Cari

Paus di Madrid: Merajut Jejaring demi Menjaga Jiwa Masyarakat

Dalam sebuah pertemuan yang mempertemukan berbagai pandangan dari dunia kebudayaan, pendidikan, bisnis, dan olahraga, Paus Leo XIV menyerukan pentingnya dialog, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kesadaran baru akan kemaslahatan bersama.

Oleh Linda Bordoni

Pada hari kedua Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol, Paus Leo XIV meluangkan waktu untuk berdialog dan berinteraksi langsung dengan para perwakilan dari dunia seni, pendidikan, ekonomi, dan olahraga. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak mereka untuk tampil sebagai "protagonis baru" dalam merajut tali solidaritas, dialog, dan harapan di tengah dunia yang kian terfragmentasi.

Berbicara pada Minggu malam di Movistar Arena, Madrid, dalam acara bertajuk "Merajut Jejaring bersama Dunia Kebudayaan, Seni, Ekonomi, dan Olahraga," Paus merefleksikan tanggung jawab bersama yang diemban oleh institusi maupun individu untuk melindungi esensi manusia di tengah pusaran perubahan sosial dan teknologi yang serbacepat.

Kegiatan ini mempertemukan para seniman, akademisi, pemimpin bisnis, perwakilan serikat pekerja, dan atlet dalam sebuah ruang diskusi yang bertujuan mempererat dialog antara Gereja dan masyarakat kontemporer.

Di antara para tokoh yang menyampaikan sambutan kepada Paus, hadir aktor ternama Antonio Banderas yang mengulas hubungan mendalam dan langgeng antara iman dengan ekspresi seni. Selain itu, José María Coello de Portugal, Rektor Universitas Complutense Madrid, berbicara mewakili komunitas pendidikan dan ilmiah. Hadir pula para perwakilan dari organisasi bisnis dan ketenagakerjaan yang mendiskusikan tantangan etis akibat kehadiran kecerdasan buatan (AI) dan transformasi ekonomi, serta atlet berprestasi Teresa Perales dan Carolina Marín yang menyoroti nilai-nilai ketangguhan, kerendahan hati, dan solidaritas yang mereka timba melalui dunia olahraga.

Antonio Banderas saat menyampaikan sambutannya kepada Paus dalam acara tersebut
Antonio Banderas saat menyampaikan sambutannya kepada Paus dalam acara tersebut   (@Vatican Media)

Warisan Apa yang Kita Tinggalkan?

Setelah mendengarkan pemaparan dari para pembicara serta menyaksikan pertunjukan flamenco oleh penari ternama Sara Baras beserta kelompok tarinya, Paus Leo mengawali pidatonya dengan memuji kekayaan warisan budaya Spanyol. Ia merenungkan keindahan yang terajut sepanjang sejarah negara tersebut—mulai dari tata kota, monumen, universitas, gereja, hingga musik, seni, tarian, dan kulinernya.

Namun, Paus mengingatkan bahwa kekaguman atas pencapaian generasi masa lalu secara tidak langsung memicu sebuah pertanyaan krusial yang melibatkan semua orang: “Warisan apa yang kita tinggalkan untuk masa depan dan, dengan demikian, komunitas seperti apa yang sedang kita bangun?”

Paus mengakui kapasitas luar biasa masyarakat modern dalam hal inovasi dan komunikasi. Kendati demikian, ia memperingatkan bahwa kemajuan teknologi dan ekonomi berisiko kehilangan makna terdalamnya jika terlepas dari esensi pribadi manusia.

"Kita menghadapi risiko menjadi pakar dalam media komunikasi dan produsen yang efektif," ujarnya, "namun gamang mengenai alasan, tujuan, dengan siapa, dan untuk siapa kita memproduksi semua itu."

Sara Baras dan kelompok tari flamenco miliknya saat tampil dalam acara 'Merajut Jejaring' di Madrid
Sara Baras dan kelompok tari flamenco miliknya saat tampil dalam acara 'Merajut Jejaring' di Madrid   (@Vatican Media)

Gereja sebagai “Pakar Kemanusiaan”

Senada dengan ajaran Santo Paulus VI dan Konsili Vatikan II, Paus Leo menegaskan kembali komitmen Gereja untuk terus berdialog dengan dunia kontemporer.

"Pertanyaan mendasar yang menentukan tetaplah sama," tegas Paus. "Apa artinya menjadi manusia yang seutuhnya?" Berkaca pada pengalaman berabad-abad Gereja dalam mendampingi umat manusia sepanjang sejarah, Paus menjelaskan bahwa iman Kristiani menawarkan jalan menuju martabat dan kemaslahatan bersama karena mengenali jawaban atas pertanyaan terdalam eksistensi manusia di dalam diri Yesus Kristus.

Sembari mengutip dokumen terbarunya, Magnifica Humanitas, ia menegaskan bahwa pribadi manusia tetap menjadi "jalan bagi Gereja" dan pusat dari pembangunan yang autentik serta integral.

Oleh karena itu, lanjut Paus, Gereja tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap kebudayaan, sebab kebudayaan itu sendiri merupakan salah satu sarana utama bagi umat manusia untuk mengekspresikan dan membentuk identitasnya.

Carolina Marín dan Teresa Perales saat berbicara di hadapan Paus dalam acara tersebut
Carolina Marín dan Teresa Perales saat berbicara di hadapan Paus dalam acara tersebut   (@Vatican Media)

Apa yang Sedang Kita Tanam?

Merenungkan keterkaitan etimologis antara kata “culture” (kebudayaan) dan “cultivation” (bercocok tanam/pembudidayaan), Paus Leo mengajak para hadirin untuk merenungkan apa yang sedang ditabur oleh masyarakat kontemporer bagi generasi mendatang.

“Apa yang tengah tumbuh subur,” tanyanya, “dan apa yang diam-diam layu di tengah masyarakat kita? Nilai-nilai apa yang sedang kita lestarikan dan nilai mana yang kita biarkan mati?”

Rangkaian pertanyaan ini, menurut Paus, menuntut adanya dialog sosial yang jujur dan berkelanjutan, yang berakar pada sikap mau mendengarkan, saling menghormati, dan perjumpaan antar-sesama.

Merajut Jejaring Lewat Dialog

Tema utama malam itu digambarkan secara visual melalui frasa “merajut jejaring”, yang oleh Paus disebut sebagai sebuah seni yang menuntut individu maupun institusi untuk saling merapat dalam rasa hormat yang mutual. Dialog semacam ini, tegasnya, harus senantiasa berpusat pada martabat manusia.

Paus menggarisbawahi bahwa universitas tidak boleh mencampakkan kebenaran ataupun mengisolasi diri dari realitas dunia kerja. Dunia usaha tidak boleh mereduksi para pekerja sekadar menjadi variabel ekonomi. Seni tidak boleh menjadi konsumsi eksklusif kaum elit semata. Dunia olahraga tidak boleh diturunkan derajatnya hanya sebatas hiburan atau ladang bisnis. Begitu pula kemajuan teknologi harus tetap ramah dan peduli pada lansia, kaum miskin, serta mereka yang suaranya jarang didengar.

Aktivitas komunikasi itu sendiri, tambahnya, memikul tanggung jawab moral yang besar. “Setiap bentuk ekspresi memiliki suara dan menyampaikan makna. Ia bisa melukai atau menyembuhkan, mematahkan harapan atau membuka cakrawala baru.”

Paus Leo XIV
Paus Leo XIV   (@Vatican Media)

Diciptakan dari Jalinan Benang Kasih

Dari perspektif Kristiani, Paus Leo menjelaskan bahwa dialog yang autentik bermula dari pengakuan atas martabat hakiki setiap pribadi manusia.

“Sang Pencipta telah merajut manusia dengan jalinan benang kasih,” ungkapnya, seraya mengingatkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Martabat ini, lanjut Paus, tidak diberikan oleh institusi maupun pemerintah, melainkan bersifat kodrati dan tidak dapat diganggu gugat. Oleh sebab itu, martabat inilah yang menjadi fondasi dari setiap relasi sosial yang tulus.

Keindahan yang Mengubah

Refleksi Paus juga berulang kali menyoroti peran keindahan dan ekspresi seni.

Mengutip pandangan Paus Benediktus XVI bahwa iman "menciptakan puisi dan musik" serta "menciptakan keindahan," Paus Leo berbicara mengenai pengalaman-pengalaman yang mampu mengubah manusia dari dalam: sebuah lagu, sebait puisi, sebuah gereja, sebuah suara, sebuah tatapan, atau bahkan sebuah permainan yang dimainkan bersama para sahabat.

Ia kembali menunjuk pada kekayaan tradisi spiritual dan artistik Spanyol—mulai dari lantunan saetas Pekan Suci hingga karya-karya sastra dari Lope de Vega, Santa Teresa dari Avila, Santo Yohanes dari Salib, dan Calderón de la Barca—sebagai bukti nyata adanya dialog yang mendalam antara dimensi material dan spiritual dari eksistensi manusia.

Kontribusi Iman bagi Masyarakat

Beralih ke kontribusi umat Kristiani dalam kehidupan publik, Paus Leo mengingatkan tentang tak terhitungnya jumlah sekolah, rumah sakit, dan lembaga amal yang didirikan berkat inspirasi iman.

Tanpa bermaksud memicu kontroversi, ia mengajak para pendengarnya untuk merenungkan sejauh mana Eropa sendiri telah dibentuk oleh warisan Kristianinya. “Apakah mungkin untuk percaya secara serius bahwa Eropa akan tetap sama tanpa adanya pengaruh dari iman?” tanyanya.

Menyuarakan kembali seruan bersejarah dari Santo Yohanes Paulus II, Paus mengulangi ajakan tersebut: “Jangan takut. Bukalah pintu lebar-lebar bagi Kristus.”

Paus Leo XIV saat berbicara di hadapan publik di Movistar Arena, Madrid
Paus Leo XIV saat berbicara di hadapan publik di Movistar Arena, Madrid   (@Vatican Media)

Jeritan Kaum Miskin

Paus juga menempatkan penderitaan kaum miskin sebagai pusat refleksinya. “Siapa sajakah orang-orang yang dikucilkan terlepas dari kebajikan dan kemampuan yang mereka miliki?” tanyanya.

Kondisi kaum miskin, tegas Paus, tetap menjadi tantangan konstan bagi masyarakat, sistem politik, perekonomian, termasuk bagi Gereja itu sendiri.

Mengingat kembali ajaran sosial Gereja, ia menekankan bahwa struktur ekonomi dan kelembagaan hanya dapat dianggap adil sejauh mereka mempromosikan perkembangan integral setiap pribadi serta mendorong partisipasi yang bertanggung jawab dari semua pihak.

Pelajaran dari Lapangan Pertandingan

Paus Leo menutup pidatonya dengan merefleksikan dunia olahraga, sebuah bidang yang ia gambarkan sangat dekat dan akrab dengan kehidupan pribadinya. Ia mengamati bahwa banyak orang belajar tentang rasa hormat, ketekunan, dan fair play secara lebih efektif di lapangan pertandingan ketimbang melalui instruksi formal. Para atlet, tambahnya, mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara menerima kekalahan tanpa rasa pahit, meraih kemenangan tanpa merendahkan orang lain, dan bagaimana bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.

Mengenang kembali pesan dari Santo Yohanes Paulus II yang juga seorang atlet, ia mencatat bahwa olahraga dapat memberikan kesaksian yang kuat bagi persatuan, perdamaian, dan kohesi sosial, terutama di saat kekerasan dan perpecahan mulai mengancam ikatan yang mempersatukan masyarakat.

Masyarakat yang Diperbarui

Menutup arahannya, Paus Leo menyerukan kepada seluruh hadirin untuk bersedia menjadi motor penggerak dalam membangun masyarakat yang diperbarui.

Sebuah masyarakat, lanjut Paus, di mana waktu tetap terbuka bagi nilai-nilai keabadian; di mana kebudayaan mampu menjaga memori sejarah sekaligus mendorong dialog; di mana pendidikan mengejar kebenaran dengan kejujuran intelektual; di mana seni membangkitkan kekaguman; di mana dunia usaha mengakui martabat setiap pribadi; dan di mana pekerjaan tetap menjadi sumber harapan yang nyata.

Mengutip nasihat Santo Paulus untuk "bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis," Paus mendesak para pendengarnya untuk hidup dalam harmoni dan kedamaian yang tulus.

Sebab, ia menyimpulkan, masa depan kita sangat bergantung pada apakah keagungan sejati umat manusia dapat terus memancarkan cahayanya: “Mari kita menjadi protagonis baru dalam merajut jejaring baru yang menyelaraskan seluruh lini kehidupan.”

Paus Leo di Moviarena Madrid
07 Jun 2026, 20:48