Paus : Kasih Menuntut Sikap Lepas Bebas, Berani Kehilangan, dan
Oleh Devin Watkins
Paus Leo XIV memimpin doa Angelus pada Minggu siang bersama ribuan peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.
Merefleksikan Injil hari itu (Mat. 10:37–42), Paus mengajak umat untuk memahami tuntutan menjadi murid Kristus dan makna menyerahkan diri sepenuhnya dalam hubungan kasih dengan-Nya.
Menurut Paus, kasih sejati selalu mengandung tiga unsur penting: pelepasan, kehilangan, dan keramahtamahan.
Kasih Menuntut Pelepasan
Paus menjelaskan bahwa Yesus memberikan contoh tentang seorang anak yang telah dewasa dan harus meninggalkan orang tuanya untuk mengikuti-Nya.
Pelepasan dalam relasi manusia, kata Paus, menunjukkan bahwa kepenuhan hubungan antarmanusia hanya dapat ditemukan melalui kasih yang diberikan Kristus.
“Perhatikan kehidupan perkawinan,” kata Paus. “Kehidupan perkawinan hanya dapat dijalani secara utuh ketika seseorang ‘meninggalkan’ rumah orang tuanya untuk berkomitmen pada kehidupan berkeluarga.”
Pada saat yang sama, lanjutnya, orang tua memiliki tugas untuk mendidik anak-anak agar mampu berdiri di atas kaki sendiri dan menemukan makna serta kebahagiaan hidup mereka.
Kasih Selalu Membawa Konsekuensi Kehilangan
Paus Leo kemudian menyoroti bahwa aspek penting lain dari kasih adalah kehilangan, meskipun gagasan ini sulit dipahami dalam dunia yang cenderung terobsesi untuk memiliki dan menguasai.
“Kasih hanya menghasilkan buah ketika diwujudkan dalam pemberian diri,” ujarnya. “Ketika kita bersedia kehilangan sedikit dari diri kita untuk memberi ruang bagi orang lain, kehilangan sedikit waktu untuk mendengarkan seorang sahabat, atau kehilangan sedikit kenyamanan demi berbagi dalam masa-masa sulit.”
Yesus juga mengajarkan bahwa seseorang harus kehilangan hidupnya untuk dapat benar-benar menemukannya. Dengan cara itu manusia dapat membuka diri terhadap sukacita kasih yang sejati.
Paus menegaskan bahwa umat Kristiani dipanggil untuk memanggul salib dan mempersembahkan diri sebagaimana Yesus telah melakukannya, sehingga dapat menerima kehidupan yang berlimpah.
“Jika kita hidup menurut logika pemberian diri,” katanya, “kita pun akan mampu melahirkan kehidupan baru dalam relasi-relasi kita.”
Keramahtamahan sebagai Wujud Kasih
Pada bagian akhir refleksinya, Paus menyoroti pentingnya keramahtamahan sebagai ungkapan konkret dari kasih.
“Kasih diwujudkan melalui pilihan dan tindakan nyata, melalui komitmen yang dibangun dari gestur-gestur kecil setiap hari, seperti memberikan segelas air kepada seseorang yang haus,” katanya.
Sebagaimana Yesus mengutus para murid-Nya untuk mewartakan Injil tanpa membawa bekal, umat Kristiani juga dipanggil untuk belajar menerima dan memberikan keramahtamahan kepada sesama.
“Dengan menyambut mereka yang datang dalam nama Yesus, kita menyambut Dia dan Bapa Surgawi yang mengutus-Nya,” ujar Paus.
Ia menegaskan bahwa kasih kepada Tuhan selalu berkaitan erat dengan kesediaan untuk menerima dan melayani saudara-saudari kita.
“Sesungguhnya, kasih kepada Tuhan selalu melibatkan penerimaan terhadap saudara dan saudari kita,” tutup Paus.
