Foto arsip saat warga Palestina menerima makanan dari sebuah dapur umum organisasi sosial di Kota Gaza. Foto arsip saat warga Palestina menerima makanan dari sebuah dapur umum organisasi sosial di Kota Gaza.  

Membangun Kembali Tata Bahasa “Kita” di Tengah Krisis Dunia

Ensiklik Magnifica Humanitas karya Paus Leo XIV tidak hanya berbicara kepada umat Katolik, tetapi juga menawarkan refleksi mendalam bagi seluruh umat manusia. Di tengah melemahnya multilateralisme, meningkatnya konflik, krisis iklim, dan perkembangan kecerdasan buatan yang tak terkendali, ensiklik ini mengajak dunia untuk menemukan kembali makna kebersamaan dan tanggung jawab bersama.

Oleh Maurizio Martina*

Ada saat-saat dalam sejarah ketika krisis yang menimpa sebuah lembaga sesungguhnya mencerminkan krisis yang lebih mendasar, yakni krisis dalam cara manusia memandang dirinya sendiri dan sesamanya.

Kerapuhan sistem multilateral yang kita saksikan saat ini bukan sekadar persoalan prosedur diplomatik atau perubahan keseimbangan geopolitik. Lebih dari itu, ia mencerminkan kemiskinan moral yang semakin dalam: ketidakmampuan manusia untuk melihat dirinya sebagai bagian dari nasib bersama umat manusia.

Dari kesadaran inilah ensiklik Magnifica Humanitas karya Paus Leo XIV berangkat. Dengan cakupan yang luas dan refleksi yang mendalam, dokumen tersebut menyoroti berbagai tantangan utama zaman kita, sekaligus menawarkan perspektif yang relevan tidak hanya bagi umat beriman, tetapi juga bagi siapa saja yang peduli terhadap masa depan kemanusiaan dan kesejahteraan bersama.

Tatanan Internasional yang Sedang Tertekan

Paus Leo XIV menggambarkan situasi dunia dengan sangat jelas.

Tatanan internasional yang dibangun setelah Perang Dunia II—berdasarkan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, supremasi hukum internasional, dan penolakan terhadap perang sebagai instrumen politik—kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perdamaian yang dahulu menjadi pusat arsitektur global perlahan tersingkir dari percakapan politik maupun ruang publik.

Dalam ensiklik tersebut, Paus memberikan diagnosis yang tajam terhadap fenomena yang mengkhawatirkan: rehabilitasi perang sebagai instrumen politik internasional.

Menurutnya, dunia sedang mengalami perubahan paradigma yang nyata, baik dalam wacana publik maupun kebijakan persenjataan. Perubahan ini berisiko menyeret dunia ke dalam kondisi “perang permanen”, bahkan lebih berbahaya dibandingkan era Perang Dingin.

Pada masa Perang Dingin, meskipun dunia terbelah secara ideologis, masih ada kesadaran bersama bahwa perang global harus dihindari dengan segala cara. Kini kesadaran itu tampak semakin memudar.

Krisis Kepercayaan dan Budaya Kekuasaan

Dalam konteks tersebut, krisis multilateralisme bukanlah masalah sementara.

Ia merupakan gejala dari sesuatu yang lebih mendalam: munculnya budaya kekuasaan yang menggantikan kekuatan hukum dengan hukum yang ditentukan oleh pihak yang paling kuat.

Lembaga-lembaga internasional yang dibentuk untuk menjaga kepentingan bersama dunia, terutama sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, semakin terlihat rapuh.

Kelemahan mereka bukan terutama karena kurangnya kewenangan, melainkan karena menurunnya kemauan politik dan moral bersama yang menjadi fondasi setiap institusi yang bertahan lama.

Pada akhirnya, ini adalah krisis kepercayaan.

Ketika kepercayaan antarbangsa mulai terkikis, bahkan lembaga yang paling kuat sekalipun kehilangan kemampuan untuk menjaga ketertiban yang menjadi tujuan pendiriannya.

Dunia yang Semakin Terpecah

Paus Leo XIV menyebut situasi saat ini sebagai “multipolarisme yang tidak tertata dan penuh konflik”.

Ketidakpercayaan semakin menggantikan kerja sama.

Gejala tersebut tampak dalam berbagai bidang. Secara geopolitik, aliansi lama mulai retak dan rivalitas lama muncul kembali. Dalam ekonomi, multilateralisme perdagangan digantikan proteksionisme dan penggunaan rantai pasok sebagai alat tekanan politik.

Dalam bidang keamanan, perlombaan senjata—termasuk senjata nuklir—kembali menguat. Sementara itu, ruang konflik baru terus berkembang, mulai dari dunia siber hingga wilayah laut dalam yang belum memiliki tata kelola global yang memadai.

Karena itu, Paus menyerukan reformasi mendalam terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sistem internasional secara keseluruhan agar kembali pada panggilan dasarnya: membangun tatanan dunia yang adil dan stabil.

Perang, Kemiskinan, dan Kelaparan

Salah satu gagasan penting dalam Magnifica Humanitas adalah keterkaitan erat antara perang, kemiskinan, dan kelaparan.

Ketiganya membentuk lingkaran setan yang saling memperkuat.

Perang menghancurkan ekonomi, merusak infrastruktur, mengganggu produksi pangan, dan memaksa masyarakat meninggalkan tanah mereka.

Perang di Ukraina menjadi contoh nyata bagaimana konflik di satu wilayah dapat mengancam ketahanan pangan jutaan orang di Afrika dan Asia yang sama sekali tidak terlibat dalam peperangan tersebut.

Dari Sahel hingga Tanduk Afrika, dari Yaman hingga berbagai kawasan rentan lainnya, kekerasan terus melahirkan krisis kemanusiaan yang semakin sulit ditangani.

Dalam konteks inilah Paus kembali mengingatkan prinsip tujuan universal barang-barang ciptaan.

Sumber daya bumi, tegasnya, bukan milik eksklusif individu atau negara tertentu, melainkan diperuntukkan bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.

Krisis Iklim dan Pentingnya “Kita”

Perubahan iklim menjadi contoh paling jelas bahwa tidak ada negara yang mampu menghadapi tantangan global sendirian.

Emisi karbon yang dihasilkan di satu benua memengaruhi iklim seluruh dunia. Kekeringan memicu migrasi lintas negara. Kenaikan permukaan laut mengancam negara-negara kepulauan yang justru paling sedikit berkontribusi terhadap penyebab krisis tersebut.

Melanjutkan semangat Laudato Si', Paus Leo XIV mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tidak selalu membawa solusi.

Jika hanya dikendalikan oleh logika pasar dan kekuasaan, teknologi justru dapat memperparah kerusakan lingkungan.

Karena itu, krisis iklim bukan hanya persoalan teknis atau diplomatik. Ia adalah persoalan moral yang menuntut manusia kembali belajar berpikir sebagai “kita”, bukan hanya sebagai individu, kelompok, atau bangsa yang terpisah.

Melucuti Ancaman Kecerdasan Buatan

Salah satu kontribusi paling penting dari Magnifica Humanitas adalah refleksinya mengenai kecerdasan buatan.

Paus menyadari bahwa revolusi digital sedang mengubah wajah konflik modern.

Selain perang konvensional, kini muncul bentuk-bentuk baru seperti serangan siber, manipulasi informasi, pengaruh algoritma, dan otomatisasi pengambilan keputusan strategis.

Karena itu, seruan untuk “melucuti AI” bukan berarti menolak teknologi.

Sebaliknya, Paus mengajak dunia membebaskan perkembangan teknologi dari logika persaingan dan dominasi, lalu mengarahkannya kembali pada pelayanan bagi kebaikan bersama.

Tidak ada satu negara pun yang mampu mengatur kecerdasan buatan sendirian. Karena itu, tata kelola global menjadi kebutuhan mendesak.

Diplomasi sebagai Jalan Harapan

Meski menggambarkan berbagai ancaman global, Magnifica Humanitas bukanlah dokumen pesimisme.

Paus Leo XIV tetap berbicara sebagai saksi harapan.

Baginya, diplomasi dan multilateralisme bukanlah institusi yang harus ditinggalkan karena ketidaksempurnaannya. Keduanya harus diperbarui, diperkuat, dan dihidupi kembali oleh keyakinan moral yang baru.

Perdamaian bukan sekadar tidak adanya perang.

Perdamaian lahir dari keadilan, dari sistem internasional yang mampu melindungi semua bangsa, serta dari tata kelola global yang menjawab kebutuhan dasar manusia seperti pangan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan tempat tinggal.

Karena itu, dialog bukan sekadar pilihan politik. Dialog adalah keharusan moral.

Membangun Kembali Tata Bahasa “Kita”

Pada akhirnya, masa depan multilateralisme bergantung pada pilihan yang lebih mendasar daripada politik.

Apakah kita akan memandang orang lain sebagai ancaman yang harus dikalahkan atau sebagai mitra dalam tanggung jawab bersama atas dunia ini?

Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa pilihan tersebut tidak boleh dianggap remeh.

Dunia yang kehilangan “tata bahasa kita” adalah dunia yang sekaligus melemahkan demokrasi, perdamaian, institusi internasional, dan martabat manusia.

Bagi orang beriman maupun mereka yang tidak beragama, ensiklik ini menawarkan bahasa yang melampaui batas-batas ideologi dan identitas keagamaan.

Di tengah zaman yang ditandai oleh fragmentasi, ketakutan, dan persaingan global, Paus Leo XIV memilih untuk berbicara tentang tanggung jawab bersama.

Dan mungkin, itulah bahasa yang paling dibutuhkan dunia saat ini.

* Maurizio Martina adalah Wakil Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

20 Jun 2026, 14:10