Cari

Paus Leo XIV: Hanya Kasih Allah yang Memberikan Sukacita Sejati dan Sempurna

Dalam pesan video kepada Konferensi Kaum Muda Musim Panas Steubenville yang merayakan 50 tahun penyelenggaraan, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa hanya kasih Allah yang mampu memberikan sukacita sejati. Ia juga menegaskan bahwa keyakinan akan kasih Allah membantu seseorang menghadapi berbagai kesulitan hidup tanpa kehilangan harapan.

Oleh Deborah Castellano Lubov

Paus Leo XIV menegaskan bahwa hanya kasih Allah yang dapat memberikan sukacita sejati dan sempurna kepada manusia.

Pesan tersebut disampaikan Bapa Suci melalui video yang dikirimkan kepada para peserta Konferensi Kaum Muda Musim Panas Steubenville yang tahun ini merayakan 50 tahun penyelenggaraannya di Universitas Fransiskan Steubenville, Ohio, Amerika Serikat.

Allah Menganugerahkan Damai dalam Hati

Mengawali pesannya, Paus menyapa para peserta yang mengikuti berbagai rangkaian konferensi Steubenville sepanjang tahun peringatan emas kegiatan tersebut.

Paus juga mengingatkan bahwa tahun ini menandai 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi. Karena konferensi tersebut diselenggarakan oleh Universitas Fransiskan Steubenville, Paus mengajak kaum muda merenungkan pesan Santo Fransiskus mengenai damai sejati dan sukacita yang sempurna.

Menurut Paus, jika seseorang bertemu Santo Fransiskus di jalan-jalan Assisi pada abad ke-13, santo itu kemungkinan akan menyapa dengan senyum penuh kasih sambil mengucapkan, “Pace e bene” atau “Damai dan segala kebaikan.”

Paus kemudian mengajak kaum muda bertanya kepada diri sendiri apakah mereka sungguh menginginkan damai sejati bagi setiap orang yang mereka jumpai.

Ia mengakui bahwa menghadirkan damai bukanlah sesuatu yang mudah. Namun, Santo Fransiskus mampu menaburkan damai bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena ia memiliki sumber damai sejati dalam dirinya, yakni Allah sendiri.

Menjadi Pembawa Damai

Paus Leo XIV menegaskan bahwa damai merupakan anugerah Allah yang diterima ketika seseorang membuka hati bagi kehadiran Tuhan.

Mereka yang menerima damai Kristus, lanjutnya, dipanggil untuk menjadi pembawa damai bagi keluarga, komunitas, bangsa, dan dunia.

Karena itu, Paus mengajak para peserta memanfaatkan saat-saat hening selama konferensi untuk menemukan damai Kristus yang dijanjikan kepada para murid-Nya.

Sukacita Tidak Ditemukan di Dunia Maya

Paus kemudian mengangkat pertanyaan yang sering muncul di kalangan anak muda: apakah mungkin memiliki sukacita di tengah situasi yang sulit?

Menurutnya, hal itu mungkin terjadi jika hidup seseorang dibangun di atas relasi yang erat dengan Allah sebagai Bapa yang penuh kasih.

Paus mengingatkan bahwa sukacita sejati tidak ditemukan melalui perangkat elektronik, berjam-jam di depan layar, atau terus-menerus menjelajahi media sosial.

Aktivitas semacam itu, katanya, sering kali menghabiskan waktu berharga yang seharusnya dapat digunakan untuk berdoa, membangun persahabatan yang autentik, hidup berkeluarga, memperdalam iman, belajar, maupun berolahraga.

Ia juga menegaskan bahwa sukacita tidak dapat ditemukan melalui penyalahgunaan narkoba, konsumsi alkohol berlebihan, perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab, hubungan yang dangkal, obsesi terhadap penampilan, ataupun berbagai perilaku yang merusak diri.

Selain itu, sukacita sejati juga tidak bersumber dari kekayaan, kecantikan, ketenaran, maupun kesehatan, karena semua hal tersebut pada akhirnya akan berlalu.

Dicintai Tanpa Syarat

Paus kembali menegaskan bahwa hanya kasih Allah yang mampu memenuhi hati manusia dengan sukacita yang sejati.

“Jika kita memiliki keyakinan yang mendalam bahwa Allah memelihara kita sebagai anak-anak-Nya yang terkasih, kita tidak akan mudah panik atau putus asa, bahkan dalam situasi yang sulit,” ujarnya.

Bapa Suci mengingatkan bahwa banyak orang telah mendengar sejak kecil bahwa Allah mengasihi mereka. Namun, ia mengajak kaum muda untuk sungguh mempercayai kebenaran tersebut.

“Engkau berharga di mata Allah. Engkau dikasihi-Nya tanpa syarat,” tegas Paus.

Rahasia Menghadapi Kesulitan

Menurut Paus, hubungan yang penuh kepercayaan dengan Allah melalui doa yang teratur dan penerimaan sakramen-sakramen akan membantu seseorang mengatasi kecemasan, kesedihan, dan kesepian.

“Jika kamu menyerahkan dirimu ke dalam tangan-Nya, kecemasan, kesedihan, dan kesepian akan memudar ketika rahmat-Nya memenuhi hidupmu dan kasih-Nya mengobarkan hatimu,” katanya.

Paus menyebut inilah “rahasia” yang memungkinkan seseorang menghadapi berbagai tantangan hidup dengan senyum dan pengharapan.

Menjawab Panggilan Tuhan

Dalam bagian akhir pesannya, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Tuhan membutuhkan para misionaris untuk mewartakan Injil kepada mereka yang belum mengenal-Nya.

Ia mengajak kaum muda untuk terbuka terhadap berbagai panggilan hidup, baik sebagai awam yang kudus, keluarga Katolik yang setia, imam, maupun religius yang menjadi saksi sukacita Kerajaan Allah.

“Jika kamu merasa Tuhan mungkin memanggilmu, jangan menutup diri atau berpaling karena takut. Melangkahlah maju dan katakan kepada Tuhan: ‘Inilah aku, utuslah aku,’” ujar Paus.

Ia juga mendorong mereka untuk tidak takut berbicara mengenai panggilan tersebut dengan sahabat terpercaya, imam, atau biarawan dan biarawati.

Menutup pesannya, Paus Leo XIV mendoakan agar konferensi tersebut menjadi pengalaman yang berbuah bagi seluruh peserta, sehingga mereka semakin dipenuhi kasih Kristus, menemukan teman-teman yang memiliki semangat iman yang sama, dan memperoleh kebahagiaan sejati dalam hidup.

20 Jun 2026, 01:56