Arsip Foto saat Paus Leo XIV bertemu dengan para anggota ROACO (Reunion of Aid Agencies for the Oriental Churches) di Vatikan pada 26 Juni 2025. Arsip Foto saat Paus Leo XIV bertemu dengan para anggota ROACO (Reunion of Aid Agencies for the Oriental Churches) di Vatikan pada 26 Juni 2025.  (@Vatican Media)

Paus kepada ROACO: Gereja Membangun Masa Depan, Perang Menghancurkan Masa Kini

Paus Leo XIV mendorong Gereja-Gereja Katolik Timur untuk terus memperkaya Gereja universal dengan kekayaan spiritualnya. Dalam kesempatan yang sama, Bapa Suci mengecam perang dan ketidakstabilan yang memaksa banyak umat Kristen meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Oleh Devin Watkins

Paus Leo XIV menerima para peserta sidang pleno Reunion of Aid Agencies for the Oriental Churches (ROACO) pada Kamis, 18 Juni 2026.

Dalam sambutannya, Paus mengapresiasi perhatian pertemuan tersebut terhadap pentingnya mendukung pembinaan imam dan biarawan di seminari-seminari Gereja Timur.

Menurut Bapa Suci, Gereja-Gereja Katolik Timur memiliki kekayaan spiritual yang sangat berharga untuk dibagikan kepada seluruh Gereja. Karena itu, pembinaan para pelayan Gereja tetap menjadi unsur penting bagi pertumbuhan dan kehidupan umat beriman.

“Bunda Gereja adalah satu, tetapi tidak seragam. Dari rahimnya yang subur lahir berbagai tradisi spiritual dan teologis, juga berbagai ritus dan disiplin yang saling memperkaya satu sama lain,” kata Paus.

Ia menambahkan bahwa Gereja-Gereja Timur membantu umat Katolik kembali kepada akar-akar iman Kristiani melalui liturgi mereka yang memancarkan terang rahmat Allah.

Namun, Paus menegaskan bahwa warisan Kristiani Timur hanya dapat dipelihara jika sungguh dipahami. Karena itu, investasi dalam bidang pendidikan dan pembinaan menjadi sangat penting.

Bapa Suci menyampaikan dukungannya terhadap keputusan ROACO untuk membantu membiayai pendidikan calon imam dan diakon di berbagai Gereja Timur.

“Hubungan antara pengetahuan dan kasih, antara pikiran yang terbuka dan tangan yang bekerja, juga membutuhkan dimensi spiritual: hati yang bukan hanya murah hati, tetapi juga dipenuhi rahmat dan dinyalakan oleh Roh Kudus,” ujarnya.

Perang Menabur Kematian

Dalam bagian lain pidatonya, Paus Leo XIV menyoroti beban berat yang ditimbulkan oleh perang dan ketidakstabilan yang dipicu oleh mereka yang terus mendorong terjadinya konflik.

“Sementara Anda melahirkan kehidupan, mereka menaburkan kematian. Sementara Anda merangkul saudara, mereka mencari musuh untuk dihancurkan. Sementara Anda membangun dialog, mereka memilih monolog. Sementara Anda membuka jalan harapan, mereka mengurung orang dalam ketakutan. Sementara Anda membangun masa depan, mereka menghancurkan masa kini,” kata Paus.

Menurutnya, kontras tersebut memperlihatkan bagaimana sebagian orang menggunakan sumber daya untuk membantu mereka yang membutuhkan, sementara yang lain justru menghamburkannya untuk perang dan kehancuran.

Eksodus Umat Kristen Timur

Paus juga menyinggung apa yang disebutnya sebagai “eksodus yang menyakitkan” umat Kristen Timur dari tanah kelahiran mereka, yang terutama disebabkan oleh perang.

Fenomena itu, katanya, telah melahirkan berbagai tragedi kemanusiaan yang sering kali luput dari perhatian dunia internasional.

“Ada sebuah wabah, sebuah luka yang lahir dari perang, yang terus menguras kehidupan Gereja-Gereja Timur. Saya menyebutnya dengan satu kata: ketidakstabilan,” ujarnya.

Menurut Paus, bahkan ketika perang berakhir, masyarakat tetap menanggung luka mendalam akibat keberadaan kelompok bersenjata, lemahnya institusi negara, serta berbagai campur tangan yang didorong oleh kepentingan tertentu.

“Sistem seperti itu tidak berjalan secara bebas, tetapi terjebak dalam labirin tipu daya, kesepakatan tersembunyi, dan kepentingan partisan,” kata Paus.

Akibatnya, lanjutnya, tercipta lingkaran ketidakstabilan yang terus-menerus menghambat pembangunan dan selalu memberikan dampak paling berat kepada mereka yang miskin dan rentan.

Dampak bagi Keluarga dan Kaum Muda

Bapa Suci juga menyoroti dampak ketidakstabilan terhadap dunia kerja, yang menyebabkan banyak keluarga hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

Kaum muda, menurutnya, menjadi kelompok yang paling merasakan akibat dari kondisi tersebut karena kehilangan kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Menutup pidatonya, Paus Leo XIV mengajak semua pihak untuk merenungkan konsekuensi luas dari perang dan ketidakstabilan, sekaligus menyadari bahwa kekerasan sering kali berbalik melukai mereka yang mengobarkannya.

“Mari kita berdoa kepada Yesus, Tuhan Sang Raja Damai, dan mengetuk hati nurani manusia agar tergerak oleh keprihatinan. Semoga penghormatan terhadap martabat manusia dan rasa peradaban yang sejati kembali ditegakkan,” tuturnya.

Dengarkan laporan kami (Bahasa Inggris)
18 Jun 2026, 12:49