Paus Leo XIV: Misi Santa Fransiska Xaveria Cabrini bagi Migran Tetap Mendesak di Zaman Sekarang
Vatican News
Kunjungan tersebut berlangsung di Sant’Angelo Lodigiano, kota kelahiran Cabrini pada tahun 1850, dan menjadi bagian dari perjalanan pastoral Paus ke wilayah Pavia. Momen ini sarat makna historis dan spiritual, karena Cabrini—yang kemudian dikenal sebagai pelindung para migran—menghabiskan hidupnya melayani mereka yang terpaksa meninggalkan tanah air demi mencari harapan baru.
Cabrini dan “Tanda-Tanda Zaman”
Dalam permenungan yang disampaikan saat adorasi Ekaristi dan penghormatan relikui hati Santa Cabrini di Gereja St. Antonio Abate dan Santa Fransiska Xaveria Cabrini, Paus Leo XIV menegaskan bahwa kehidupan sang santa merupakan contoh nyata kemampuan Gereja membaca “tanda-tanda zaman”.
Ia mengingat bagaimana Cabrini awalnya bermimpi menjadi misionaris di Tiongkok. Namun arah hidupnya berubah setelah mendapatkan arahan dari Paus Leo XIII, yang justru mengutusnya ke Barat—ke Amerika Serikat—di saat gelombang besar migrasi orang Italia menuju benua tersebut sedang terjadi.
Keputusan itu menunjukkan bahwa misi Gereja bukan sekadar mengikuti keinginan pribadi, tetapi menanggapi kebutuhan nyata umat manusia pada setiap zaman.
Migrasi sebagai Tantangan Abadi Gereja
Dalam pesannya, Paus Leo XIV menegaskan bahwa migrasi masih menjadi salah satu tantangan paling mendesak di dunia modern, meskipun bentuknya kini jauh lebih kompleks dibandingkan era Cabrini.
Ia mengajukan pertanyaan reflektif: “Jika Santa Fransiska Xaveria Cabrini hidup hari ini, apa yang akan dikatakan hati misinya? Apa yang akan dikatakan Hati Kristus kepadanya?”
Pertanyaan itu mengarah pada satu jawaban mendasar: cinta kasih Kristus yang menjadi sumber seluruh karya pelayanan Cabrini.
Santa Cabrini, yang kemudian diangkat menjadi orang kudus pada tahun 1946 dan dikenal sebagai pelindung migran, membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai karya sosial lain di berbagai negara. Namun semua itu bukan sekadar tindakan sosial, melainkan buah dari perjumpaan mendalam dengan kasih Kristus.
Devosi pada Hati Kudus Kristus
Paus juga menyoroti devosi Cabrini pada Hati Kudus Yesus, yang menjadi pusat spiritualitasnya. Ia mengutip keyakinan Cabrini bahwa “tidak ada karya yang terlalu sulit, tidak ada tanah yang terlalu jauh, dan tidak ada pribadi yang terlalu terluka bagi kasih Hati Yesus.”
Refleksi ini sejalan dengan ajaran yang pernah ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Dilexit Nos, yang menekankan kasih ilahi dan manusiawi Kristus sebagai dasar tindakan Gereja di dunia.
Dalam konteks yang sama, Paus Leo XIV juga merujuk pada dokumen apostoliknya sendiri, Dilexi Te, yang menempatkan kesaksian Cabrini bersama Santo Yohanes Pembaptis Scalabrini sebagai inspirasi bagi Gereja masa kini.
Warisan yang Tetap Hidup
Berhadapan dengan relikui hati Santa Cabrini yang dibawa dari rumah induk kongregasinya di Codogno, Paus menegaskan bahwa spiritualitas sang santa tetap relevan di tengah dunia yang ditandai oleh perpindahan manusia, fragmentasi sosial, dan bentuk-bentuk baru kemiskinan.
“Apakah yang lebih relevan hari ini daripada karisma misioner yang melayani para migran?” ujarnya.
Ia juga mengajak kaum muda untuk mengenal lebih dekat kehidupan Cabrini melalui tulisan, surat, dan catatan perjalanannya. Menurutnya, siapa pun yang mempelajari hidup sang santa akan menemukan figur perempuan yang mampu memadukan kontemplasi mendalam dan aksi nyata tanpa terpisah.
Ajakan untuk Gereja Masa Kini
Di akhir pesannya, Paus Leo XIV berharap Gereja lokal Lodi—wilayah yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Cabrini—terus meneladani semangat cinta Kristus, keberanian misioner, dan kepedulian kepada kaum miskin.
Ia juga mengaitkan teladan Cabrini dengan semangat sinodalitas Gereja, yakni panggilan untuk berjalan bersama dalam keberagaman karunia dan pelayanan.
Lebih dari satu abad setelah wafatnya, pesan Cabrini tetap bergema: pelayanan kepada manusia yang menderita harus selalu berakar pada kasih yang mengalir dari Hati Kristus.
Dalam dunia yang masih ditandai oleh migrasi, ketidakpastian, dan penderitaan manusia, Paus Leo XIV menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk tetap memulai dari tempat yang sama seperti Cabrini dahulu—yakni dari cinta yang mengubah dunia.
