Di Pavia, Paus : Santo Agustinus Ajarkan Pentingnya Kembali ke Kedalaman Batin
Oleh Joseph Tulloch
Paus Leo XIV memulai kunjungan pastoralnya ke Kota Pavia, Italia utara, dengan mengunjungi Basilika Santo Petrus di Ciel d’Oro (Basilica di San Pietro in Ciel d’Oro), gereja abad ke-8 yang menjadi tempat peristirahatan Santo Agustinus.
Di basilika tersebut hadir umat Katolik dari Pavia dan wilayah Lombardia, bersama para imam, biarawan-biarawati, seminaris, dan para uskup. Setelah memimpin doa singkat dan penghormatan kepada relikui Santo Agustinus, Paus menyampaikan refleksinya kepada umat yang berkumpul.
Jangan Terjebak Pesimisme
Paus menilai Gereja di Pavia memiliki tradisi yang sangat tua, namun tetap mampu membaca tanda-tanda zaman yang terus berubah.
Menurutnya, mereka yang memandang realitas masa kini melalui terang iman yang diwariskan Gereja akan mampu memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan. Dengan cara itu, seseorang tidak mudah putus asa ketika menghadapi berbagai persoalan dan tantangan.
Paus mengajak umat meneladani Yesus yang, di tengah kesulitan dan berbagai penolakan, tetap mampu melihat karya penyelenggaraan ilahi Allah bahkan melalui ciptaan yang sederhana seperti burung-burung di udara dan bunga-bunga di ladang.
Menempatkan Kristus di Pusat Kehidupan Gereja
Paus Leo XIV juga mengakui bahwa paroki-paroki di Pavia menghadapi banyak kebutuhan dan tuntutan pelayanan. Namun, ia menegaskan pentingnya mengarahkan seluruh aktivitas Gereja kembali kepada pusatnya, yakni Kristus.
Tanpa Kristus sebagai batu penjuru, katanya, berbagai karya dan kegiatan Gereja berisiko menjadi terpecah-pecah dan hanya berpusat pada usaha manusia semata.
Menurut Paus, upaya untuk kembali pada inti panggilan Gereja terkadang menuntut keberanian untuk melepaskan sebagian struktur dan rasa aman yang diwarisi dari masa lalu.
Meski demikian, ia mendorong Gereja di Pavia untuk tetap menghargai warisan berharga yang dimiliki, seperti tradisi oratori atau pusat pembinaan kaum muda yang dikelola paroki dan hingga kini masih memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Lombardia.
Pada saat yang sama, Gereja juga perlu terus mengembangkan pendekatan-pendekatan baru seperti sinodalitas, yang menekankan semangat berjalan bersama, mendengarkan, dan berdiskusi dalam kehidupan menggereja.
Santo Agustinus dan Perjalanan ke Dalam Diri
Dalam refleksinya, Paus menegaskan bahwa Santo Agustinus dapat menjadi penuntun yang berharga bagi Gereja dan umat beriman di tengah berbagai perubahan zaman.
Menurut Paus, warisan terbesar Santo Agustinus adalah ajarannya tentang pentingnya kehidupan batin dan pencarian kebenaran dalam diri manusia.
Mengutip karya Agustinus De Vera Religione, Paus mengingatkan:
“Jangan pergi keluar dari dirimu sendiri. Kembalilah ke dalam dirimu. Kebenaran tinggal di dalam diri manusia.”
Pesan tersebut, menurut Paus, sangat relevan bagi dunia modern yang sering kali membuat manusia kehilangan arah karena terlalu larut dalam berbagai tuntutan dan distraksi eksternal.
“Manusia masa kini membutuhkan kemampuan untuk masuk ke dalam dirinya sendiri agar tidak kehilangan jati dirinya, serta menemukan makna yang mampu membimbing hidupnya,” kata Paus.
Ia berharap teladan Santo Agustinus terus menginspirasi umat untuk mengembangkan kehidupan rohani yang mendalam, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman dengan harapan, kebijaksanaan, dan keyakinan akan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari.
