Paus Leo XIV bersama warga Lampedusa Paus Leo XIV bersama warga Lampedusa  (@Vatican Media)

Lampedusa Menyambut Paus Leo, Saksi Solidaritas di Perbatasan Eropa

Dalam kunjungannya ke Pulau Lampedusa, Italia, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi kepada warga setempat dan para imigran yang telah menunjukkan semangat solidaritas di tengah tantangan migrasi global. Menurut Paus, sikap saling membantu yang tumbuh di pulau kecil di perbatasan Eropa itu telah menjadikan Lampedusa sebagai tanda persaudaraan dan harapan bagi dunia.

Oleh Linda Bordoni – Lampedusa

Sekitar 6.000 penduduk Lampedusa menyambut Paus Leo XIV dengan antusias pada Sabtu pagi. Mereka memadati jalan-jalan yang dilalui rombongan kepausan, berkumpul di sepanjang rute menuju kompleks pemakaman, monumen “Gateway to Europe”, serta Dermaga Favaloro—tempat berlabuhnya perahu-perahu migran yang pada kesempatan itu secara resmi didedikasikan untuk mengenang Paus Fransiskus.

Puncak kunjungan berlangsung di lapangan olahraga setempat, tempat ribuan orang mengikuti Misa yang dipimpin Paus di bawah terik matahari Mediterania. Dalam homilinya, Paus Leo XIV secara khusus mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Lampedusa atas solidaritas yang mereka tunjukkan kepada puluhan ribu migran dan pengungsi yang selama bertahun-tahun tiba di pantai mereka.

Paus memuji pilihan warga pulau itu untuk melihat para migran bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai saudara dan saudari yang sedang menghadapi bahaya di laut.

“Terima kasih, saudara-saudari sekalian, karena kesediaan Anda untuk menjangkau sesama tidak pernah bisa dianggap biasa. Itu bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis,” kata Paus Leo XIV dalam homilinya.

Warga Lampedusa saat misa bersama Bapa Suci Paus Leo XIV
Warga Lampedusa saat misa bersama Bapa Suci Paus Leo XIV   (@Vatican Media)

Namun penghargaan Paus tidak hanya ditujukan kepada warga lokal. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para migran yang, menurutnya, tidak hanya menerima solidaritas tetapi sering kali juga memberikannya selama perjalanan mereka.

Paus menyoroti bagaimana banyak migran yang hidup dalam keterbatasan tetap menunjukkan kepedulian kepada sesama yang bahkan lebih miskin dan lebih rentan. Mereka, kata Paus, menjadi contoh nyata bahwa solidaritas tidak bergantung pada kekayaan, melainkan pada hati yang terbuka terhadap sesama.

Monumen “Gateway to Europe” di ujung paling selatan Pulau Lampedusa, Italia.
Monumen “Gateway to Europe” di ujung paling selatan Pulau Lampedusa, Italia.

Gerbang Migrasi di Tengah Laut Mediterania

Lampedusa merupakan pulau kecil di wilayah Sisilia yang secara geografis lebih dekat ke pantai Tunisia dibandingkan ke daratan utama Italia. Pulau yang dihiasi pohon kaktus pir berduri dan bunga bugenvil berwarna cerah itu selama berabad-abad menjadi titik persinggahan di Laut Mediterania.

Dalam dua dekade terakhir, Lampedusa dikenal sebagai salah satu pintu masuk utama bagi migran dan pengungsi yang menempuh perjalanan berbahaya dari Afrika Utara menuju Eropa.

Ribuan pria, perempuan, dan anak-anak yang melarikan diri dari perang, penganiayaan, serta kemiskinan telah mendarat di pulau tersebut. Arus kedatangan meningkat tajam saat gelombang Arab Spring pada 2011 dan selama konflik Suriah pada 2015.

Pada satu pekan di tahun 2023, hampir 10.000 migran tiba di Lampedusa—jumlah yang hampir dua kali lipat dari populasi tetap pulau itu sendiri.

Tantangan Baru di Tengah Kebijakan Migrasi Eropa

Bagi banyak orang yang mengikuti kunjungan Paus melalui foto dan siaran televisi, satu hal mungkin terasa mencolok: hampir tidak terlihat keberadaan para migran dan pengungsi di lokasi kunjungan.

Kondisi ini terjadi karena sebagian besar migran hanya tinggal selama 24 hingga 48 jam di pusat penerimaan setempat sebelum dipindahkan ke fasilitas lain di berbagai wilayah Italia. Hanya sebagian kecil yang memilih menetap di Lampedusa dan kini berperan aktif dalam operasi penyelamatan serta pelayanan bagi pendatang baru.

Kunjungan Paus berlangsung ketika Uni Eropa sedang memperketat kebijakan migrasi, termasuk mempercepat proses pemulangan migran dan mengembangkan konsep “pusat pemulangan” di luar wilayah Uni Eropa.

Di tengah situasi tersebut, Paus Leo XIV mengajak masyarakat Lampedusa untuk terus menjadi tanda profetis bagi dunia.

Ia mendorong warga untuk tetap melampaui perbedaan dan berbagai bentuk sekat sosial demi membangun masyarakat yang lebih manusiawi. Menurut Paus, masa depan dunia membutuhkan sintesis baru yang menghubungkan ekonomi, kepedulian terhadap lingkungan, dan persahabatan sosial.

Pesan tersebut menggemakan warisan Paus Fransiskus yang menjadikan Lampedusa sebagai simbol perhatian Gereja terhadap para migran dan pengungsi. Kini, melalui kunjungan pertamanya ke pulau itu, Paus Leo XIV menegaskan kembali bahwa solidaritas dan penghormatan terhadap martabat manusia harus tetap menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan migrasi global.

Paus Leo XIV memberikan penghormatan kepada para migran dan pengungsi yang kehilangan nyawa saat melakukan penyeberangan laut.
Paus Leo XIV memberikan penghormatan kepada para migran dan pengungsi yang kehilangan nyawa saat melakukan penyeberangan laut.   (@Vatican Media)
04 Jul 2026, 12:43