misi Gereja untuk memajukan perkembangan manusia seutuhnya demi melayani kebaikan bersama. Semoga Allah memberkati segala upaya kalian."
Di bawah naungan pohon "Methuselah"
Pertemuan doa tersebut diawali oleh Kardinal Fabio Baggio, yang baru diangkat sebagai Pro-Prefek Dikasteri untuk Memajukan Pembangunan Manusia Seutuhnya mulai 1 September 2026, sekaligus Direktur Jenderal Laudato si' Higher Education Centre.
Sebelum alunan musik dimulai, Kardinal Baggio mengajak para peserta merenungkan kesaksian yang hening namun kuat dari pohon ek tua bernama "Methuselah." Berakar kuat dalam sejarah Taman Kepausan, pohon itu, katanya, melambangkan tanggung jawab yang dipercayakan kepada setiap orang untuk "merawat apa yang telah kita terima sebagai anugerah agar terus menghasilkan kehidupan dan harapan bagi generasi mendatang."
Kardinal Baggio juga mengutip kata-kata Santo Agustinus yang terkenal:
"Terlambat aku mengasihi-Mu, ya Keindahan yang selalu lama namun selalu baru; terlambat aku mengasihi-Mu."
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Paus Leo atas kehadirannya, seraya mengingatkan semua yang hadir bahwa perdamaian tetap merupakan "sebuah misi yang dipercayakan kepada setiap orang."
Ciptaan, perdamaian, martabat manusia, dan iman
Bagian pertama acara berfokus pada tema Ciptaan, dengan penampilan Andrea Bocelli bersama paduan suara membawakan Panis Angelicus dan Dolce sentire. Setelah itu, Sr. Alessandra Smerilli membacakan kutipan dari Kidung Makhluk Ciptaan karya Santo Fransiskus, disusul pembacaan ayat-ayat pembuka Kitab Kejadian dalam bahasa Inggris oleh Kardinal Baggio.
Bagian kedua, yang didedikasikan untuk harmoni antarbangsa, menampilkan paduan suara yang membawakan puisi Bulan di Kiev karya Gianni Rodari dalam bentuk musikal. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa yang dikaitkan dengan Santo Fransiskus dari Assisi, yang dibacakan oleh Pater Francesco Ielpo, Kustos Tanah Suci.
Bagian ketiga mengangkat tema martabat manusia. Paduan suara membawakan lagu Singing All Together, disertai pembacaan kutipan dari ensiklik Fratelli tutti karya Paus Fransiskus, pidato Santo Paulus VI di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 4 Oktober 1965, serta pidato Santo Yohanes Paulus II di Mahkamah Internasional, Istana Perdamaian, Den Haag, pada 13 Mei 1985.
Bagian keempat dan terakhir bertema iman dan persatuan, yang diisi dengan penampilan Gaelic Blessing serta pembacaan Injil menurut Santo Yohanes bab 20.
Doa anak-anak
Setelah refleksi Paus, anak-anak mendaraskan doa dalam berbagai bahasa:
"Bapa, kami ini anak-anak. Kami hanya memohon agar dapat bermain. Itulah sebabnya Engkau menciptakan bagi kami sebuah taman yang indah, tempat kami dapat hidup bahagia, dikelilingi kasih-Mu dan hidup selaras dengan seluruh ciptaan yang diajarkan Santo Fransiskus untuk kami sebut sebagai saudara dan saudari. Kami telah gagal merawat taman itu, dan sukacita hidup di dalamnya berubah menjadi ketakutan terhadap-Mu sehingga kami bersembunyi. Namun kasih-Mu menemukan kami, seperti dalam permainan petak umpet. Melalui kurban Yesus di salib, Engkau mendamaikan kami dengan-Mu, memulihkan persekutuan dengan-Mu, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan. Kami mohon, bantulah kami merawat taman itu agar kami dapat hidup dalam kebahagiaan sejati."
Pertemuan ditutup dengan doa Bapa Kami, saling memberikan salam damai, dan Berkat Apostolik. Andrea Bocelli bersama paduan suara kemudian membawakan lagu Amazing Grace, sebelum menyerahkan hadiah kepada Paus Leo XIV yang dipersiapkan oleh anak-anak dari negara asal mereka masing-masing.
