Paus kepada WFP: Konflik Lebih Mudah “Diberi Makan” daripada Manusia
Oleh Deborah Castellano Lubov
“Bersama-sama, kita memikul tugas mendesak untuk menghadapi kelaparan dan malnutrisi, sekaligus menangani akar penyebab struktural yang mempertahankannya. Untuk menjalankan tugas ini secara efektif, kita harus memahami tantangan yang ada di hadapan kita, penyebab mendasarnya, dan jalan menuju solusi yang berkelanjutan.”
Pernyataan tersebut disampaikan Paus Leo XIV saat berbicara di hadapan Dewan Eksekutif Program Pangan Dunia PBB di kantor pusat lembaga itu di Roma pada Senin.
Dalam sambutannya, Paus menegaskan pentingnya multilateralisme dan mengingatkan bahwa kebutuhan dasar manusia seperti air, pangan, dan layanan kesehatan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan geopolitik.
BACA SECARA LENGKAP PERNYATAAN PAUS LEO PADA WFP
Paus menyampaikan terima kasih kepada lembaga antarpemerintah tersebut atas dedikasinya dalam menyelamatkan nyawa pada situasi darurat dan menyediakan bantuan pangan di tengah konflik maupun bencana alam. Menurutnya, komitmen WFP sejalan dengan misi Gereja Katolik dalam menjunjung martabat manusia dan membangun persaudaraan yang berakar pada panggilan Injil untuk mengasihi sesama.
Menurut Paus, berbagai krisis saat ini tidak lagi bersifat sementara atau terisolasi, melainkan telah menjadi kenyataan yang terus berlangsung. Kondisi tersebut ditandai oleh konflik berkepanjangan, ketidakamanan pangan kronis, ketidakstabilan ekonomi, serta meningkatnya kerentanan akibat perubahan iklim.
Situasi itu, katanya, memunculkan pertanyaan mendasar mengenai bentuk tatanan global seperti apa yang mampu menghasilkan, mempertahankan, bahkan menormalisasi kondisi-kondisi tersebut.
Menurut Paus, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana melakukan intervensi, melainkan juga memahami mengapa sistem yang ada terus-menerus menghasilkan persoalan yang kemudian harus diperbaiki kembali.
Tatanan Internasional yang Semakin Terfragmentasi
Paus Leo menyesalkan semakin terfragmentasinya tatanan internasional, yang sebagian disebabkan oleh krisis sistem multilateralisme.
Ia mengamati bahwa banyak negara kini lebih banyak mengalokasikan sumber dayanya untuk keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas dalam negeri, tanpa memperhatikan keterkaitan erat antara tujuan-tujuan tersebut dengan kerja sama multilateral.
Menurutnya, kecenderungan itu menampilkan sebuah paradoks yang mencolok: kapasitas produksi global yang belum pernah terjadi sebelumnya justru berjalan berdampingan dengan semakin meluasnya wilayah-wilayah yang mengalami kerentanan ekstrem.
“Justru dalam kesenjangan antara pengakuan pada tingkat prinsip dan prioritas dalam praktik itulah kita menyaksikan birokratisasi solidaritas yang terus berkembang, bersamaan dengan komersialisasi diam-diam terhadap kehidupan manusia,” katanya.
Di satu sisi, tindakan kemanusiaan semakin dibebani prosedur birokrasi yang dapat menunda bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Namun di sisi lain, akses terhadap kebutuhan pokok, termasuk pangan, terlalu sering dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi maupun strategi politik.
Akibatnya, mereka yang tidak menghasilkan nilai yang dapat diukur secara ekonomi berisiko menjadi tidak terlihat.
“Dinamika ganda ini menciptakan tantangan etis yang serius, yakni ketika pribadi manusia tidak lagi secara konsisten ditempatkan di pusat tindakan internasional,” ujar Paus.
Konflik Lebih Mudah “Diberi Makan” daripada Manusia
Dalam konteks tersebut, Paus mengingatkan kembali pernyataan Paus Fransiskus bahwa berbagai bentuk bantuan dan proyek pembangunan sering kali terhambat oleh keputusan politik yang rumit dan sulit dipahami, pandangan ideologis yang menyimpang, serta hambatan perdagangan yang tertutup.
Namun, kata Paus, hal itu tidak berlaku bagi persenjataan.
“Pada kenyataannya, konflik lebih mudah ‘diberi makan’ daripada manusia yang diberi makan. Realitas ini tidak hanya mencerminkan kelemahan operasional, tetapi juga menunjukkan ketidakseimbangan mendasar dalam prioritas politik dan moral,” tegasnya.
Paus mengingatkan bahwa dampak dari situasi tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terkena secara langsung.
Kelaparan, katanya, bukan sekadar persoalan kemanusiaan. Kelaparan mengikis kohesi sosial, meningkatkan risiko konflik, dan mendorong migrasi paksa.
Karena itu, tindakan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari tatanan internasional. Komunitas global, lanjutnya, memiliki tanggung jawab untuk memperkuat solidaritas, melawan eksklusi, dan mengakui martabat setiap manusia yang dianugerahkan Allah.
“Lebih dari sekadar mengelola krisis, lembaga-lembaga internasional mewujudkan prinsip tanggung jawab bersama dan menegaskan bahwa komunitas internasional dipersatukan oleh kepedulian terhadap mereka yang berada dalam situasi paling rentan,” katanya.
Dalam pengertian ini, Program Pangan Dunia bukan sekadar aktor politik, ekonomi, atau teknis, melainkan ekspresi nyata solidaritas internasional.
“Ketika lembaga-lembaga nasional melemah dan jaringan komunitas terpecah, kehadiran WFP membantu mencegah krisis kemanusiaan berkembang menjadi keruntuhan yang tidak dapat dipulihkan,” ujarnya.
Perlunya Komitmen Baru terhadap Kerja Sama Multilateral
Karena itu, Paus menilai diperlukan komitmen baru terhadap kerja sama multilateral.
“Saya ingin mengajak pemerintah dan masyarakat dunia untuk memperbarui dan memperkuat komitmen mereka, meningkatkan sumber daya yang dialokasikan untuk memerangi kelaparan dan akar penyebabnya, serta menghapus hambatan yang menghalangi bantuan mencapai mereka yang membutuhkan.”
Ia menambahkan bahwa dukungan tersebut juga harus memperkuat kerja sama dengan Gereja dan masyarakat sipil.
“Memperkuat kapasitas seluruh pihak tersebut secara bersama-sama akan melipatgandakan efektivitas kolektif kita dalam memerangi kelaparan.”
Menurut Paus, seruan tersebut hanya dapat diwujudkan apabila birokrasi yang tidak perlu dikurangi sehingga transparansi dan akuntabilitas benar-benar melayani manusia, bukan justru menghambat bantuan.
Dalam situasi ketika pemerintah tidak memiliki kendali wilayah yang efektif atau akses kemanusiaan dibatasi, mitra-mitra lokal yang terpercaya menjadi sangat penting.
Mendukung Upaya Kemanusiaan Gereja Katolik
Paus Leo menyoroti bahwa Gereja Katolik, melalui paroki-paroki, keuskupan-keuskupan, lembaga Caritas, dan berbagai inisiatif berbasis iman lainnya, sering kali mampu menjangkau kelompok-kelompok rentan di wilayah yang tidak dapat diakses oleh aktor internasional.
Karena itu, ia mendorong Program Pangan Dunia dan para mitranya untuk terus mendukung berbagai upaya tersebut.
Paus menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan bukan hanya mengurangi penderitaan, tetapi juga membantu mengatasi akar penyebab ketidakstabilan geopolitik.
“Ketahanan pangan merupakan komponen esensial dari keamanan global dan keamanan integral,” katanya.
Dalam konteks itu, ia memuji langkah WFP yang tidak hanya berfokus pada tanggap darurat, tetapi juga mengembangkan program-program jangka panjang, termasuk penyediaan makanan bagi anak-anak sekolah.
Kredibilitas Kerja Sama Internasional Dipertaruhkan
Menjelang akhir pidatonya, Paus Leo XIV menyampaikan peringatan tegas.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya efektivitas sebuah lembaga, melainkan juga kredibilitas kerja sama internasional itu sendiri,” katanya.
Menurut Paus, Program Pangan Dunia telah menunjukkan bahwa jalan baru masih mungkin dibangun.
Namun, hal itu menuntut keberanian untuk menyederhanakan hal-hal yang telah menjadi terlalu rumit, memprioritaskan yang paling penting, dan memastikan tidak seorang pun dilupakan.
Menutup sambutannya, Paus Leo XIV berdoa agar Tuhan memberkati seluruh upaya yang dilakukan WFP.
“Semoga semua orang menerima roti harian mereka dan dapat hidup dengan bermartabat,” ujarnya.
