Cari

Paus Leo XIV mengajak para Uskup Agung baru menjadi Gembala yang Baik dalam Perayaan Santo Petrus dan Paulus

Dalam Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Paus Leo XIV mengajak umat beriman untuk meneladani kedua pelindung Kota Roma yang, meskipun memiliki kelemahan, menjadi saksi-saksi luar biasa Injil. Kepada para Uskup Agung Metropolitan yang menerima pallium, Paus mengundang mereka untuk meneladan Kristus sebagai Gembala yang Baik bagi umat yang dipercayakan kepada mereka.

Oleh Deborah Castellano Lubov

“Penting bagi kita pada hari ini untuk memandang kepada kedua santo ini—Petrus dan Paulus—agar kita pun dapat menjadi rasul-rasul dan pembangun persatuan, serta pelayan-pelayan kebenaran dalam kasih.”

Demikian ditegaskan Paus Leo XIV dalam homilinya pada Misa Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Pelindung Kota Roma, yang dipimpinnya pada Senin pagi di Basilika Santo Petrus.

BACA HOMILI PAUS LEO SECARA PENUH.

Dalam perayaan Ekaristi tersebut juga dilangsungkan ritus  pemberkatan traditional dan pemasangan pallium kepada para Uskup Agung Metropolitan yang baru.

Penerimaan Pallium
Penerimaan Pallium   (@Vatican Media)

Dua pilar Gereja

Dalam homilinya, Bapa Suci mengajak umat merenungkan sosok Santo Petrus dan Santo Paulus, pelindung Kota dan Keuskupan Roma. Petrus, katanya, dipilih Yesus untuk menggembalakan kawanan-Nya, sedangkan Paulus dipanggil menjadi Rasul bagi bangsa-bangsa.

“Dalam diri mereka,” ujar Paus, “kita menghormati dua pilar Gereja.”

Mengenang Santo Petrus, Paus menyoroti bagaimana rasul itu membangun persatuan dan persekutuan bahkan di tengah masa-masa penuh perpecahan dan pergolakan.

Petrus tidak sempurna

Namun, lanjut Paus Leo, kebesaran Petrus tidak berarti bahwa ia adalah pribadi yang tanpa cela.

Saat Sengsara Tuhan, Petrus menyangkal Gurunya. Kemudian ia menangisi kesalahannya dengan pertobatan yang tulus. Bahkan Santo Paulus pernah menegurnya karena ketidakkonsistenan dalam tindakannya.

Meski demikian, Petrus tidak membiarkan kegagalannya melumpuhkan dirinya. Ia mengakui kesalahannya, bertobat, dan tetap setia pada tugas yang dipercayakan Kristus kepadanya: mewartakan Injil dan menggembalakan kawanan-Nya, hingga akhirnya memberikan kesaksian tertinggi melalui kemartiran di Roma.

Menurut Paus, Petrus menerima perutusannya untuk mendengarkan setiap orang dengan bantuan Tuhan, membedakan ilham Roh Kudus, membimbing umat, meluruskan kesalahan, mengajar, menguatkan, menasihati, dan mendampingi saudara-saudari seiman agar bersama-sama bekerja demi keselamatan seluruh umat manusia.

Karena itu, teladan Petrus, kata Paus,” menjadi undangan bagi setiap orang Kristiani untuk menjadi pembangun persatuan dengan menempatkan Allah di pusat kehidupan, serta memperhatikan situasi dan kebutuhan sesama, sehingga Injil dapat diwartakan secara utuh.

Patung Santo Petrus di Basilika Santo Petrus
Patung Santo Petrus di Basilika Santo Petrus   (@Vatican Media)

Allah mengubah hati Saulus

Paus Leo kemudian mengalihkan perhatian kepada Santo Paulus, “pewarta Kabar Baik yang tak kenal lelah.”

Allah, katanya, berkarya secara mengagumkan dalam diri Saulus muda. Ia mengubah hati penganiaya Gereja itu, membawanya kepada pertobatan, memberinya nama baru, lalu mengutusnya mewartakan Injil ke seluruh dunia.

Seperti Petrus, Paulus juga memberikan kesaksian tertinggi melalui kemartiran di kota Roma.

“Rasul bagi bangsa-bangsa itu membiarkan dirinya diubah oleh kuasa Sabda Allah yang membebaskannya dari jalan kekerasan dan menuntunnya ke jalan kasih,” kata Paus.

Mengutip Santo Agustinus, Paus mengingatkan bahwa Allah mengubah seorang penganiaya Gereja menjadi pembawa damai, mengampuni dosa-dosanya dan mempercayakan kepadanya pelayanan untuk membawa pengampunan kepada orang lain.

Pallium sebagai lambang pelayanan

Memandang teladan Petrus dan Paulus, Paus Leo menegaskan bahwa keduanya mengajarkan bagaimana membangun persatuan dan melayani kebenaran dalam kasih.

Dalam semangat itu, Gereja merayakan ritus kuno penganugerahan pallium kepada para Uskup Agung Metropolitan.

Pallium, yang terbuat dari wol putih dan dihiasi salib-salib, melambangkan komitmen setiap gembala—dan setiap orang Kristiani—untuk memanggul saudara-saudari yang dipercayakan kepada mereka laksana anak-anak domba kawanan Tuhan, serta mempersembahkan tenaga, waktu, jerih payah, bahkan hidup mereka demi pelayanan.

Di balik pengorbanan itu, kata Paus, tersimpan kerinduan agar Injil menjangkau semua orang dan seluruh dunia menemukan keselarasan serta damai di dalam Kristus.

Pada kesempatan itu, Paus juga menyampaikan salam hangat kepada Delegasi Patriarkat Ekumenis Konstantinopel yang turut hadir dalam perayaan tersebut.

Semoga Santo Petrus dan Paulus menjagai kita

Menutup homilinya, Paus Leo XIV mengajak seluruh umat “berdoa kepada Santo Petrus dan Santo Paulus agar mereka menopang Gereja dalam menapaki jalan persekutuan mengikuti jejak Sang Juruselamat.”

“Inilah jalan yang telah ditunjukkan Tuhan kepada kita; jalan yang didoakan-Nya kepada Bapa pada Perjamuan Terakhir, dan tujuan yang Dia ajarkan agar kita capai dengan pengharapan yang penuh kepercayaan,” tutup Paus.

29 Jun 2026, 10:20