Paus Leo XIV: “Keindahan membantu kita mengarahkan pandangan ke surga”
Oleh Guglielmo Gallone di Castel Gandolfo
“Kita hidup di dunia yang kekurangan keindahan. Ada begitu banyak masalah—perang, konflik, kebencian, kekerasan, pengangguran, dan banyak kesulitan lainnya. Kesempatan untuk berkumpul bersama dalam kesempatan seperti ini sungguh merupakan anugerah yang besar, karena mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang melampaui semua ini. Hal ini mengingatkan kita bahwa laki-laki dan perempuan, ketika kita memilih untuk melakukannya, dapat bersatu untuk menyingkapkan suatu keindahan yang, dari hati ke hati, membantu kita melihat dan mengarahkan pandangan kita ke surga.”
Demikian disampaikan Paus Leo XIV kepada mereka yang hadir pada Sabtu malam, di akhir konser yang digelar di halaman Istana Apostolik di Castel Gandolfo. Konser tersebut diselenggarakan oleh Keuskupan Albano sebagai tanda kedekatan dan kasih sayang kepada Paus selama masa tinggal musim panasnya di kota yang terletak di selatan Roma itu.
Mengarahkan pandangan ke surga
“Seperti yang kalian ketahui, beberapa bulan lalu saya melakukan perjalanan ke Spanyol, dan tujuan utama perjalanan itu adalah mengangkat mata kita, pandangan kita, ke arah surga. Musik, seni, dan keindahan merupakan sarana yang membantu kita memandang ke atas, bergerak menuju Allah, dan menuju apa yang sungguh merupakan salah satu aspek terbaik dari pribadi manusia,” lanjut Paus.
Merenungkan nilai musik dan seni, ia menggambarkannya sebagai sarana yang mampu mengangkat pandangan manusia melampaui kesulitan-kesulitan masa kini, dengan menunjukkan keindahan sebagai sebuah pengalaman yang membawa kita kepada Allah dan memulihkan harapan. Itulah tepatnya yang terjadi selama konser tersebut.
Pemain biola Marco Rogliano membawakan Polonaise with Variations dari Konser Biola Ketiga karya Niccolò Paganini, sementara pianis Rossana Tomassi Golkar, didampingi orkestra I Musici di Parma di bawah arahan Maestro Pier Carlo Orizio, membawakan Libera fantasia e variazioni sulla Norma karya Luis Bacalov, yang didasarkan pada Norma karya Vincenzo Bellini.
Paus Leo XIV mengawali sambutannya dengan menyampaikan rasa terima kasih kepada para musisi: “Terima kasih yang tulus kepada para seniman yang telah begitu menggerakkan hati saya. Dan terima kasih kepada Keuskupan Albano yang telah mempersembahkan konser ini kepada kami—kepada kalian semua yang berkumpul di sini—karena dalam saat-saat keindahan ini kita sungguh dapat mengalami sesuatu yang agung: memasuki, dalam begitu banyak cara, apa yang Allah kehendaki dalam penciptaan, yakni keindahan,” kata Paus.
Sambutan Uskup Albano
Malam itu diawali dengan sambutan selamat datang dari Uskup Albano, Uskup Vincenzo Viva, yang menyambut Paus Leo XIV dengan mengingat kembali rasa syukur Gereja setempat atas kembalinya Paus ke Castel Gandolfo.
Ia menjelaskan bahwa konser tersebut dimaksudkan sebagai “cara kami untuk mengucapkan terima kasih dan bersama-sama berbagi anugerah musik simfoni.”
Merujuk pada Norma karya Bellini, Uskup tersebut juga mengarahkan pikirannya kepada “para perempuan dan para ibu yang, di berbagai medan perang yang mengoyak dunia, bersama anak-anak dan keluarga mereka, membayar harga tertinggi dari konflik.”
Ia melihat dalam diri mereka tercermin harapan akan “hari esok yang diperdamaikan,” menggemakan seruan Paus Leo XIV untuk perdamaian, yang terus ia ulangi sejak awal masa kepausannya.
Antara Paganini dan Bellini
Program konser tersebut mempertemukan dua tokoh besar musik Italia abad ke-19, Niccolò Paganini dan Vincenzo Bellini. Kedua karya itu disatukan oleh kualitas liris dan nyanyian yang dimilikinya, menciptakan perjalanan musikal yang merangkai virtuoso instrumental dan bahasa opera.
Penafsiran ulang Norma, khususnya, menelusuri kembali—hanya melalui piano dan orkestra—perjalanan sang tokoh utama dari penderitaan menuju pengampunan dan pengorbanan diri, mengubah kisah pribadi menjadi sebuah refleksi universal tentang kekuatan kasih dan perdamaian.
Sebagaimana dicatat dalam program konser, karya tersebut juga berbicara tentang kemampuan keindahan untuk bergema bahkan “di tengah udara yang diguncang angin perang.”
Itu adalah pesan harapan yang, dari bawah langit Castel Gandolfo, ingin menjadi pesan universal. Secara tepat, konser ditutup dengan proyeksi langit penuh bintang pada layar yang menjadi latar orkestra.
Di akhir pertunjukan, Bapa Suci menyapa para musisi dan mereka yang hadir, berhenti sejenak untuk memberikan salam tradisional sebelum meninggalkan halaman Istana Apostolik.
