Paus Setujui Beatifikasi 20 Martir Spanyol
Oleh Edoardo Giribaldi
Paus Leo XIV memberikan otorisasi kepada Dikasteri untuk Perkara Para Kudus untuk menerbitkan dekrit yang mengakui kemartiran 20 imam diosesan dari pulau Ibiza dan Formentera, Spanyol, yang dibunuh karena kebencian terhadap iman selama Perang Saudara Spanyol.
Pengakuan tersebut membuka jalan bagi beatifikasi mereka.
Persetujuan itu diberikan Paus dalam audiensi dengan Kardinal Marcello Semeraro, Prefek Dikasteri untuk Perkara Para Kudus, pada 18 Juni 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Paus juga mengakui kebajikan heroik lima Hamba Allah yang kini menyandang gelar Venerabilis (Yang Mulia), yaitu Madre Clara Andreu y Malferit, seorang religius dari Mallorca pada abad ke-17; Romo Júlio Emílio Alberto De Lombaerde, misionaris asal Belgia dan pendiri sejumlah kongregasi religius; Suster Maria Petra Giordano, seorang biarawati Dominikan dari Italia; Madre Maria Teresa Tallon, pendiri Kongregasi Parish Visitors of Mary Immaculate di Amerika Serikat; serta Madre Maria Agnese Tribbioli, pendiri Kongregasi Pious Workers of Saint Joseph.
Martir dari Ibiza dan Formentera
Dua puluh imam tersebut, yang dipimpin oleh Romo Juan Torres Torres, dibunuh antara Agustus dan September 1936 dalam gelombang penganiayaan antiagama yang menyertai Perang Saudara Spanyol.
Pada masa itu, mereka merupakan hampir setengah dari jumlah klerus yang bertugas di Ibiza. Pembatasan terhadap kegiatan keagamaan yang semakin ketat bahkan memaksa keuskupan menghentikan prosesi-prosesi publik demi alasan keamanan.
Penganiayaan tersebut semakin meningkat melalui berbagai tindakan kekerasan dan penodaan tempat-tempat suci yang bertujuan menghapus identitas Katolik di kepulauan tersebut.
Romo Juan Torres Torres, yang termuda di antara kelompok itu, dikenang karena kerendahan hati dan kemurahan hatinya. Hingga kini, kenangan akan para martir tersebut tetap hidup dalam kehidupan Gereja setempat.
Madre Clara Andreu y Malferit
Madre Clara Andreu y Malferit lahir di Mallorca pada tahun 1596. Sejak usia muda ia memasuki Biara Santo Bartolomeus di Inca dan mengabdikan hidupnya dalam doa serta pelayanan.
Ia dikenal memiliki pengalaman-pengalaman mistik yang mendalam. Ketika otoritas Gereja menyelidiki pengalaman tersebut, ia menanggapinya dengan ketaatan dan kerendahan hati yang patut diteladani.
Nama baiknya sebagai pribadi yang kudus tetap hidup hingga saat ini, dan biara tempat ia menjalani hidup religius masih menjadi tujuan ziarah banyak umat.
Suster Maria Petra Giordano
Lahir di Napoli pada tahun 1912 dan kemudian dibesarkan di Roma, Suster Maria Petra Giordano menemukan panggilan hidup religiusnya di Basilika Santa Maria sopra Minerva sebelum bergabung dengan Biara Dominikan Santa Maria del Sasso di Toscana.
Pada usia yang relatif muda, ia dipercaya menjadi pembimbing para novis dan kemudian terpilih sebagai priora.
Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan diri untuk menghidupi Injil dan membina para suster dalam kehidupan religius. Setelah wafat pada tahun 2006, proses pengusulan kekudusannya didukung oleh banyak kesaksian saksi mata.
Madre Maria Teresa Tallon
Madre Maria Teresa Tallon lahir di Negara Bagian New York pada tahun 1867 dari keluarga imigran Irlandia. Sejak usia dini, ia merasakan panggilan untuk mengabdikan hidupnya kepada Allah.
Setelah bergabung dengan Kongregasi Sisters of the Holy Cross, ia berkarya sebagai guru dan melayani orang-orang sakit. Dalam sebuah wabah difteri di San Francisco, ia bahkan tertular penyakit tersebut saat merawat para pasien.
Pada tahun 1908, ketika bertugas di Manhattan, ia mendirikan Kongregasi Parish Visitors of Mary Immaculate. Ia membayangkan sebuah komunitas perempuan yang menghadirkan kehadiran Kristus ke rumah-rumah dan lingkungan masyarakat.
Hidupnya berpusat pada Allah serta pelayanan pendidikan dan pendampingan bagi mereka yang paling membutuhkan.
Romo Júlio Emílio Alberto De Lombaerde
Romo Júlio Emílio Alberto De Lombaerde lahir di Belgia pada tahun 1878. Sebagai anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus, ia mengabdikan hidupnya bagi karya misi dan mendirikan tiga kongregasi religius.
Setelah menerima pembinaan misioner bersama Misionaris Bunda Maria Afrika, ia diutus ke Brasil pada tahun 1912. Di sana ia berkarya dalam bidang pastoral, pendidikan, dan katekese, terutama di wilayah-wilayah terpencil Amazon.
Ia memperoleh kewarganegaraan Brasil pada tahun 1941 dan sering mengungkapkan kecintaannya kepada negara yang menjadi tanah pengabdiannya tersebut.
Romo De Lombaerde meninggal dunia akibat kecelakaan mobil pada malam Natal tahun 1944. Hidupnya dikenang karena semangat kerasulan, ketekunan dalam doa, dan kepercayaan yang teguh kepada Allah.
Madre Maria Agnese Tribbioli
Madre Maria Agnese Tribbioli lahir di Florence pada tahun 1879. Setelah melewati masa kecil yang penuh kesulitan, ia memilih hidup religius dan kemudian mendirikan Kongregasi Pious Workers of Saint Joseph di Keuskupan Imola.
Selama Perang Dunia II, ia mengembangkan berbagai karya amal dan kemanusiaan. Salah satu tindakan paling berani yang dilakukannya adalah memberikan perlindungan kepada sekelompok orang Yahudi meskipun menghadapi risiko besar.
Atas kesaksian keberaniannya itu, ia kemudian diakui sebagai Righteous Among the Nations, penghargaan yang diberikan kepada mereka yang membantu menyelamatkan orang Yahudi selama Holocaust.
Terinspirasi oleh kesederhanaan dan kemiskinan Santo Fransiskus dari Assisi, ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani mereka yang membutuhkan. Ia wafat pada tahun 1965 dalam usia 85 tahun.
