Seorang migran muda di Pelabuhan Arguineguin, di Gran Canaria Seorang migran muda di Pelabuhan Arguineguin, di Gran Canaria 

'Sekarang saya menantikan Paus Leo,”kata seorang migran di Kepulauan Canary, yang menggerakkan hati Paus Francis

Orang muda Senegal ini selamat dari kapal karam tahun 2020 di mana dia menyaksikan kematian saudaranya dan banyak orang lain. Sesudah tiba di Pelabuhan Argui di Gran Canary, dia disambut oleh sebuah keluarga dan sekarang bekerja sebagai koki. Di tahun 2023, dia menulis surat kepada Paus Fransiskus, mengundangnya berkunjung ke kepulauan itu. Tanggal 21 Juni mendatang, dia akan menyambut Paus Leo XIV sebagai penggantinya. “Saya akan meminta dia untuk membantu kami untuk berbuat jauh lebih banyak

Lapaoran Salvatore Cernuzio – Madrid

Pertama, menghadapi angin, kehausan , perahu kano yang terus kemasukan air, gelombang, kegelapan, orang orang yang meninggal di laut, di antara mereka saudaranya sendiri. Kemudian datanglah permulaan baru: Sambutan hangat, bekerja sebagai seorang koki, dan undangan untuk mengunjungi Kepulauan Canary, bersama dengan tawaran untuk secara pribadi mendampingi Sri Paus melewati Pelabuhan Arguineguin. Selama bertahun tahun, pelabuhan itu dikenal sebagai el muelle de la verguenza—teman yang memalukan – karna kondisi yang  penuh sesak dan berbahaya di mana ribuan migran dipaksa bertahan hidup.

Paus Fransiskus sangat tergerak ketika membaca kata kata yang ditulis Ousseynou Fall, seorang bekas nelayan yang melarikan diri dari Senegal dan sekarang tinggal di Gran Canaria.

Di dalam surat itu, Ousseynou menceriterakan sejarahnya: Sejarah meninggalkan Afrika, tanah airnya, dan memulai hidup baru di Kepulauan Canary. Cerita di mana tragedi bertemu dengan kemurahan hati dan solidaritas tanpa pamrih; sebuah cerita yang dibagikan oleh banyak migran yang selamat dari kengerian Rute Atlantik dan mencapai Pantai Kepulauan Canary,  tidak seperti begitu banyak yang lain yang tidak bisa mencapainya.

Keinginan Paus Fransisku dipenuhi oleh Paus Leo

Ousseynou dan beberapa migran muda lainnya telah menulis surat kepada Paus, yang telah membuat masalah imigrasi sebagai salah satu prioritas yang menandai kepausannya,  mengundangnya untuk mengunjungi tempat tempat yang telah memampukan  mereka memulai hidup baru.

Dalam suratnya, yang diserahkan  ke Paus Fransiskus selama kunjungan kepausannya ke Luxemburg dan Belgia oleh wartawan Radio Spanyol COPE Eva Fernandez, Oussenouu menulis bahwa kunjungan seperti itu akan menjadi “penghiburan besar” untuk dia dan para sahabat-sahabatnya.

Tergerak oleh cerita-cerita mereka,  Paus Fransiskus memutuskan untuk mengunjungi kepulauan itu, merencanakannya sebagai tahap ketiga kunjungannya yang didedikasikan untuk migrasi sesudah Lampeduda dan Lesbos. Sakit, dan kemudian kematiannya menggagalkan recana itu.

Sekarang, Paus Leo XIV telah mengambil alih keinginan pendahulunya dan akan mengunjungi Kepulauan Canary tanggal 11 dan 12 Juni sebagai penutup Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol.

Ousseynou akan hadir di sana menyambut Paus, bersama para migran lainnya, para saudara dari mereka yang hilang di laut, para tim penyelamat dan relawan. Itu benar benar tempat, di mana enam tahun lalu, mereka tiba dalam kedinginan, kelelahan dan kehausan, tidur menghabiskan waktu sebelum dikuatkan oleh kehangatan – melampaui semua kehangat manusia – dari masyarakat setempat.

Penyeberangan dari Senegal

“Kalau saya bicara dengan Sri Paus, yang pertama akan saya minta padanya adalah untuk membantu jauh lebih banyak lagi bagi para migran yang meninggal selama dalam perjalanan,”Ousseynoy  mengatakan kepada Media Vatikan.” Orang orang yang mau datang ke tempat ini tapi tidak pernah bisa mewujudkannya. Saudara saya juga meninggal dalam perjalanan. Dan banyak orang lainnya.”

Dia dihubungi lewat telefon ketika sedang istirahat dalam kerjanya di dapur sebuah hotel, di mana dia menghabiskan hari-hari yang panjang sebagai koki. Dia dengan senang hati membagikan perjalanan hidupnya.

Berasal dari kota Pantai Saint-Louis di Senegal, Ousseynou bekerja sebagai nelayan sebelum memutuskan untuk pergi bersama dengan saudaranya karena krisis yang mempengaruhi industri perikanan setempat.

Dia tiba di Gran Canary  12 November 2020 dengan menggunakan perahu kano yang ditandai dengan kehausan, kepanikan, tangis dan airmata ekstrim, dan kehilangan teman seperjalanan di laut.

Tiba di Spanyol

“Saat itu pagi hari ketika kami tiba,” kenang Oussenou, “Beberapa jam sebelumnya, kapal kami telah kemasukan terlalu banyak air. Kemudian mulai tenggelam. Tim penyelamat – Salvamar Menkalinan – menemukan kami di laut. Mereka menyelamatkan kami dan memindahkan kami ke dalam  kapal yang lebih kecil untuk membawa kami ke Arguineguin.”

Pagi itu tempat itu sudah penuh sesak. Hampir 2,000 pria dan Wanita telah  tidur di sana selama berhari hari di bawah tenda dan selimut, perlindungan satu-satunya dari matahari dan hujan. Selama bulan itu  saja, lebih dari 6300 migran melintasi pelabuhan kecil di barat daya Pantai Gran Canary.

Menantikan Sri Paus

 “Beberapa hari kemudian, Palang Merah memindahkan kami ke sebuah hotel,” lanjutnya.

Ketika sedang mencari makanan dan pakaian bersama sepupunya, dia bertemu dengan pasangan Fermina dan Cristobal. Sekarang dia memanggil mereka mama dan papa. Mereka menerima dia di rumahnya dan memastikan dia tidak akan kekurangan apapun.

“Merekalah yang menerima saya dalam rumah mereka, di mana saya  tinggal hingga saat ini,” Ousseynou menerangkan.

Dengan pertolongan dari kelompok bantuan setempat dan Paroki  Arguineguin, dia belajar bahasa Spanyol. Ketika baru tiba, dia sama sekali tidak bisa membaca dan menulis. Setelah bertahun tahun dia menguasai bahasa itu dan memperoleh sebuah profesi. Sekarang dia sudah sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan di Gran Canary.

Dan di pelabuhan yang masih dia kunjungi dari waktu ke waktu itu, di pagi hari tanggal 11 Juni, dia berharap  ikut menyambut Paus Leo XIV. Bukan hanya sebagai seorang migran, tetapi sebagai warga negara biasa, orang bebas  yang hidupnya telah  diselamatkan dan martabatnya dipulihkan,

04 Jun 2026, 09:17