Kepada Para Pekerja Sosial di Barcelona, Paus : Hidup Adalah Jalan yang Kita Tempuh Bersama
Oleh Linda Bordoni
Pertanyaan-pertanyaan seorang anak tentang kehidupan, penderitaan, pengampunan, dan rencana Allah membuka jalan bagi sebuah perjumpaan yang hangat antara Paus Leo XIV dan jantung karya sosial Gereja di Barcelona pada Rabu sore.
Dalam pertemuan dengan berbagai organisasi amal dan kesejahteraan sosial keuskupan di Gereja Santo Agustinus, Barcelona, pada hari kelima Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol, Paus mendengarkan kesaksian dari mereka yang melayani kaum miskin, lanjut usia, migran, dan kelompok-kelompok yang terpinggirkan sebelum menanggapi sebuah surat yang ditulis oleh seorang anak laki-laki berusia enam tahun bernama Renzo.
Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan anak tersebut, Paus Leo terlebih dahulu menyampaikan rasa syukur dan kasihnya kepada komunitas yang berkumpul di sekelilingnya.
“Di sini, sungguh, saya merasa seperti di rumah sendiri,” katanya.
Meski mengakui bahwa Gereja Santo Agustinus secara alami memiliki makna khusus baginya sebagai seorang putra Santo Agustinus, Paus juga membagikan kenangan pribadinya selama lebih dari empat puluh tahun lalu.
“Pertama kali saya datang ke gereja ini, yakni tahun 1984,” kenangnya. “Saat itu saya melakukan perjalanan darat dari Roma menuju León dan berkata: ‘Ada sebuah Gereja Santo Agustinus di Barcelona, mari kita mengunjunginya.’ Tetapi gereja itu sedang tutup.”
Kini, lanjutnya, gereja tersebut terbuka, dan ia mengungkapkan kegembiraannya atas apa yang ditemukannya.
“Betapa indahnya menemukan sebuah gereja dengan komunitas Agustinian dan begitu banyak orang yang hidup di sini, yang memuji Allah, yang menemukan komunitas, penerimaan, dan integrasi melalui gereja ini serta pelayanan sosialnya. Terima kasih kepada kalian semua, sungguh!”
Hidup Bukanlah Pertunjukan Solo
Salah satu pertanyaan Renzo kepada Paus berkaitan dengan sepak bola. Meskipun mengakui bahwa tenis tetap menjadi olahraga favoritnya, Paus Leo berbicara dengan penuh kehangatan tentang tahun-tahun pelayanannya di Peru, ketika ia mengikuti perkembangan tim-tim sepak bola setempat dan bahkan bermain bersama para seminaris.
“Sedikit olahraga baik untuk semua orang,” katanya. “Kita perlu menemukan cara untuk menjaga kesehatan tubuh, pikiran, dan jiwa.”
Dengan Piala Dunia yang akan dimulai keesokan harinya, Paus menggunakan sepak bola sebagai gambaran tentang kehidupan itu sendiri. “Hidup bukanlah perlombaan agar kita bisa bersinar sendirian,” katanya. “Hidup adalah perjalanan yang mesti kita mainkan bersama dalam sebuah tim.”
Ia mengamati bahwa bahkan pemain yang paling berbakat sekalipun pada akhirnya akan gagal apabila menolak melibatkan orang lain. Kepada para relawan dan pekerja sosial yang hadir, ia menyampaikan terima kasih karena mereka mewujudkan semangat kerja sama dan pelayanan tersebut. “Seseorang mungkin memang seorang bintang, tetapi jika ia tidak pernah mengoper bola, ia tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut bermain, dan kemungkinan besar ia akan kalah.”
Setiap Anak Adalah Impian Allah
Renzo juga ingin mengetahui apakah ketika masih kecil Paus pernah bermimpi menjadi Paus. “Saya rasa saya tidak pernah memikirkannya,” jawab Paus Leo sambil tersenyum. Namun ia menambahkan bahwa sejak kecil ia memang memiliki keinginan untuk menyerahkan hidupnya kepada Allah.
“Sejak masa kanak-kanak, saya merasakan keinginan untuk mendedikasikan hidup saya kepada Allah,” katanya, seraya menjelaskan bahwa secara bertahap ia menemukan jalan yang membawanya kepada imamat dan Ordo Agustinian.
“Setiap anak adalah impian Allah. Kamu juga demikian, Renzo,” lanjutnya. Karena itu, ia mengajak anak-anak untuk mengajukan pertanyaan yang lebih penting kepada diri mereka sendiri: apakah mereka ingin menjadi sahabat Yesus.
“Persahabatan dengan Yesus memberi kita sukacita, membuat kita merdeka, dan membantu kita menemukan, langkah demi langkah, panggilan serta jalan yang telah dipersiapkan Allah bagi masing-masing dari kita.”
Menghadapi Penderitaan dengan Harapan
Pertanyaan yang paling sulit diajukan Renzo berkaitan dengan penderitaan dan alasan mengapa hal-hal buruk menimpa sebagian orang tetapi tidak menimpa yang lain.
Paus Leo mengakui bahwa tidak ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan tersebut. Merenungkan kehidupan Kristus sendiri, ia mengingatkan bahwa Yesus “berkeliling sambil berbuat baik”, namun tetap ditolak, dihukum, dan disalibkan. “Tetapi kisah itu tidak berakhir di sana,” katanya. “Ia bangkit pada hari ketiga dan mengalahkan kejahatan serta kematian.”
Bagi orang Kristiani, jelas Paus, penderitaan tidak pernah menjadi kata terakhir. “Sekalipun ada penderitaan, Allah tidak pernah meninggalkan seorang pun anak-Nya,” katanya.
Paus meyakinkan semua yang hadir untuk percaya bahwa Kristus menyertai mereka dalam setiap pencobaan dan mempersiapkan sukacita kekal yang melampaui rasa sakit maupun kehilangan.
Kakek dan Nenek Tidak Boleh Ditinggalkan Sendirian
Pertanyaan lain dari Renzo menyentuh topik tentang para kakek dan nenek yang, menurutnya, “tidak boleh pernah ditinggalkan sendirian.” Paus memuji begitu banyak kakek dan nenek yang merawat cucu-cucu mereka ketika para orang tua bekerja, sekaligus secara diam-diam mewariskan iman, kasih, dan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.
“Jangan sampai kesepian dan penelantaran menjadi sesuatu yang dianggap normal dalam kehidupan para lanjut usia. Itu adalah sesuatu yang sangat menyedihkan,” katanya.
Paus menambahkan bahwa tanggung jawab untuk merawat tidak hanya terbatas pada hubungan keluarga, tetapi juga mencakup setiap orang lanjut usia yang berisiko dilupakan.
Pengampunan yang Membebaskan Hati
Menanggapi pertanyaan mengenai pengampunan, Paus mengingat kembali ajaran Yesus bahwa orang Kristiani harus mengampuni “tujuh puluh kali tujuh kali.” Namun, jelasnya, “mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa yang salah itu benar. Dan juga tidak berarti membiarkan seseorang terus melakukan kejahatan.”
Pengampunan, lanjutnya, mencegah kebencian menguasai hati dan membuka jalan menuju penyembuhan serta perdamaian. “Ketika kita mengampuni, kita meneladani Yesus yang mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya.”
Kasih Menyingkapkan Wajah Kristus
Paus kemudian mengarahkan perhatiannya kepada misi organisasi-organisasi amal yang berkumpul di Gereja Santo Agustinus. Sambil mengucapkan terima kasih atas karya mereka, ia mengacu pada spiritualitas Santo Agustinus dan mengingatkan bahwa kehidupan Kristiani tidak dimulai dari usaha manusia, melainkan dari rahmat Allah.
“Menjadi seorang Kristiani, pertama-tama, adalah sebuah anugerah, sebuah rahmat,” kata Paus Leo.
Dari rahmat itulah, lanjutnya, mengalir tanggung jawab untuk mengasihi sesama dan mengenali Kristus dalam diri mereka yang menderita. “Seorang Kristiani, selain harus baik hati dan lemah lembut, juga harus berbelas kasih, mengasihi tanpa pamrih, dan mencari kebaikan bagi orang lain.”
Paus Leo memuji karya yang dilakukan di seluruh Keuskupan Agung Barcelona dan menegaskan bahwa misi amal Gereja menjadi semakin mendesak di tengah situasi masyarakat yang sering kali tampak kehilangan kesadaran akan tingginya martabat luhur manusia.
Martabat tersebut, tegasnya, tidak bergantung pada kekayaan, kemampuan, atau status sosial, melainkan pada kenyataan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan dikasihi oleh-Nya. “Pribadi manusia harus berada di pusat tindakan Gereja,” katanya.
Sambil mengakui pentingnya bantuan yang berupa barang, Paus kembali menegaskan bahwa mereka yang hidup dalam kemiskinan dan terpinggirkan juga merindukan pendampingan rohani.
“Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan materi dan dukungan moral, tetapi juga Allah, persahabatan dengan-Nya, berkat-Nya, Sabda-Nya, sakramen-sakramen-Nya, serta sebuah jalan pertumbuhan dan pendewasaan dalam iman.”
Sebelum meluangkan waktu untuk bertukar ucapan terima kasih dan salam dengan banyak orang yang berbaris untuk menyampaikan penghargaan atas kehadirannya, Paus Leo mendorong para pekerja sosial agar terus melaksanakan misi mereka bersama para gembala Gereja.
Paus juga mendesak mereka agar menjadi “saksi-saksi pengharapan Kristiani” juga saksi yang menghadirkan Kerajaan Allah melalui pelayanan, tindakan adil dan sikap selalu menjaga perdamaian.
