Cari

Paus: Saya Dikuatkan oleh Iman dan Sukacita Umat Spanyol

Oleh Deborah Castellano Lubov

“Umat Allah memberikan penghiburan yang besar kepada saya melalui ungkapan iman dan kasih mereka yang penuh sukacita.”

Demikian disampaikan Paus Leo XIV dalam Audiensi Umum mingguan di Lapangan Santo Petrus ketika merefleksikan Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol yang meliputi Madrid, Barcelona, Biara Montserrat, dan Kepulauan Canaria.

Paus mengenang bahwa setelah melakukan perjalanan panjang ke empat negara di Afrika, kali ini ia mengunjungi sebuah negara Eropa yang memiliki tradisi Katolik kuno dan sangat kaya. Meskipun mengalami berbagai perubahan sosial dan budaya yang signifikan, Spanyol tetap menyambutnya dengan antusiasme dan keterbukaan untuk mendengarkan.

Untuk itu, Paus menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan dan seluruh rakyat Spanyol, Raja Spanyol, otoritas sipil, para uskup, serta komunitas-komunitas Gereja yang telah menyambutnya.

Ia juga berterima kasih atas kesempatan untuk meneguhkan umat beriman dan, sebagai Uskup Roma, mendorong mereka agar mengatasi segala bentuk perpecahan dan konflik dengan terus memajukan persekutuan, dialog, dan persatuan dalam keberagaman.

“Ini merupakan pelayanan khas Penerus Santo Petrus, yang menemukan ekspresi konkretnya dalam Perjalanan Apostolik yang selalu disesuaikan dengan situasi Gereja dan masyarakat di negara yang dikunjungi,” jelas Paus.

Sambutan Hangat yang Tidak Boleh Dianggap Biasa

Selama berada di Spanyol, Paus mengatakan dirinya melihat dengan sukacita bagaimana orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang menantikan kedatangannya serta menyambutnya dengan penuh kehangatan.

“Fakta ini tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan layak untuk direnungkan,” katanya.

Menurut Paus, partisipasi besar tersebut memang mencerminkan iman umat Katolik Spanyol. Namun pada saat yang sama, hal itu juga menunjukkan adanya kebutuhan yang luas untuk menemukan persatuan di atas dasar yang sejati dan mendalam, bukan atas dasar ideologi atau kepentingan-kepentingan sempit.

Dasar sejati itu, tegas Paus, hanya dapat diberikan oleh Kristus.

Warisan yang Harus Dijaga

Bapa Suci kemudian mengenang berbagai perayaan liturgi yang dipimpinnya di Madrid dan Barcelona, serta doa Rosario yang dipanjatkannya di Biara Montserrat.

“Perjumpaan antara tradisi Katolik yang kuno dan budaya kontemporer ini memungkinkan saya merasakan secara langsung karakter khas Eropa, dengan kekayaannya yang tak ternilai sebagai realitas yang hidup, bukan sekadar warisan masa lalu,” katanya.

Paus menegaskan bahwa warisan tersebut harus dijaga dan dipelihara dengan penuh perhatian agar dapat memberikan sumbangan bagi dunia global masa kini yang menghadapi tantangan-tantangan besar seperti perdamaian, ekologi integral, pembangunan yang adil dan berkelanjutan, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Menjawab Tantangan Zaman

Menurut Paus, berbagai tantangan tersebut telah diakui secara jelas oleh Konsili Vatikan II dan terus diperdalam oleh Magisterium Gereja sesudahnya, termasuk dalam ensikliknya sendiri, Magnifica humanitas, yang bertujuan menjaga martabat manusia di era kecerdasan buatan.

Melalui berbagai pertemuan selama kunjungan tersebut, Paus mengatakan ia merasakan kebutuhan banyak orang untuk mendengar Injil harapan melalui suara Paus.

“Kemanusiaan masa kini sedang sangat terluka oleh konsekuensi negatif dari model pembangunan yang menyesatkan,” ujarnya.

Kesaksian yang Menguatkan

Paus Leo XIV juga bersyukur atas berbagai perjumpaan yang mengharukan dan kesaksian yang membangun selama perjalanan tersebut.

Secara khusus, ia mengenang wajah anak-anak dan orang-orang miskin yang ditemuinya, termasuk seorang anak yang membacakan suratnya di sebuah paroki, para korban pelecehan yang meminta untuk didengarkan, para narapidana yang menantinya di penjara, kaum muda yang dipenuhi kecemasan sekaligus harapan, serta para migran yang tinggal di pusat-pusat penerimaan di Kepulauan Canaria.

Pada bagian akhir perjalanan, Paus menyoroti realitas Gereja lokal di Kepulauan Canaria yang menerima banyak migran paksa, terutama yang berasal dari Afrika.

“Kita mengetahui bahwa fenomena migrasi sangat kompleks dan membutuhkan rencana tindakan yang terorganisasi serta terkoordinasi,” katanya.

Namun, menurut Paus, fenomena tersebut juga membuka perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana umat Kristiani dipanggil untuk membaca kembali Injil dalam dunia masa kini melalui pertukaran anugerah budaya masing-masing dan buah-buah yang dihasilkan oleh pesan Kristus dalam berbagai masyarakat.

Arahkan Pandangan kepada Tuhan

Salah satu buah itu, lanjutnya, adalah dialog antarmanusia dan antarbangsa serta perjumpaan dalam semangat persaudaraan.

“Jalan ini tidak mudah. Jalan ini membutuhkan niat baik dan pertolongan Tuhan, tetapi akan membawa kita menuju peradaban kasih,” katanya.

Menutup refleksinya, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa moto Perjalanan Apostolik tersebut adalah “Arahkan Pandanganmu ke Atas!” (bdk. Yohanes 4:35). Ia mengajak semua orang untuk mengangkat pandangan kepada Tuhan. “Marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan,” serunya.

17 Jun 2026, 10:25