Paus Leo XIV: Menulis sebagai Jalan Menemukan Kebenaran, Kemanusiaan, dan Allah
Deborah Castellano Lubov
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Rabu, Paus menyampaikan apresiasi kepada para penulis atas kontribusi mereka dalam membangun ruang kebebasan dan keaslian melalui karya-karya yang lahir dari imajinasi, kreativitas, dan pemikiran yang hidup.
“Kami membutuhkan Anda. Kami membutuhkan imajinasi Anda, kreativitas Anda dalam bertutur, dan pemikiran Anda yang hidup. Kami membutuhkan semuanya itu untuk menciptakan ruang-ruang kebebasan dan keaslian, tempat rahmat ilahi dapat membuat janji penghiburan dan damai bergema,” ujar Paus.
Tindakan Kebenaran dan Pewahyuan
Menurut Paus Leo XIV, menulis merupakan tindakan kebenaran sekaligus pewahyuan. Melalui tulisan, seseorang mengungkapkan siapa dirinya, apa yang diyakininya dan diharapkannya, dunia seperti apa yang ingin diwujudkan, serta masa depan yang dicita-citakan.
Dalam proses pencarian tersebut, manusia diajak menyadari bahwa kebenaran tidak pernah sepenuhnya dapat dimiliki. Sebaliknya, kebenaranlah yang menemukan dan membimbing manusia melalui dialog batin dengan Allah maupun dialog yang terbuka dan penuh penghormatan dengan sesama.
Karena itu, Paus berharap para penulis dapat menumbuhkan kecintaan terhadap kebenaran di tengah masyarakat melalui karya-karya yang mereka hasilkan.
Tindakan Kemanusiaan
Selain sebagai tindakan kebenaran, menulis juga merupakan tindakan kemanusiaan. Paus menilai sastra mampu menghadirkan seluruh spektrum pengalaman manusia sehingga memperluas cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Melalui cerita dan tokoh-tokoh yang diciptakan penulis, pembaca diajak memahami cara orang lain melihat, mengalami, dan menanggapi kenyataan. Pengalaman itu, menurut Paus, menumbuhkan empati yang menjadi dasar lahirnya solidaritas, kepedulian, belas kasih, dan kerahiman.
Ia menambahkan bahwa membaca merupakan “tempat latihan besar bagi kemanusiaan” karena memungkinkan seseorang menjalani berbagai pengalaman hidup yang berbeda dari kehidupannya sendiri.
Membaca juga membantu manusia melihat beragam perspektif, menghindari sikap menganggap pandangannya sendiri sebagai yang mutlak, serta menyusun pemahaman yang lebih utuh tentang kebenaran yang selalu melampaui diri manusia.
Terkait Erat dengan Tuhan
Dalam refleksinya, Paus Leo XIV juga menegaskan bahwa menulis berkaitan erat dengan Allah. Menurutnya, sejumlah teolog telah menunjukkan adanya keselarasan antara seni menulis dan pewahyuan Allah sebagaimana tampak dalam Kitab Suci.
Ia mengutip pemikiran Kardinal Timothy Radcliffe yang menyatakan bahwa setiap usaha manusia untuk memahami persoalan-persoalan mendasar kehidupan—seperti kasih, keadilan, kebebasan, penderitaan, dan kematian—akan membantu manusia semakin memahami Kristus.
Tuhan Mewahyukan DiriNya
Paus menegaskan bahwa ketika manusia menyelami kedalaman pengalaman kemanusiaannya, ia sebenarnya tidak jauh dari Allah. Di tengah kisah-kisah manusiawi itulah Allah menyatakan diri-Nya.
Allah dalam Kitab Suci, kata Paus, hadir dalam pengalaman pembebasan dari perbudakan, dalam kelahiran yang membawa harapan di tengah keputusasaan, serta dalam kasih yang penuh kesetiaan dan belas kasih. Ia juga berbicara melalui peristiwa, perjumpaan, wajah-wajah, dan kisah-kisah kehidupan manusia.
Karena itu, Paus kembali menggemakan seruan yang pernah disampaikan Paus Santo Paulus VI kepada para seniman, yakni, “Kami membutuhkan Anda.”
Menutup sambutannya, Paus Leo XIV menyampaikan terima kasih kepada para penulis yang melalui karya-karya mereka terus menaburkan benih rekonsiliasi, perjumpaan, dan persahabatan di tengah dunia yang kerap dilanda perpecahan dan polarisasi.
Menurut Paus, karya tulis yang lahir dari pencarian kebenaran dan penghargaan terhadap martabat manusia dapat menjadi sarana penting untuk menghadirkan harapan, penghiburan, dan perdamaian bagi masyarakat.
