Paus Serukan Pertobatan pada Para Pelaku Perdagangan Manusia
Vatican News
Paus Leo sekali lagi menyerukan komitmen baru terhadap integrasi para imigran. Ia menegaskan bahwa penyambutan tidak boleh berhenti pada bantuan darurat semata, tetapi harus menjadi sebuah proses yang memulihkan martabat, rasa memiliki, dan kesempatan untuk membangun kehidupan.
Berbicara kepada kelompok-kelompok Gereja, lembaga amal, dan organisasi sipil di San Cristóbal de La Laguna pada Jumat, hari terakhir Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol, Paus merefleksikan peran Kepulauan Canaria yang hingga kini tetap menjadi salah satu jalur migrasi utama menuju Eropa.
Pertemuan tersebut berlangsung di Plaza del Cristo de La Laguna, Tenerife. Dalam kesempatan itu Paus memuji karya berbagai organisasi yang mendampingi para imigran setelah mereka tiba di pulau-pulau tersebut serta menantang masyarakat untuk melampaui rasa takut dan sikap acuh tak acuh.
Kota tanpa tembok
Mengawali pidatonya, Paus Leo merujuk pada gambaran yang pernah ia dengar mengenai La Laguna sebagai “kota tanpa tembok”. Menurutnya, gambaran itu menunjuk pada tantangan yang lebih mendalam. Ia menjelaskan bahwa “tembok yang paling sulit diruntuhkan tidak selalu terbuat dari batu,” melainkan sering kali “berada dalam sikap kita sendiri, dalam rasa takut atau ketidakpedulian.”
Dalam beberapa tahun terakhir, Kepulauan Canaria telah menjadi salah satu perbatasan migrasi tersibuk di wilayah Uni Eropa. Terletak sekitar 100 kilometer dari pantai barat laut Afrika, kepulauan Spanyol ini sering menjadi wilayah Eropa pertama yang dicapai para imigran dan pengungsi yang berangkat dari Senegal, Mauritania, Mali, Gambia, dan negara-negara lainnya.
Jalur Atlantik dianggap sebagai salah satu koridor migrasi paling berbahaya di dunia. Setiap tahun ribuan orang mencoba menyeberang dengan perahu yang penuh sesak dan sering kali tidak layak untuk dipakai melaut. Banyak yang tiba dalam kondisi kelelahan setelah berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu berada di laut, sementara tak terhitung banyaknya yang tidak pernah berhasil menyelesaikan perjalanan itu.
“Laut yang mengelilingi pulau-pulau ini membawa kepada kita kisah-kisah yang sering kali tidak kita ketahui bagaimana harus menafsirkannya: kisah penderitaan, harapan, dan pencarian,” kata Paus.
Belajar melihat dengan cara yang berbeda
Refleksi Paus Leo menekankan gagasan bahwa integrasi menuntut cara pandang yang berbeda. Dengan mengambil contoh huruf braille dan bentuk-bentuk komunikasi melalui sentuhan, ia mengatakan bahwa manusia perlu belajar “membaca” kehidupan para imigran melalui kedekatan dan perjumpaan, bukan melalui statistik atau kategori administratif.
“Ada orang yang melihat, tetapi tidak sungguh mengenali,” katanya. “Mereka mengubah wajah menjadi angka, kisah hidup menjadi berkas, dan perbedaan menjadi jarak.” Sebaliknya, menurut Paus, Injil mengajarkan cara memandang yang berakar pada kesabaran, pendampingan, dan solidaritas nyata.
Melampaui amal kasih
Paus kemudian menegaskan bahwa solidaritas tidak boleh direduksi menjadi filantropi atau tindakan kebaikan sesaat. “Penyambutan membuka pintu; integrasi membantu seseorang melintasi ambang pintu itu,” katanya. “Bantuan mengobati luka, sedangkan integrasi membangun kembali masa depan.”
Ia menolak pendekatan yang memaksa para imigran meninggalkan identitas mereka maupun pendekatan yang membiarkan kelompok-kelompok hidup terpisah tanpa interaksi yang bermakna.
Sebaliknya, integrasi adalah “sebuah perjalanan timbal balik”, di mana para pendatang belajar bahasa, hukum, dan budaya masyarakat baru, sementara masyarakat penerima belajar memperluas cakrawala tanpa kehilangan identitasnya sendiri.
Kepada para imigran secara langsung, Paus Leo mendorong setiap orang untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan komunitas baru mereka dan mempersembahkan talenta serta pengalaman yang dimiliki demi kebaikan bersama.
Lebih dari sekadar masalah yang harus dikelola
Paus Leo juga menantang cara pandang yang mereduksi migrasi menjadi persoalan politik atau administratif semata. “Kita berbicara, pertama-tama, tentang manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah,” katanya, “bukan tentang kategori hukum atau masalah yang harus dikelola.”
Ia kemudian merefleksikan beberapa kesaksian yang baru saja didengarnya, termasuk dari dua imigran bernama Khalid dan Mbacke. Paus mencatat bahwa banyak orang yang tiba di pulau-pulau ini bukan hanya mencari keselamatan, tetapi juga kesempatan untuk membangun kembali kehidupan baru.
“Mereka mencari seseorang yang dapat mengatakan kepada mereka melalui tindakan, bukan hanya kata-kata: hidupmu tidak sia-sia; penderitaanmu tidak tak terlihat; martabatmu tidak hanyut bersama air yang telah kau seberangi.”
Pada saat yang sama, mereka juga mencari kesempatan untuk bekerja, berkontribusi, dan mengambil bagian dalam masyarakat, bukan selamanya didefinisikan oleh kerentanan mereka.
Mencegah kapal karam kedua
Paus Leo kemudian berbicara mengenai apa yang ia sebut sebagai “kapal karam yang sunyi” yang dapat terjadi setelah para imigran berhasil tiba dengan selamat. Meskipun banyak orang meninggal saat menyeberangi laut, sebagian lainnya menghadapi isolasi, eksploitasi, dan pengucilan setelah mencapai tujuan.
“Ada juga kapal karam yang sunyi yang terjadi setelah kedatangan,” katanya, merujuk pada mereka yang hidup “tanpa suara, tanpa relasi, tanpa pekerjaan, dan tanpa rasa aman.”
“Integrasi berarti mencegah kapal karam kedua itu,” tegasnya. Karena itu, ia memuji karya Caritas keuskupan, kantor-kantor migrasi, paroki-paroki, dan organisasi lokal yang mendampingi para imigran agar bisa melampaui fase darurat serta membantu mereka membangun kehidupan yang stabil dalam masyarakat.
Peringatan bagi para pelaku perdagangan manusia
Paus Leo XIV kemudian menyampaikan seruan tegas kepada mereka yang memperoleh keuntungan dari migrasi dan penderitaan manusia. Ia secara khusus menujukkan pesannya kepada para pelaku perdagangan manusia, pihak-pihak yang mengeksploitasi para imigran, serta jaringan kriminal yang terlibat dalam pemindahan dan penyalahgunaan orang-orang yang rentan.
“Berhentilah. Bertobatlah,” tegas Paus.
Ia mengingatkan bahwa setiap nyawa yang hilang, setiap keluarga yang ditipu, setiap tubuh yang diperbudak, setiap perempuan yang diancam, dan setiap pekerja yang dieksploitasi, kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan ilahi.
Paus juga mengecam mereka yang mengorganisasi jalur migrasi berbahaya, mengeksploitasi tenaga kerja, mengancam perempuan, dan meraup keuntungan dari keputusasaan orang lain. Menurutnya, “air mata dan darah saudara-saudari ini berseru kepada Allah.”
“Uang yang diperoleh dengan memanfaatkan kerentanan kaum miskin tidak akan pernah membawa kedamaian, kehormatan, ataupun masa depan,” lanjutnya.
Karena itu, Paus mendesak para pelaku untuk membebaskan mereka yang dieksploitasi, mengembalikan apa yang telah dirampas, dan mencoba melakukan rekonsiliasi sebelum semuanya terlambat.
Tanggapan seorang kristiani
Paus mengingatkan bahwa integrasi para imigran tidak boleh dipandang semata-mata sebagai proyek sosial.
Selain dukungan praktis seperti penyediaan tempat tinggal, bantuan bahasa, kesempatan kerja, dan perlindungan hukum, para imigran juga perlu menemukan komunitas-komunitas Kristiani yang mampu menawarkan persahabatan, kesaksian hidup, dan pendampingan.
“Gereja yang menerima dengan tangan terbuka juga adalah Gereja yang mewartakan,” kata Paus. Namun, ia menegaskan bahwa Injil harus dibagikan tanpa paksaan dan selalu dengan menghormati kebebasan hati nurani setiap orang.
Menjelang akhir sambutannya, Paus Leo kembali mengangkat kisah pelarian Keluarga Kudus ke Mesir sebagai simbol yang terus relevan bagi para imigran dan pengungsi sepanjang sejarah.
“Keluarga Kudus Nazaret,” tutupnya, “tetap menjadi teladan dan tempat perlindungan bagi setiap keluarga pengungsi, setiap imigran, dan setiap orang yang terpaksa meninggalkan tanah airnya.”
