Paus di Madrid: Runtuhkan Tembok yang Memecah Belah dan Jadilah Pembawa Damai
Sebagai bagian dari Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol, khususnya saat berada di Madrid pada awal kunjungannya, Paus Leo mengunjungi Katedral Santa Maria Almudena untuk mengikuti ibadat doa dan penghormatan kepada Pelindung Keuskupan Agung Madrid.
Katedral tersebut menjadi tempat bersemayamnya patung Bunda Maria Almudena yang sangat dihormati. Devosi kepada Bunda Almudena telah berlangsung selama berabad-abad dan berakar kuat dalam sejarah serta kehidupan rohani ibu kota Spanyol itu.
Saat menyampaikan sambutan kepada umat beriman yang memenuhi katedral pada Senin malam, Paus Leo mengenang kisah tradisional yang menyebutkan bahwa patung Perawan Maria pernah disembunyikan di dalam tembok benteng kuno Madrid selama masa penganiayaan. Patung itu kemudian ditemukan kembali dalam keadaan utuh setelah sebagian tembok runtuh.
Pelajaran dari Sebuah Tembok yang Runtuh
Paus menegaskan bahwa perjumpaan kembali antara Sang Bunda dan umatnya justru menjadi mungkin karena sebuah tembok telah roboh. Ia menggambarkan peristiwa itu sebagai karya penyelenggaraan ilahi yang menunjukkan jalan yang terus ditunjukkan Kristus kepada umat beriman melalui Bunda-Nya hingga saat ini.
Menurut Paus, runtuhnya sebuah tembok memang dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakteraturan pada awalnya. Namun, pada saat yang sama, peristiwa itu juga dapat membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan menciptakan kondisi bagi pembaruan.
Paus Leo kemudian mengalihkan refleksinya pada masyarakat masa kini. Ia mengamati bahwa masih banyak tembok yang berdiri, bukan untuk melindungi, melainkan untuk “membagi, memisahkan, dan mengasingkan.” Sering kali, katanya, orang memilih mempertahankan penghalang-penghalang tersebut atau bahkan mengabaikannya karena takut menghadapi situasi yang sebenarnya ingin mereka hindari.
Membangun Sesuatu yang Baru
Pesan Bunda Maria Almudena, lanjut Paus, adalah bahwa “untuk membangun sesuatu yang baru, indah, dan bertahan lama, kita harus bersedia meruntuhkan tembok-tembok.” Dengan demikian akan tercipta ruang yang diperlukan untuk melihat melampaui kesulitan-kesulitan yang ada dan melangkah maju bersama.
Paus kemudian mendorong umat beriman untuk tetap teguh dalam kesaksian iman, kasih, dan harapan. Ia mengajak mereka untuk bertekun dalam iman agar mampu memandang rencana kasih Bapa, bertekun dalam kasih agar dapat hidup sebagai satu keluarga saudara-saudari, dan bertekun dalam harapan agar dapat terus menjalankan misi mereka di dunia.
Dengan keyakinan bahwa Tuhan berjalan bersama umat-Nya dan menerima setiap usaha yang dilakukan demi kebaikan bersama, Paus mengatakan bahwa umat Kristiani dipanggil untuk berkontribusi membangun masyarakat yang ditandai oleh persekutuan, bukan perpecahan.
Menjadi Saksi Persekutuan
Menutup sambutannya, Paus memohon teladan dan perantaraan Bunda Maria Almudena, yang ia sebut sebagai Perawan Maria dari Magnificat. Ia berdoa agar umat beriman semakin diteguhkan dalam kasih mereka kepada Kristus dan Gereja.
Dengan cara itu, kata Paus, mereka dapat membantu “membangun ikatan dan memulihkan bahasa universal persekutuan, kasih persaudaraan, dan harmoni.”
Akhirnya, Paus mempercayakan umat beriman kepada perlindungan keibuan Santa Perawan Maria dan berdoa agar Bunda Maria membantu mereka menjadi “pembangun perdamaian dan rekonsiliasi.”
Terima kasih telah membaca artikel kami. Anda dapat mengikuti perkembangan berita terbaru dengan berlangganan buletin harian kami.
