Paus: Dengarkan Detak Jantung Kasih yang Tersembunyi
Oleh Joseph Tulloch
Paus Leo merefleksikan tentang kasih, penderitaan, dan kerendahan hati pada Kamis malam ketika memimpin Perayaan Misa di Stadion Gran Canaria.
Gran Canaria, sebuah pulau Spanyol yang terletak di lepas pantai barat Afrika, merupakan salah satu titik kedatangan utama bagi para imigran yang mencari kehidupan baru di Eropa.
Dalam homilinya, Paus mengatakan bahwa ia ingin mengenang “penderitaan yang disaksikan oleh tanah ini” dan mengajak umat yang hadir untuk berdoa bersama bagi “saudara-saudari kita yang telah kehilangan nyawa di laut.”
Kegelisahan batin
Paus Leo memulai homilinya dengan merefleksikan bacaan pertama Misa yang diambil dari Kitab Ulangan, yang menggambarkan kasih Allah yang “tanpa syarat” kepada Bangsa Israel.
Kasih ini, kata Paus, “meresapi seluruh keberadaan kita”, dan menjadi “api bagi jiwa, terang bagi akal budi, damai sejahtera, dorongan yang tak tertahankan menuju kebebasan ... sekaligus menggelisahkan batin kita.”
Menurutnya, panggilan kita untuk mengasihi berakar pada kasih ilahi yang “tanpa syarat” tersebut.
Pengembangan spiritual, intelektual, dan jasmani
Paus kemudian beralih pada bacaan kedua hari itu yang diambil dari Surat Pertama Santo Yohanes. Dalam kata-kata Rasul Yohanes, kata Paus Leo, terdapat undangan “untuk merangkul mereka yang menderita dengan belas kasih keibuan”.
Namun, belas kasih kita, katanya, tidak boleh berhenti pada bantuan material semata, melainkan harus melahirkan upaya untuk mendorong perkembangan “spiritual, intelektual, dan jasmani” yang membutuhkan.
‘Aku’ yang gelisah
Misa hari itu dilaksanakan pada Vigili Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Menjelang akhir homilinya, Paus Leo mengatakan bahwa ia ingin merefleksikan satu ciri khas Hati Kristus, yaitu kerendahan hati.
Menurut Paus, banyak orang dewasa ini bingung dengan suasana hiruk pikuk. Orang ingin tampil dimana-mana, gelisah dengan kesepian dan kesendirian. Kata Paus, mereka “kehilangan keheningan yang dibutuhkan agar bisa mendengarkan diri mereka sendiri... dan terutama mendengarkan detak jantung kasih yang tersembunyi.”
Yesus, kata Paus, menunjukkan jalan keluarnya: “Kita harus turun dari singgasana kesombongan yang memecah-belah kita dan melihat diri kita dalam kerendahan hati yang mempersatukan kita.”
