Cari

Paus di Spanyol: 'Saya Datang untuk Meneguhkan dan Memperbarui Kesetiaan pada Injil'

Saat berbicara di hadapan jajaran otoritas dan korps diplomatik di Madrid, Paus Leo XIV menegaskan bahwa kunjungannya ke Spanyol bertujuan untuk mengobarkan iman umat beriman terhadap Injil. Bapa Suci juga kembali menekankan pentingnya perlindungan terhadap kebebasan beragama dan kebebasan hati nurani.

Oleh Deborah Castellano Lubov

"Saya datang ke tengah-tengah Anda sekalian untuk meneguhkan, mendorong, dan menanamkan kembali kesetiaan pada Injil di kalangan umat beriman, sekaligus mendorong rekonsiliasi dan kolaborasi yang lebih mendalam di antara berbagai elemen bangsa ini."

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Paus Leo XIV saat berpidato di hadapan otoritas pemerintahan dan korps diplomatik pada hari Sabtu di Istana Kerajaan di Madrid, Spanyol, dalam rangkaian Perjalanan Apostolik selama sepekan di negara Eropa tersebut.

Negara besar yang telah menyambut Injil selama hampir dua milenium

Dalam pidatonya, Paus menyampaikan apresiasi kepada Spanyol "atas kepatuhannya yang setia terhadap hukum internasional dan multilateralisme." Menurut Bapa Suci, hal ini tercermin nyata dalam komitmen aktif negara tersebut terhadap perdamaian dan solidaritas antarbangsa.

Paus Leo XIV saat berpidato di hadapan otoritas di Spanyol
Paus Leo XIV saat berpidato di hadapan otoritas di Spanyol   (@Vatican Media)

"Pada saat yang sama," Bapa Suci juga mendorong bangsa tersebut "untuk terus merawat dialog dan persahabatan warga negara di dalam negeri sendiri, mempertimbangkan perspektif kaum miskin dan muda dalam merancang masa depan, menyelaraskan tuntutan otonomi daerah dengan persatuan nasional, serta memajukan agenda persatuan di Eropa—bukan sebagai tandingan kekuatan lain, melainkan sebagai anugerah bagi seluruh umat manusia."

Paus mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Spanyol atas undangan yang diberikan sehingga dirinya dapat hadir dalam kunjungan ke "sebuah negara besar yang telah menyambut Injil selama hampir dua milenium." Berdasarkan tradisi, awal mula penginjilan di Semenanjung Iberia selalu dikaitkan dengan pewartaan Rasul Yakobus yang Utama.

Kesalehan populer mendekatkan masyarakat Spanyol dengan Yesus

Paus menjelaskan bahwa keterkaitan ini memiliki makna teologis yang sangat penting. Hal tersebut menunjukkan kesadaran Gereja lokal akan kesinambungannya dengan misi apostolik yang bermula pada hari Pentakosta.

Bapa Suci juga mencatat bahwa ikatan kuno antara iman Kristen dan tanah ini telah membentuk kebudayaan mereka secara mendalam. Ikatan tersebut menjadi sumber harapan dan kompas penunjuk arah di tengah berbagai tantangan yang harus kita hadapi bersama sebagai satu keluarga manusia saat ini.

"Saya merefleksikan manifestasi kesalehan populer yang menjadi dramatisasi autentik dari keselamatan di setiap kota dan desa, seiring dengan ritme tahunan serta berbagai konteks kehidupan."

Paus Leo menambahkan bahwa bersama dengan warisan seni dan musik, serta banyaknya persaudaraan (konfraternitas) dan lembaga amal, semuanya itu "menjadi saksi atas perjumpaan yang subur antara Yesus Kristus dan masyarakat Anda—sebuah masyarakat yang penuh gairah, yang mencintai dan mengekspresikan kehidupan!"

Bapa Suci menegaskan bahwa kehadirannya bertujuan untuk mengobarkan kembali iman tersebut di kalangan umat beriman.

Kebebasan beragama dan hati nurani wajib dilindungi

Bapa Suci juga menyatakan keinginannya untuk mengajak bangsa tersebut menuju "rekonsiliasi dan kolaborasi yang lebih mendalam" di antara berbagai elemen di Spanyol. Ia menunjukkan bahwa sejarah Spanyol membuktikan "bahwa budaya perjumpaan, dan bukannya konfrontasi, adalah faktor yang menumbuhkan stabilitas dan kemakmuran."

Terkait hal ini, Paus mengenang Santo Yohanes dari Salib dan Santa Teresa dari Avila, yang kedekatan persahabatannya dipersatukan oleh gairah yang sama terhadap Misteri Ilahi.

Ia mengingatkan kembali bahwa kedua tokoh terkemuka asal Spanyol tersebut telah memperkaya kehidupan Gereja dan perjalanan spiritual banyak orang selama lima abad, bahkan jauh melampaui batas-batas negara Spanyol. Paus juga merefleksikan sosok Santo Ignatius dari Loyola.

Saat merenungkan para kudus tersebut, Paus Leo mengamati, "Zaman kita, yang tampak diguncang oleh ketidakseimbangan dan konflik yang mengerikan, menjerit dari lubuk hatinya yang terdalam memohon perdamaian, memohon pemahaman baru tentang pribadi manusia dan martabatnya yang tidak boleh dilanggar, serta memohon hadirnya peradaban kasih."

"Santa Teresa menggambarkan proses yang sama ini dengan menggunakan metafora 'puri batin'. Saat seseorang melangkah dari satu ruangan ke ruangan lain menuju kamar yang paling dalam—yaitu menuju hatinya sendiri, tempat suci kebenaran—ruang tersebut makin meluas, pikiran makin terbuka, tantangan dapat diatasi, ketegangan mereda, orang lain mendapatkan tempatnya, dan alam semesta berubah menjadi sebuah rumah. Ini bukanlah pelarian ke dalam diri sendiri, melainkan sebuah keterbukaan radikal terhadap Totus Alius et Semper Novus (Yang Lain Sepenuhnya dan Selalu Baru) yang tercapai saat kita kembali ke dalam diri kita sendiri."

"Dimensi manusia inilah," tegas Paus Leo, "yang menjadi alasan mengapa kebebasan beragama dan kebebasan hati nurani wajib dilindungi."

Paus Leo XIV berbicara di hadapan otoritas di Spanyol
Paus Leo XIV berbicara di hadapan otoritas di Spanyol   (@Vatican Media)

Perlu menghadapi polarisasi yang kian meningkat

Dewasa ini, Paus Leo menyesalkan bahwa godaan untuk meraih popularitas dengan menyulut api polarisasi tampaknya makin meningkat, bukannya berkurang, sementara martabat manusia terus-menerus dilanggar.

"Inilah mengapa kita membutuhkan budaya, kedalaman batin, dan pendidikan berkualitas yang gratis; kita membutuhkan transendensi. Namun, bahkan dalam malam-malam yang gelap sekalipun, pria dan wanita yang setia pada kebenaran telah terdorong untuk terus melangkah dari satu ruangan ke ruangan lain hingga keadilan dan perdamaian berpadu di dalam hati nurani mereka. Melalui kebebasan merekalah," ujarnya, "kita belajar untuk menjadi bebas."

Paus Leo menyampaikan kepada para hadirin bahwa Gereja Katolik hadir untuk melayani dahaga hati manusia.

"Ini adalah sebuah pelayanan yang tidak ditandai dengan pemaksaan," tuturnya, "melainkan kesaksian Injil yang dibuktikan oleh para martir dan orang kudus. Hari ini, Gereja siap menempatkan dirinya untuk melayani masa depan masyarakat yang tengah mencari rekonsiliasi dan perdamaian."

Demi cinta pada kebenaran, Paus Leo mengajak semua orang "untuk mengesampingkan narasi-narasi yang memecah belah dan mempolarisasi realitas sosial serta sejarah Anda, agar dapat mengatasi penyederhanaan yang mandul melalui apresiasi yang subur terhadap kompleksitas."

Di sini, Bapa Suci melihat adanya panggilan yang sangat cocok untuk Eropa, "di mana Spanyol memainkan peran yang unik dan sangat mendasar."

Dibutuhkan lompatan kualitatif ke depan Ia menyerukan kepada bangsa tersebut untuk menghargai dan mempelajari kompleksitas, belajar untuk tidak menyangkalnya, melainkan merangkulnya sebagai sebuah berkah.

Paus kemudian mengamati bahwa teknologi baru "telah menciptakan lingkungan buatan di mana pilihan-pilihan mendasar kita diuji, prasangka diperbesar, pemikiran kritis diperlemah, dan kepentingan-kepentingan dominan menyebarkan keinginan yang mematikan." Kendati demikian, ia menegaskan bahwa "kebaikan dapat menang dan menyebar."

"Sangat penting, khususnya bagi mereka yang mengemban tanggung jawab ekonomi, politik, dan institusional," tegas Paus, "untuk melakukan lompatan kualitatif ke depan—sebuah perubahan arah investasi di sekolah, universitas, dan penelitian, serta di komunitas lokal dan masyarakat sipil sebagai wadah partisipasi dan mediasi budaya."

Paus merefleksikan pentingnya kontribusi Spanyol dalam mewujudkan perdamaian dan keselarasan.

"Keamanan, yang terlalu sering kita harapkan ada pada senjata dan dinding-dinding pembatas," argumen Paus Leo, "pada kenyataannya paling baik dicapai dengan belajar untuk melangkah maju berdampingan, tumbuh bersama, dari sisi ke sisi."

Apresiasi atas komitmen terhadap perdamaian, multilateralisme, dan hukum internasional "Sejarah Anda sendiri," kata Bapa Suci, "menjadi saksi nyata akan hal ini."

Saat Bapa Suci mengakui bahwa keberadaan Islam di Semenanjung Iberia telah membentuk "realitas politik, budaya, dan keagamaan yang telah berlangsung lama," ia mendorong negara tersebut untuk terus maju dalam koeksistensi yang damai dan dialog antarumat beragama.

Bapa Suci kemudian menyampaikan terima kasih kepada Spanyol atas komitmennya terhadap perdamaian, multilateralisme, dan hukum internasional, serta mendorong bangsa tersebut untuk mempromosikan perdamaian dan keselarasan di dalam maupun di luar negara mereka.

"Tuhan memberkati Spanyol!" ucap Paus Leo.

Paus Leo XIV di akhir pidatonya di hadapan otoritas di Spanyol
Paus Leo XIV di akhir pidatonya di hadapan otoritas di Spanyol   (@Vatican Media)
06 Jun 2026, 13:33