Paus: Universitas, Wahana Ideal untuk Mendorong Solidaritas dan Kesejahteraan Bersama
Oleh Isabella H. de Carvalho
Dengan mendorong pencarian kebenaran, mendampingi mereka yang terpinggirkan dan kaum muda, serta berupaya melindungi lingkungan hidup, perguruan tinggi dan universitas menjadi ruang penting untuk menghadapi tantangan yang dihadapi umat manusia saat ini. Demikian disampaikan Paus Leo XIV pada Kamis, 25 Juni.
“Lembaga-lembaga Anda dipanggil tidak hanya untuk mengajarkan kepada para mahasiswa tentang ketidakadilan yang dihadapi mereka yang berada di pinggiran masyarakat, tetapi juga untuk menjadi saluran yang kuat dalam mendorong perubahan sistemik melalui pengajuan model-model baru yang berakar pada solidaritas dan kesejahteraan bersama,” kata Paus dalam pertemuan di Vatikan bersama para presiden dan perwakilan perguruan tinggi serta universitas Jesuit di Amerika Utara.
Dalam pidatonya, Paus Leo menawarkan sebuah peta jalan mengenai bagaimana lembaga-lembaga tersebut dapat membantu komunitas mereka menghadapi berbagai persoalan paling mendesak yang dihadapi masyarakat.
Paus mengambil inspirasi dari empat Preferensi Apostolik Universal Serikat Yesus, tema-tema yang ditetapkan pada tahun 2019 untuk menjadi pedoman karya Serikat Yesus selama sepuluh tahun berikutnya.
Keempat preferensi tersebut adalah: menunjukkan jalan menuju Allah, berjalan bersama mereka yang tersisih, berjalan bersama kaum muda, dan merawat rumah bersama kita.
Zaman Perubahan Besar dalam Sejarah
Paus Leo XIV mengawali pidatonya dengan menyoroti “berbagai tantangan yang dihadapi umat manusia saat ini” pada masa yang disebut sebagai “zaman perubahan besar dalam sejarah.”
Ia menegaskan bahwa masyarakat semakin mengalami sekularisasi, “dengan banyak pihak berupaya menyingkirkan setiap penyebutan tentang Allah dari ruang publik dan bahkan dari budaya populer,” atau bagaimana sistem politik gagal menjawab “jeritan kaum miskin, para migran, dan mereka yang dianggap dunia sebagai orang-orang tersingkir.”
Paus menekankan bahwa banyak kaum muda kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik dan bahwa sumber daya bumi terus-menerus dimanfaatkan demi kepentingan pribadi.
Ia juga menyoroti semakin besarnya dampak kecerdasan buatan terhadap kehidupan manusia.
Memberikan Kesempatan bagi Migran dan Pengungsi
Dalam konteks tersebut, Paus mengatakan bahwa empat Preferensi Apostolik Universal Serikat Yesus dapat membantu menjawab berbagai persoalan tersebut.
Berbicara mengenai tema berjalan bersama kaum miskin, Paus menegaskan bahwa hal ini sangat penting, “pada saat jumlah saudara-saudari kita yang hidup dalam kemiskinan mencapai angka tertinggi.”
Menurutnya, banyak orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat perang, penganiayaan agama maupun politik, kelaparan, atau perubahan iklim.
Paus menegaskan bahwa lembaga pendidikan tinggi Jesuit tidak hanya dipanggil untuk mempromosikan kesejahteraan bersama dan solidaritas, tetapi juga “memberikan kesempatan kepada para migran, pengungsi, dan mereka yang berasal dari kelompok sosial-ekonomi yang lebih rendah untuk memperoleh manfaat pendidikan tingkat lanjut.”
“Dengan cara ini, mereka akan dapat berintegrasi secara lebih penuh ke dalam masyarakat tempat mereka tinggal, sekaligus memperkaya komunitas mahasiswa secara keseluruhan melalui pengalaman dan perspektif mereka yang beragam,” lanjutnya.
Dampak Negatif dan Positif Kecerdasan Buatan
Meskipun bukan merupakan tema khusus dalam Preferensi Apostolik Universal, Paus juga berbicara mengenai dampak kecerdasan buatan, seraya menegaskan bahwa perguruan tinggi dan universitas dapat memainkan peran khusus dalam menghadapi konsekuensi negatif maupun positif dari perkembangan teknologi ini.
Menurutnya, lembaga-lembaga tersebut dapat memberikan “dorongan baru bagi prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja” dengan cara yang relevan dan efektif dalam menghadapi revolusi digital.
Menumbuhkan Harapan dalam Diri Kaum Muda
Berbicara mengenai tema pendampingan kaum muda, Paus menegaskan bahwa perguruan tinggi dan universitas merupakan tempat yang alamiah untuk menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Ia mencatat bahwa para mahasiswa sering kali memulai perjalanan akademik mereka dengan idealisme dan semangat yang besar, lalu melalui studi dan relasi yang mereka bangun, menemukan kembali harapan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.
“Saya mengundang Anda untuk terus memupuk harapan itu di tengah komunitas Anda melalui kesempatan untuk berdialog, melayani, dan berdoa, sambil selalu mengingat bahwa kebangkitan Kristus adalah sumber utama harapan dan bahwa bersama Dia segala sesuatu menjadi mungkin,” kata Paus.
Dalam Merawat Ciptaan, Jadilah Teladan
Beralih pada tema perawatan ciptaan, Paus Leo mendorong lembaga-lembaga yang dikelola Jesuit untuk “mengajar melalui teladan, bukan hanya melalui teori,” terutama mengingat dampak perubahan iklim dan “eksploitasi sumber daya oleh segelintir pihak dengan mengorbankan kesejahteraan bersama.”
“Saya mendorong Anda untuk terus melanjutkan upaya-upaya mendidik warga kampus mengenai berbagai bahaya yang sedang kita hadapi saat ini, tetapi juga menjadikan komunitas Anda sebagai teladan keberlanjutan ekologis, kesederhanaan hidup, dan rasa syukur atas karunia-karunia Allah,” ujarnya.
Mereka yang Mencari Kebenaran Sedang Mencari Allah
Terkait tema menunjukkan jalan menuju Allah, Paus menegaskan bahwa “mereka yang melakukan penelitian, mereka yang menempuh studi, dan mereka yang mencari kebenaran pada akhirnya sedang mencari Allah, entah mereka menyadarinya atau tidak.”
Ia menekankan pentingnya membangun komunitas akademik di mana para anggotanya dapat mengenal “Dia yang adalah Kebenaran” dan menanggapi kerinduan yang semakin besar akan Allah di kalangan kaum muda.
Dalam kaitan ini, Paus mendorong para Jesuit untuk mengembangkan partisipasi yang lebih luas dalam Latihan Rohani Santo Ignatius, karena pengalaman tersebut juga dapat membantu memberikan penegasan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan-keputusan penting.
Paus menutup pidatonya dengan mengajak Serikat Yesus, dengan bantuan pendirinya Santo Ignatius Loyola, untuk “melanjutkan tradisi Jesuit” dalam membentuk mereka yang dipercayakan kepada pelayanan mereka agar menjadi “pria dan wanita bagi sesama.”
