Paus: Jadilah Saksi Sukacita Injil dalam Kesatuan dan Keberagaman

Dalam pertemuan bersama komunitas Keuskupan Agung Madrid di Stadion Santiago Bernabéu, Paus merefleksikan makna Baptisan, sinodalitas, dan evangelisasi dengan bertolak dari berbagai kesaksian yang muncul dari kehidupan umat di keuskupan tersebut.

Oleh Linda Bordoni

Dengan latar Stadion Santiago Bernabéu yang ikonik di Madrid—yang untuk satu malam disulap menjadi tempat perjumpaan iman berskala besar—Paus Leo XIV bertemu dengan Komunitas Keuskupan Agung Madrid pada Senin malam. Dalam kesempatan itu, ia mengajak umat Katolik untuk menjadi sebuah “simfoni harapan” yang mampu berbicara kepada hati sebuah kota yang berubah dengan sangat cepat.

Pertemuan tersebut menandai hari ketiga Perjalanan Apostolik Paus ke Spanyol dan berlangsung sebagai perayaan atas beragam suara yang membentuk Gereja lokal.

Sebelum Paus menyampaikan pidatonya, sejumlah perwakilan komunitas keuskupan memberikan kesaksian pribadi yang mencerminkan keragaman realitas Gereja di Madrid. Mereka terdiri dari seorang awam yang aktif dalam kehidupan paroki, anggota dewan pastoral, seorang imam diosesan, sebuah keluarga migran yang menemukan sambutan dan dukungan di dalam Gereja, serta seorang dewasa muda yang baru menerima Sakramen Baptis.

Kisah-kisah tentang iman, pelayanan, proses discernment, penerimaan, dan pertobatan itu menjadi konteks hidup bagi refleksi Paus mengenai persekutuan, evangelisasi, dan panggilan misioner Gereja dalam masyarakat perkotaan masa kini.

Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid
Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid   (@Vatican Media)

Sebuah Nyanyian Iman

Berbicara di hadapan sekitar 80.000 umat yang memadati stadion, Paus Leo menggambarkan malam itu sebagai “sebuah madah iman yang agung.” Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Uskup Agung Madrid, Kardinal José Cobo Cano, yang menghadirkan gambaran tentang lagu dan harmoni sebagai cara memahami kehidupan Gereja.

“Angka, data, dan fakta saja tidak cukup untuk membangun komunitas,” kata Paus. “Hati kita harus bernyanyi.”

Dengan mengambil simbolisme musik, ia merefleksikan Gereja sebagai komunitas yang belajar “seni polifoni”—sebuah kesatuan yang tidak menghapus perbedaan, tetapi justru menyelaraskannya dalam harmoni.

Kekuatan Baptisan yang Mengubah Hidup

Paus Leo secara khusus menyinggung kesaksian seorang umat yang berbicara mengenai daya transformasi Baptisan. Menurutnya, iman tidak hanya mengubah kehidupan pribadi seseorang, tetapi juga cara seseorang memahami karunia dan talenta yang dimilikinya.

“Apa yang dahulu merupakan karunia pribadi,” ujarnya, “menjadi diarahkan untuk melayani kebaikan bersama.”

Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid
Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid   (@Vatican Media)

Kesatuan dalam Keberagaman

Paus kemudian merefleksikan hubungan antara keberagaman dan persekutuan. Mengutip ensikliknya Magnifica Humanitas, ia mengingatkan kembali sosok Nehemia dalam Kitab Suci yang berhasil mempersatukan seluruh komunitas dalam membangun kembali tembok Yerusalem.

Dengan cara yang sama, umat Kristiani masa kini dipanggil untuk mengubah perbedaan menjadi sumber kekuatan melalui sikap saling mendengarkan, dialog, dan sinodalitas.

Menurut Paus, tantangan ini menjadi semakin mendesak di kota-kota besar seperti Madrid, tempat berbagai budaya, tradisi, dan pengalaman hidup bertemu. Kota itu menawarkan peluang besar bagi evangelisasi, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru bagi Gereja.

Karena itu, ia mengajak umat Katolik untuk menolak godaan menutup diri dalam lingkaran yang sudah akrab dan berani melangkah menuju “jantung kota”, tempat berbagai narasi budaya baru dan realitas sosial sedang dibentuk.

“Untuk menjangkau jantung kota,” katanya, “kita perlu mengembangkan kesadaran bahwa kebenaran itu bersifat simfonis dan selalu melampaui diri kita.”

Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid
Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid   (@Vatican Media)

Kebaikan Hati

Dalam konteks tersebut, Paus menegaskan bahwa kebaikan hati merupakan dimensi penting dari kesaksian Kristiani. Di tengah masyarakat yang kerap ditandai oleh fragmentasi, ketidakpastian, dan kesepian, pewartaan Injil berisiko kehilangan daya jika terlepas dari perjumpaan manusiawi yang tulus.

Merefleksikan keragaman Madrid yang kaya, Paus Leo mengingatkan bahwa belas kasih Allah merangkul setiap orang tanpa kecuali. Misi Gereja, katanya, adalah menghadirkan secara nyata panggilan universal menuju kepenuhan hidup yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Kesaksian-kesaksian yang disampaikan sebelumnya berulang kali muncul dalam refleksinya. Secara khusus merujuk pada keluarga migran yang menceritakan pengalaman mereka diterima oleh Gereja, Paus menegaskan bahwa banyak orang datang ke komunitas Kristiani dengan membawa ketakutan yang lahir dari prasangka atau kekecewaan.

“Kebaikan hati, meskipun hanya ditunjukkan oleh segelintir orang, dapat mengalahkan ketakutan banyak orang,” katanya.

Dewan Pastoral

Paus juga menyoroti peran dewan pastoral paroki dan keuskupan. Ia mengingatkan agar dewan pastoral tidak direduksi sekadar menjadi struktur administratif.

Sebaliknya, dewan pastoral harus menjadi ruang istimewa bagi discernment bersama, tempat umat belajar mendengarkan Roh Kudus dan menemukan bagaimana Tuhan memanggil Gereja untuk menjawab tantangan-tantangan zaman.

Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid
Paus Leo XIV di Stadion Bernabéu, Madrid   (@Vatican Media)

Lihatlah Musik Injil!

Secara khusus berbicara kepada para imam, Paus mendorong mereka untuk menghidupi praktik discernment sinodal sebagai sumber pembaruan dan penghiburan dalam pelayanan mereka. Praktik itu membantu komunitas memahami perubahan sosial, perkembangan budaya, dan realitas lokal dalam terang Injil.

Menjelang akhir pertemuan, Paus Leo kembali merujuk pada berbagai suara yang telah didengar sepanjang malam. Kisah-kisah yang dibagikan oleh anggota komunitas keuskupan, katanya, memperlihatkan Gereja yang hidup oleh iman dan kemurahan hati.

Sebagai penutup, ia mengajak semua yang hadir untuk: “Lihatlah Gereja! (...) Lihatlah musik Injil!”

“Jadilah bagi semua orang seperti Kitab Suci yang terbuka,” serunya. “Semoga Sabda Allah dapat ditemukan dalam wajah dan kehidupan kalian. Sebab kasih adalah bahasa yang membuat setiap orang merasa berada di rumahnya sendiri.”

08 Jun 2026, 21:17