Paus kepada Parlemen Spanyol: Masyarakat yang Adil Membela Setiap Kehidupan Manusia, Perdamaian, dan Kebebasan
Oleh Deborah Castellano Lubov
Paus Leo XIV berbicara di hadapan anggota Parlemen Spanyol pada Senin, menandai pertama kalinya seorang Paus berpidato di lembaga tersebut.
Dalam pidatonya, Paus menegaskan bahwa kebebasan berpikir, kebebasan hati nurani, dan kebebasan beragama merupakan persoalan mendasar bagi setiap masyarakat yang benar-benar demokratis.
Martabat Manusia yang Tidak Dapat Diganggu Gugat
Inti pidato Paus Leo adalah keyakinan bahwa setiap masyarakat yang sungguh adil harus dibangun di atas pengakuan terhadap martabat manusia yang tidak dapat diganggu gugat.
Martabat tersebut, tegasnya, mendahului segala bentuk pengakuan negara dan tidak boleh tunduk pada perubahan konsensus sosial maupun fluktuasi mayoritas yang bersifat sementara.
Berdasarkan prinsip itu, Paus Leo mengatakan bahwa ia ingin menyampaikan pesan yang tenang namun tegas kepada mereka yang memikul tanggung jawab besar dalam mengatur kehidupan sosial melalui hukum. Ia mengingatkan bahwa kehidupan bersama dapat terancam oleh “budaya membuang”, sebagaimana berulang kali diperingatkan oleh Paus Fransiskus.
Kehidupan Harus Dilindungi Sejak Pembuahan Hingga Akhir Hayat yang Alami
Paus Leo bertanya, masa depan seperti apa yang dapat dimiliki masyarakat apabila kehidupan tidak lagi diakui sebagai nilai dasar, dan apabila sebuah komunitas membiarkan anak yang belum lahir, para lansia, orang sakit, mereka yang menderita dalam keheningan, atau mereka yang sepenuhnya bergantung pada perawatan orang lain, tetap berada dalam bayang-bayang.
Ia menegaskan bahwa pembelaan terhadap kehidupan manusia bukanlah persoalan kepentingan pribadi ataupun isu kelompok agama tertentu, melainkan tujuan peradaban.
Secara khusus, Paus menegaskan bahwa setiap kehidupan manusia harus diakui dan dilindungi sejak saat pembuahan hingga akhir hayat yang alami, dalam setiap keadaan kehidupannya.
Ketika keyakinan ini menjadi kabur, jelasnya, mereka yang paling rentan akan menjadi korban pertama, dan hukum kehilangan makna terdalamnya, yakni melayani dan melindungi setiap pribadi manusia.
Melindungi Kebaikan Bersama
Bapa Suci menegaskan bahwa kebesaran moral suatu bangsa tampak dalam kemampuannya mendampingi, melindungi, dan menghargai kehidupan yang ditandai oleh kerapuhan yang lebih besar.
Ia memperingatkan bahwa ketika kebaikan bersama tidak lagi menjadi tujuan bersama, tindakan publik berisiko terpecah menjadi kepentingan-kepentingan parsial yang tidak mampu menjaga apa yang menjadi milik semua orang.
Mendukung Keluarga Berarti Memperkuat Bangsa
Paus menekankan pentingnya keluarga sebagai realitas manusia pertama sekaligus fondasi alami masyarakat.
Di dalam keluarga, katanya, berbagai generasi bertemu dan meneruskan memori hidup yang memberikan kesinambungan batin bagi masyarakat.
Ketika keluarga didukung, stabilitas spiritual dan sosial suatu bangsa juga diperkuat.
Paus mengingatkan bahwa keluarga akan selalu menjadi sekolah pertama kemanusiaan, tempat seseorang belajar menerima kehidupan, merawat sesama, mengampuni, melayani, dan hidup dalam kebersamaan.
Ia juga menegaskan bahwa lembaga pendidikan memainkan peran yang sangat penting. Di sanalah generasi muda belajar mencari dan mencintai kebenaran, mempertanyakan makna hidup, serta menghargai martabat setiap pribadi.
Drama Tragis Migrasi
Bapa Suci mengakui bahwa banyak orang terpaksa meninggalkan segala sesuatu demi mencari perdamaian, keamanan, dan masa depan yang lebih baik.
Menurutnya, drama tragis migrasi saat ini menjadi tantangan bagi hati nurani bangsa-bangsa dan fondasi etis tatanan internasional.
Paus juga mengecam segala bentuk diskriminasi terhadap seseorang karena asal kebangsaan, etnis, agama, bahasa, kondisi ekonomi, maupun status sosialnya. Ketika hal itu terjadi, prinsip universal tentang kesetaraan martabat manusia dilanggar secara serius.
Situasi para migran dan pengungsi, tegasnya, membutuhkan tanggapan yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, mengatasi akar persoalan yang memaksa mereka meninggalkan tanah air, serta melampaui sekadar pengelolaan arus migrasi.
Tuntutan Ganda Keadilan Sosial
Dari situasi tersebut muncul dua tuntutan keadilan sosial.
Di satu sisi, perlu tersedia jalur migrasi yang aman dan legal, penerimaan yang manusiawi, serta kesempatan integrasi yang nyata.
Di sisi lain, perlu dijamin hak setiap orang untuk tetap tinggal di tanah airnya sendiri.
Hal itu menuntut upaya untuk memastikan bahwa tidak seorang pun dipaksa meninggalkan rumahnya karena kurangnya perdamaian, keamanan, kondisi hidup yang layak, kesenjangan ekonomi, maupun dampak krisis iklim.
Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, jalur-jalur migrasi yang semakin berbahaya memperlihatkan biaya kemanusiaan yang sangat besar dari realitas ini, yang sering kali tersembunyi atau diabaikan. Banyak orang menjadi korban jaringan perdagangan manusia dan penyelundup yang memanfaatkan keputusasaan mereka.
Diperlukan Tanggapan yang Terkoordinasi
Karena itu, Paus menegaskan perlunya memperkuat upaya pencegahan, operasi penyelamatan, dan bantuan bagi para korban, terutama melalui kerja sama regional dan multilateral.
Ia menekankan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi tantangan sebesar ini sendirian.
Oleh sebab itu, dibutuhkan tanggapan yang terkoordinasi, penuh solidaritas, dan efektif, yang mampu menjamin perlindungan, penerimaan, serta peluang integrasi yang nyata bagi mereka yang bermigrasi.
Krisis Spiritual dan Budaya yang Mendalam
Paus juga menyoroti bahwa dunia saat ini sedang mengalami krisis spiritual dan budaya yang mendalam, yang tampak dalam berbagai bentuk kekerasan, polarisasi, dan ketidakpercayaan.
Dalam konteks itu, perdamaian bukan hanya cita-cita politik, melainkan kebutuhan moral yang mendesak.
Perdamaian memerlukan wacana publik yang menghormati mereka yang berbeda pandangan, institusi yang melayani perjumpaan, memori sejarah yang mencari kebenaran dan rekonsiliasi, serta kehidupan sosial yang mampu memelihara persahabatan sipil dan saling menghormati meskipun terdapat perbedaan.
Pada tingkat internasional, perdamaian membutuhkan keberanian diplomatik, tanggung jawab etis, serta visi masa depan yang dibangun di atas penghormatan terhadap identitas setiap bangsa dan kewajiban negara-negara untuk menyelesaikan perselisihan melalui cara-cara damai yang diatur hukum internasional.
Setiap Perang Adalah Kekalahan yang Menyakitkan
Dalam konteks ini, Paus Leo menegaskan bahwa setiap perang pada akhirnya merupakan kekalahan yang menyakitkan dari kemampuan manusia untuk bernegosiasi dan dari kesadaran bersama sebagai sesama umat manusia.
“Senjata mungkin dapat memaksakan keheningan sementara,” katanya, “tetapi tidak pernah dapat membangun perdamaian yang sejati dan bertahan lama.”
Karena itu, ia menyatakan keprihatinannya terhadap kecenderungan di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, yang kembali menjadikan perlombaan senjata sebagai jawaban yang dianggap tak terelakkan atas situasi internasional yang rapuh.
Keamanan sejati, tegasnya, lahir dari keadilan, dialog yang sabar, penghormatan terhadap hukum internasional, dan kebijakan yang menempatkan kehidupan manusia di atas kepentingan yang memperoleh keuntungan dari perang.
Peringatan Mengenai AI dan Teknologi Militer
Paus menegaskan bahwa perkembangan teknologi baru dan kecerdasan buatan di bidang militer juga memerlukan pengawasan etis yang ketat.
Keputusan mengenai hidup dan mati, katanya, tidak boleh diserahkan kepada sistem otomatis maupun dilepaskan dari tanggung jawab moral manusia.
Karena itu, komunitas internasional dipanggil untuk menemukan kembali nilai dialog sebagai jalan yang sabar menuju kesepakatan yang adil dan berkelanjutan, yang dibangun di atas penghormatan terhadap perjanjian, transparansi diplomatik, dan komitmen tulus untuk mendahulukan perdamaian daripada penggunaan kekuatan.
Perdamaian Berawal dari Hati Nurani
Paus menegaskan bahwa perdamaian bukan hanya realitas politik atau institusional.
Perdamaian lahir di dalam hati nurani, ketika kebencian, ketidakpedulian, dan dendam digantikan oleh rekonsiliasi.
Karena itu, perdamaian juga dibangun dan dijaga melalui bahasa. Kata-kata dapat membuka jalan atau menutupnya; dapat menerangi kenyataan atau justru mendistorsinya hingga perjumpaan menjadi mustahil.
Mereka yang memegang tanggung jawab publik, katanya, memiliki kewajiban khusus untuk menjaga bahasa agar mampu “melucuti senjata dari kata-kata.”
Ketegasan tidak memerlukan penghinaan, dan perbedaan pendapat tidak menuntut perendahan martabat.
Kebebasan Berpikir, Hati Nurani, dan Beragama
Dari penghormatan terhadap sesama itulah, kata Paus, lahir kewajiban untuk menjaga ruang tempat keyakinan, hati nurani, dan relasi manusia dengan Tuhan dapat bertumbuh dan berkembang.
Paus Leo menjelaskan bahwa perhatian terhadap dimensi batin manusia ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai salah satu persoalan paling menentukan bagi setiap masyarakat yang sungguh demokratis, yakni kebebasan berpikir, kebebasan hati nurani, dan kebebasan beragama. Ketiganya merupakan hak dasar yang melindungi ranah paling pribadi dalam diri manusia.
Menurut Paus Leo, kebebasan yang menjadi fondasi negara modern, apabila benar-benar autentik, harus mengakui dimensi religius manusia, menghormatinya, dan memberikan perlindungan hukum terhadapnya.
Selain itu, kebebasan sejati tidak boleh memaksa seseorang untuk melepaskan kontribusinya bagi masyarakat hanya karena keyakinan agamanya.
Pembatasan Kekuasaan Publik yang Tepat Demi Kebebasan Manusia
Paus Leo mengatakan bahwa tanpa mencampuradukkan ranah hukum dan moral, penting untuk mengingat bahwa kebebasan menuntut pemahaman yang utuh mengenai dirinya sendiri.
Menjadi bebas, jelasnya, bukan sekadar hidup tanpa batasan atau memiliki banyak pilihan yang dapat dipilih sesuka hati. Kebebasan berarti kemampuan untuk mengenali kebaikan dan dengan penuh tanggung jawab memilih untuk berpegang padanya.
Karena itu, tegas Paus, setiap masyarakat yang sungguh bebas juga memerlukan pembatasan yang tepat terhadap kekuasaan publik, agar kebebasan individu, komunitas, dan berbagai organisasi tidak dibatasi secara berlebihan.
Dari perspektif ini, ia mengingatkan bahwa otonomi yang sah dari tatanan duniawi tidak boleh ditafsirkan sebagai sikap permusuhan terhadap fenomena keagamaan.
Iman, tegasnya, tidak berupaya memaksakan diri melalui privilese atau paksaan. Namun demikian, iman juga tidak dapat dibungkam atau disingkirkan seolah-olah tidak memiliki relevansi bagi kehidupan publik.
Meterai Sakramental Pengakuan Dosa
Dalam konteks tersebut, Paus mengatakan bahwa meterai sakramental pengakuan dosa memiliki arti yang sangat penting bagi Gereja Katolik.
Paus Leo menjelaskan bahwa hal itu merupakan bagian dari ruang lingkup kebebasan beragama yang lebih luas, yang menjamin komunitas-komunitas beragama memiliki ruang hidup, tata organisasi, dan disiplin internalnya sendiri. Perlindungan tersebut juga diakui dalam praktik internasional melalui berbagai jaminan hukum yang sepadan.
Melindungi meterai sakramental itu melalui hukum, sebagaimana juga dilakukan terhadap profesi-profesi tertentu, berarti menjaga ruang suci kebebasan batin, tempat seorang beriman dapat membuka jiwanya kepada Allah tanpa rasa takut terhadap tekanan dari luar. Prinsip ini juga diakui oleh norma-norma internasional.
Keterangan Foto: Paus Leo XIV menyampaikan pidato di hadapan anggota Parlemen Spanyol di Kongres Deputi, Madrid (Vatican Media).
Mengangkat Pandangan untuk Mengingat Manusia Nyata
Pada bagian akhir pidatonya, Paus mengajak para anggota Parlemen Spanyol untuk mengangkat pandangan mereka, bukan untuk menjauh dari kenyataan, melainkan untuk mengingat bahwa setiap keputusan yang diambil oleh otoritas publik selalu menyangkut manusia yang nyata, manusia dengan kehidupan dan pengalaman konkret.
Ia mengajak mereka untuk melihat lebih dalam apa yang dipertaruhkan dalam setiap keputusan publik. Menurutnya, selain solusi teknis dan reformasi legislasi, pembaruan moral juga merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting.
Doa untuk Perdamaian dan Kemakmuran
Paus Leo mengajak Spanyol agar tidak pernah kehilangan ingatan akan akar sejarahnya maupun keberanian untuk menatap masa depan. Ia berharap negara itu terus menjadi tanah perjumpaan, kebudayaan, solidaritas, dan harapan.
Ia juga memanjatkan doa agar Allah menganugerahkan perdamaian kepada seluruh bangsa di dunia, kerukunan bagi keluarga-keluarga, dan ketenangan bagi hati nurani manusia.
Paus berdoa agar hari-hari yang penuh kemakmuran, perdamaian, dan keadilan senantiasa menaungi Kerajaan Spanyol, yang ditandai oleh jejak apostolik Santo Yakobus serta kehadiran keibuan Santa Perawan Maria dari Pilar.
Pidato Bapa Suci disambut dengan tepuk tangan yang berlangsung lebih dari tujuh menit.
