Paus Leo XIV: Krisis Lingkungan Bagian dari Krisis Sosial dan Ekonomi
Oleh Isabella H. de Carvalho
Krisis lingkungan yang sedang dihadapi dunia saat ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan alam atau perubahan iklim. Menurut Paus Leo XIV, krisis tersebut merupakan salah satu wajah dari krisis sosial dan ekonomi yang lebih luas yang sedang melanda umat manusia.
Pesan tersebut disampaikan Paus Leo XIV melalui rekaman video yang ditujukan kepada peserta Austrian World Summit ke-10, konferensi internasional tahunan tentang iklim yang berlangsung di Wina, Austria, pada 16 Juni 2026.
Dalam pesannya, Paus mengajak masyarakat internasional untuk melihat persoalan lingkungan secara menyeluruh, dengan memperhatikan dimensi sosial, etis, dan ekonomi yang saling berkaitan.
Krisis Iklim Tidak Berdiri Sendiri
Mengutip ensiklik terbarunya Magnifica Humanitas, Paus menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari berbagai ketidakadilan yang terjadi dalam kehidupan manusia.
"Krisis lingkungan bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, melainkan aspek ekologis dari krisis sosial-ekonomi kontemporer," ujarnya.
Karena itu, menurut Paus, upaya melindungi lingkungan tidak akan berhasil apabila akar persoalan yang lebih mendasar, seperti kemiskinan, ketimpangan, pelanggaran hak asasi manusia, dan ketidakadilan sosial, tidak ikut ditangani.
Ia kembali menegaskan pentingnya penghormatan terhadap martabat setiap manusia serta perlindungan hak-hak dasar yang dimiliki semua orang.
Prinsip-prinsip seperti kebaikan bersama, solidaritas, keadilan sosial, subsidiaritas, dan tujuan universal harta benda harus menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan lingkungan maupun pembangunan.
Kaum Miskin Harus Menjadi Prioritas
Paus Leo XIV secara khusus mengingatkan bahwa kelompok miskin dan masyarakat yang paling rentan sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
Oleh sebab itu, setiap kebijakan dan solusi yang dirancang untuk mengatasi krisis iklim harus memperhatikan kebutuhan mereka.
Menurutnya, tanpa perhatian kepada kelompok yang paling terdampak, berbagai solusi teknis yang ditawarkan hanya akan menjadi langkah yang tidak menyentuh akar persoalan.
Iman Menggerakkan Kepedulian terhadap Ciptaan
Dalam pesannya, Paus juga menjelaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan berakar pada iman kepada Allah Sang Pencipta.
Mereka yang percaya bahwa dunia diciptakan oleh Allah dan pada dasarnya baik, kata Paus, memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga dan merawat ciptaan.
Mengutip ensiklik Laudato Si' dari Paus Fransiskus, Paus Leo XIV menegaskan bahwa panggilan untuk menjadi penjaga karya ciptaan Allah merupakan bagian penting dari kehidupan yang berkeutamaan.
Ia juga mengakui bahwa berbagai agama di dunia memiliki keyakinan serupa mengenai kesucian kehidupan dan pentingnya merawat alam sebagai anugerah Tuhan.
Karena itu, iman keagamaan dapat menjadi kekuatan yang memperkuat komitmen bersama dalam melindungi kehidupan dan lingkungan.
Harapan Mendorong Perubahan
Selain iman, Paus menyoroti pentingnya harapan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Ia mengakui bahwa banyak pihak masih diliputi ketakutan ketika harus mengambil langkah-langkah besar untuk mengatasi krisis lingkungan, termasuk ketakutan kehilangan kekuasaan, keuntungan ekonomi, atau menghadapi ketidakpastian masa depan.
Namun Paus menegaskan bahwa harapan harus menjadi kekuatan yang mendorong perubahan.
"Harapan bukan hanya sesuatu yang diinginkan, tetapi sungguh merupakan kekuatan yang mampu menggerakkan tindakan," katanya.
Ia juga menyerukan kerja sama internasional yang lebih kuat dan berpandangan jauh ke depan, khususnya menjelang berbagai perundingan iklim global yang akan datang.
Menurut Paus, negara-negara kaya memiliki tanggung jawab moral untuk membantu negara-negara berkembang, baik melalui dukungan keuangan maupun pembentukan sistem ekonomi internasional yang lebih berpusat pada manusia.
Membangun Peradaban Kasih
Pada bagian akhir pesannya, Paus Leo XIV mengangkat tema kasih sebagai fondasi bagi lahirnya budaya kepedulian terhadap lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa cinta kasih tidak hanya diwujudkan dalam hubungan pribadi, tetapi juga harus hadir dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
Mengutip kembali ajaran Paus Fransiskus dalam Laudato Si', Paus mengatakan bahwa masyarakat akan menjadi lebih manusiawi apabila cinta kasih menjadi norma tertinggi yang menuntun setiap aktivitas bersama.
Dari semangat kasih itulah, menurutnya, lahir berbagai strategi besar yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Menutup pesannya, Paus Leo XIV berharap para peserta konferensi dapat menjadi pelopor budaya kepedulian serta ikut membangun "peradaban kasih" yang menghormati manusia sekaligus menjaga rumah bersama, yakni bumi yang dipercayakan Allah kepada umat manusia.
