Paus Leo: Nostra aetate Ambil Sikap Tegas Lawan Antisemitisme
Oleh Deborah Castellano Lubov
“Dengan mengakui martabat yang melekat pada setiap laki-laki dan perempuan, Nostra aetate mengambil sikap tegas melawan antisemitisme dan menyatakan bahwa Gereja menolak segala bentuk diskriminasi atau pelecehan berdasarkan ras, warna kulit, kondisi kehidupan, atau agama.”
Paus Leo XIV menyampaikan pengingat tersebut ketika bertemu dengan perwakilan United Jewish Appeal–Federation of New York pada Senin pagi di Vatikan.
Rasa Syukur atas Bantuan bagi Kelompok Rentan
Bapa Suci menyambut mereka dengan mengingatkan bahwa organisasi tersebut berperan sebagai sarana filantropi Yahudi global yang menyediakan bantuan kemanusiaan dan layanan sosial bagi kelompok rentan, termasuk kaum miskin, pengungsi, lanjut usia, serta penyandang disabilitas di New York, Israel, dan lebih dari tujuh puluh negara lainnya.
“Upaya-upaya ini,” kata Paus Leo, “mencerminkan pengakuan yang jelas terhadap martabat manusia dan persaudaraan, yang sejalan dengan komitmen Gereja pada pembangunan manusia seutuhnya serta panggilan untuk mengasihi sesama.”
Ia mengingatkan bahwa komitmen bersama tersebut memiliki makna khusus mengingat sejarah bersama umat Kristen dan Yahudi serta warisan spiritual yang berakar pada Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf.
Nostra aetate
Bapa Suci merujuk pada dokumen bersejarah Konsili Vatikan II tahun 1965, yakni Deklarasi Nostra aetate tentang hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristen, yang peringatan 60 tahunnya telah dirayakan tahun lalu.
Menurutnya, dokumen tersebut “membuka cakrawala baru perjumpaan, penghormatan, dan keramahtamahan spiritual”, serta menegaskan, antara lain, “kebenaran bahwa kita termasuk merupakan satu keluarga manusia”, sekaligus mengecam antisemitisme dan segala bentuk diskriminasi atau pelecehan berdasarkan ras, warna kulit, kondisi kehidupan, maupun agama.
Bekerja Bersama Demi Kebaikan Bersama
“Di dunia yang masih terluka oleh perpecahan dan konflik,” tegas Paus Leo, “dokumen itu mengajak kita untuk melampaui kesalahpahaman masa lalu menuju kerja sama demi kebaikan bersama.”
Dengan semangat tersebut, Paus Leo kemudian menggambarkan pelayanan kepada kaum miskin, mereka yang tersisih, dan mereka yang tidak berdaya sebagai “sarana untuk berjumpa dengan yang kudus”, seraya menegaskan bahwa melalui mereka suara Ilahi terus berbicara kepada kita.
Menutup sambutannya, Bapa Suci berterima kasih atas dedikasi mereka dalam membantu kaum miskin dan mereka yang membutuhkan, menghadapi kebencian dan intoleransi, serta berupaya membangun dunia yang lebih baik bagi semua orang.
“Semoga misi Anda,” katanya, “memperkuat dialog, memperdalam saling pengertian, dan berkontribusi pada perdamaian yang sangat dibutuhkan dunia kita.”
