Paus Leo XIV memuji Beato Maronit yang baru, Patriark Elias Hoay
Oleh Linda Bordoni
Pada hari Minggu, Paus Leo XIV menyampaikan penghormatan kepada Beato Elias Hoayek yang baru saja dibeatifikasi. Ia berdoa agar teladan hidup dan doa perantaraannya menghadirkan perdamaian bagi Lebanon serta menguatkan umat Maronit di seluruh dunia.
Berbicara setelah doa Angelus di Castel Gandolfo, Paus mengenang bahwa Beato Elias Hoayek, Patriark Antiokhia bagi Gereja Maronit dari tahun 1899 hingga 1931 sekaligus pendiri Kongregasi Suster Maronit Keluarga Kudus, telah dibeatifikasi di Lebanon sehari sebelumnya.
Paus menegaskan bahwa selama lebih dari tiga dekade memimpin Gereja Maronit, Beato Elias menjalankan pelayanannya "dengan dedikasi besar dan kepekaan pastoral."
Menyebutnya sebagai "seorang pribadi yang mengedepankan dialog dan harapan," Paus Leo mengatakan bahwa Patriark Elias merupakan "teladan yang cemerlang dalam kehidupan Gereja, masyarakat, dan politik," sehingga ia kemudian dikenal sebagai "Bapak Lebanon Raya."
Menutup renungannya, Paus berdoa agar "doa dan perantaraan Beato yang baru" senantiasa menyertai umat Maronit di seluruh dunia serta menganugerahkan "karunia perdamaian bagi seluruh rakyat Lebanon," sebuah negeri yang, menurut Paus, "sangat saya kasihi."
Misa Beatifikasi
Misa beatifikasi diselenggarakan pada hari Sabtu di Dimane, kediaman musim panas Patriarkat Maronit. Perayaan dipimpin oleh Kardinal Marcello Semeraro sebagai utusan pribadi Paus Leo XIV.
Dalam homilinya, Patriark Maronit Kardinal Bechara Boutros Rai menggambarkan Hoayek sebagai seorang gembala yang kekudusannya tidak dapat dipisahkan dari pengabdiannya kepada Gereja dan bangsa Lebanon.
Ia menyebut Beato yang baru itu sebagai "abdi Allah", "patriark bagi kaum miskin dan mereka yang tertindas", serta seorang pemimpin yang sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada Penyelenggaraan Ilahi.
Kardinal Rai juga mengenang upaya Hoayek memberi makan mereka yang kelaparan pada masa bencana kelaparan tahun 1916, keteguhannya membela identitas dan kedaulatan Lebanon dalam Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919, serta komitmennya terhadap pendidikan, karya amal, dan pembaruan Gereja Maronit.
Menurut Patriark Rai, Hoayek memadukan "kewaspadaan seorang gembala, kebijaksanaan seorang pemimpin, hati seorang ayah, dan iman seorang kudus," serta meninggalkan warisan iman, harapan, dan persatuan nasional yang hingga kini terus menjadi pedoman bagi Lebanon.
