Cari

Paus: Liturgi Menuntun Kita Kembali kepada Yang Hakiki

Paus Leo XIV menegaskan pentingnya ritus, tanda, dan simbol dalam liturgi sebagai sarana yang membantu umat semakin dekat dengan Allah. Penegasan tersebut disampaikan dalam katekese Audiensi Umum mingguannya yang merefleksikan Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, yang diterbitkan pada tahun 1963.

Isabella H. de Carvalho

 

VATIKAN — Di tengah kehidupan yang dipenuhi kesibukan dan hiruk-pikuk, ritus liturgi beserta tanda dan simbol yang menyertainya membantu manusia berhenti sejenak dan terhubung kembali dengan kehidupan rohani batiniah, sekaligus membawa mereka semakin dekat kepada Kristus dan kasih-Nya.

Hal itu disampaikan Paus Leo XIV dalam Audiensi Umum yang berlangsung di Lapangan Santo Petrus pada Rabu (3/6).

“Dengan kesederhanaan yang khidmat dalam ritmenya, ritus menghentikan aktivitas kita yang serba tergesa-gesa dan menuntun kita kembali kepada hal-hal yang hakiki,” kata Paus.

Menurut Paus, melalui ritus liturgi, umat menemukan dimensi lain dari tindakan manusia yang tidak ditentukan oleh perhitungan produktivitas semata, sekaligus mengalami cara baru memandang waktu dan ruang.

“Dalam ritus kita mengalami logika anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, menemukan jeda yang memperbarui hati, menyadari bahwa rahmat Allah mendahului kita, dan belajar hidup dalam irama yang dipenuhi Roh Kudus,” ujarnya.

Dalam katekese minggu ini, Paus Leo XIV melanjutkan rangkaian refleksinya mengenai dokumen-dokumen Konsili Vatikan II dengan menyoroti Konstitusi Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium yang diterbitkan pada 1963.

Sacrosanctum Concilium merupakan dokumen pertama yang dipromulgasikan dalam Konsili Vatikan II dan membawa berbagai perubahan penting dalam kehidupan liturgi Gereja, termasuk penggunaan bahasa setempat dalam perayaan liturgi serta dorongan bagi partisipasi umat yang lebih aktif.

Paus Leo XIV saat Audiensi Umum
Paus Leo XIV saat Audiensi Umum   (@VATICAN MEDIA)

Jangan Menjadi Penonton yang Diam

Dalam penjelasannya, Paus mengatakan bahwa Konsili Vatikan II, dengan melanjutkan semangat Gerakan Liturgi yang mendorong pembaruan tersebut, membantu menegaskan bahwa ritus liturgi Kristiani bukan sekadar lapisan luar dari misteri sakramental ataupun kumpulan upacara yang bersifat arbitrer.

Sebaliknya, ritus merupakan sarana Gereja yang memungkinkan anugerah ilahi menjangkau umat beriman.

Paus menjelaskan bahwa ritus memberikan bentuk pada tindakan liturgi dan pada akhirnya membentuk kehidupan umat dengan menumbuhkan kepekaan rohani yang membuat mereka mampu merasakan kehadiran Allah melalui Yesus Kristus.

Namun, hal itu hanya dapat terjadi apabila umat berpartisipasi secara aktif dalam liturgi dengan melibatkan seluruh diri mereka—tubuh, pikiran, dan hati—serta tidak menjadi “orang asing atau penonton yang diam”.

Paus juga menegaskan bahwa melalui ritus suci, umat dibentuk untuk mendengarkan Sabda Allah, mengucap syukur, beradorasi, berbagi dalam persaudaraan, dan hidup dalam persekutuan Gereja.

Proses tersebut membantu umat menyadari bahwa mereka merupakan satu persekutuan yang terdiri atas beragam pribadi, namun dipersatukan oleh iman yang sama.

Paus mengakui bahwa ritus tersusun atas rangkaian doa dan gerakan yang telah ditetapkan dengan jelas, sesuatu yang terkadang bertentangan dengan kecenderungan manusia modern yang mengutamakan spontanitas.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa logika ritus bukanlah membatasi kebebasan manusia dalam kerangka yang kaku, melainkan menghubungkan manusia dengan dimensi rohani terdalam dan mengantar mereka kembali kepada hal-hal yang esensial.

Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus
Audiensi Umum di Lapangan Santo Petrus   (@Vatican Media)

Pentingnya Tanda dan Simbol

Paus kemudian mengalihkan perhatiannya pada tanda dan simbol yang menyatu dalam ritus liturgi. Menurutnya, unsur-unsur tersebut membantu proses pengudusan manusia dan berakar dalam ciptaan serta budaya manusia.

Ia menjelaskan bahwa istilah “tanda” dan “simbol” sering digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda.

Sebuah tanda menjadi simbol ketika tidak hanya merujuk pada suatu gagasan, tetapi juga pada keseluruhan sistem makna dan nilai.

Sebagai contoh, ketika umat diperciki air suci, kesadaran akan rahmat Baptisan yang telah diterima serta komitmen untuk hidup baru dalam Kristus kembali dibangkitkan.

Paus juga menyoroti makna khusus simbol air dalam Kitab Suci, mulai dari kisah penciptaan, air bah, penyeberangan Laut Merah, Sungai Yordan, hingga air yang mengalir dari lambung Kristus, yang menjadi tanda sakramental keterlibatan manusia dalam wafat dan kebangkitan-Nya.

Sementara itu, simbol diwujudkan dalam tindakan nyata seperti berlutut, saling memberikan salam damai, maupun tindakan-tindakan yang membentuk setiap sakramen.

“Di atas segalanya, simbol memiliki dimensi performatif dan transformatif yang khas,” kata Paus.

Menurutnya, simbol tidak hanya berkaitan dengan unsur-unsur material yang membentuknya, tetapi juga menyentuh mereka yang berjumpa dengannya, menumbuhkan rasa memiliki, menyentuh hati dan pikiran, serta melahirkan relasi Gerejawi yang autentik.

Paus Leo XIV menyapa pengantin baru saat Audiensi Umum
Paus Leo XIV menyapa pengantin baru saat Audiensi Umum   (@Vatican Media)

Membuka Kembali Diri untuk Berjumpa dengan Allah

Mengakhiri katekesenya, Paus Leo XIV mengajak umat untuk membiarkan diri dibentuk oleh ritus liturgi serta menjaga keindahan perayaan liturgi dengan penuh perhatian dan tanpa tindakan yang sewenang-wenang.

Menurut Paus, pengalaman liturgi yang hidup dan penuh devosi, yang disertai katekese mistagogis yang tepat, merupakan sarana terbaik untuk membangkitkan kembali keterbukaan setiap orang terhadap perjumpaan dengan Allah.

“Dalam logika Inkarnasi, perjumpaan dengan Allah hanya dapat terjadi dengan melibatkan seluruh pribadi manusia: roh, jiwa, dan tubuh,” tuturnya.

03 Jun 2026, 10:20