Cari

Paus Leo XIV menutup Konsistori Luar Biasa yang berlangsung di Vatikan pada 26–27 Juni 2026, seraya menegaskan panggilan Gereja untuk membangun perdamaian, memperkuat sinodalitas, dan menghadirkan harapan di tengah dunia yang dilanda berbagai krisis. Paus Leo XIV menutup Konsistori Luar Biasa yang berlangsung di Vatikan pada 26–27 Juni 2026, seraya menegaskan panggilan Gereja untuk membangun perdamaian, memperkuat sinodalitas, dan menghadirkan harapan di tengah dunia yang dilanda berbagai krisis.  (@Vatican Media)

Paus: Konsistori Merupakan Pengalaman Persekutuan dalam Pelayanan Misi

Paus Leo XIV menyampaikan pidato penutupan Konsistori Luar Biasa para Kardinal dengan menyoroti harapan, sinodalitas, dan tanggung jawab Gereja di tengah dunia yang ditandai oleh perang serta krisis relasi antarmanusia.

Oleh Sebastián Sansón Ferrari

Sebelum menyampaikan refleksi penutup Konsistori Luar Biasa yang berlangsung di Vatikan pada 26–27 Juni 2026, Paus Leo XIV terlebih dahulu mengungkapkan kedekatannya, bersama seluruh Dewan Kardinal, kepada rakyat Venezuela yang “mengalami penderitaan berat akibat gempa bumi dahsyat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.”

“Kami menjamin doa-doa kami bagi para korban, keluarga mereka, dan semua yang menderita akibat tragedi ini. Kami juga mempercayakan kepada Tuhan semua yang terlibat dalam operasi penyelamatan dan memohon agar solidaritas komunitas internasional terhadap bangsa yang terkasih itu tidak pernah surut,” kata Paus.

Dari Aula Sinode Baru pada Sabtu, 27 Juni, Paus Leo menyampaikan pidato yang luas cakupannya. Ia membuka refleksinya dengan mengatakan:

“Kini kita sampai pada akhir hari-hari ini dengan rasa syukur yang mendalam. Saya berterima kasih atas kebebasan, semangat persaudaraan, dan jiwa gerejawi yang Anda tunjukkan selama karya bersama ini. Yang saya bawa pulang bukan hanya isi refleksi Anda, tetapi juga pengalaman yang memungkinkan refleksi itu terjadi.”

“Kita telah bersama-sama mencari kehendak Tuhan, dengan keyakinan bahwa Kristus terus berkarya dalam Gereja-Nya: Dialah yang berjalan mendahului kita, menghimpun kita, berbicara melalui saudara-saudara kita, dan menuntun kita dalam misi. Segala sesuatu berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya,” lanjut Paus.

Karena itu, menurutnya, melihat para kardinal dari berbagai Gereja, budaya, dan situasi yang berbeda saling mendengarkan dan bersama-sama mencari apa yang paling melayani Injil merupakan sumber penghiburan dan harapan yang besar.

Sinodalitas sebagai Cara Menjadi Gereja

Dalam inti refleksinya, Paus menegaskan bahwa sinodalitas tidak boleh dipahami hanya sebagai metode organisasi atau serangkaian pertemuan, melainkan sebagai cara Gereja menghayati jati dirinya.

“Pertanyaan sesungguhnya mengenai sinodalitas bukanlah siapa yang memiliki kuasa untuk memutuskan, melainkan bagaimana kita bersama-sama menjaga karunia yang telah dipercayakan Tuhan kepada Gereja-Nya,” ujarnya.

Menurut Paus, perjalanan ini lahir dari perjumpaan, bertumbuh melalui saling mendengarkan, dan mencapai kematangan melalui discernment yang dibimbing Roh Kudus.

Karena itu, ia meminta para kardinal untuk mendorong pelaksanaan proses sinodal di Gereja-Gereja partikular mereka dan menumbuhkan pemahaman yang autentik tentang sinodalitas.

Luka-Luka Dunia

Paus Leo juga mencatat bahwa selama Konsistori para kardinal mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap perang, kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan yang melanda banyak bangsa di dunia.

Namun di balik tragedi-tragedi tersebut, menurut Paus, terdapat krisis yang lebih mendalam lagi, yakni “kesepian, krisis relasi, hilangnya harapan, dan kesulitan untuk saling mengakui sebagai saudara dan saudari.”

Secara khusus Paus menyoroti situasi kaum muda. Pencarian mereka akan makna hidup dan keautentikan, serta penderitaan yang dalam beberapa kasus bahkan mendorong mereka mengakhiri hidupnya sendiri, disebut Paus sebagai “salah satu luka terdalam zaman kita.”

Salah satu momen pada penutupan Konsistori Luar Biasa di Vatikan. Para kardinal berkumpul bersama Paus Leo XIV dalam suasana doa, refleksi, dan persekutuan setelah dua hari pembahasan mengenai misi Gereja, sinodalitas, dan tantangan dunia masa kini.
Salah satu momen pada penutupan Konsistori Luar Biasa di Vatikan. Para kardinal berkumpul bersama Paus Leo XIV dalam suasana doa, refleksi, dan persekutuan setelah dua hari pembahasan mengenai misi Gereja, sinodalitas, dan tantangan dunia masa kini.   (@Vatican Media)

Paus juga menegaskan pentingnya keluarga sebagai sekolah relasi, solidaritas, dan harapan.

Dalam konteks ini, ia mengumumkan akan mengadakan pertemuan pada bulan Oktober bersama para pemimpin Gereja-Gereja Timur dan para ketua konferensi waligereja untuk mengevaluasi penerimaan dokumen Amoris Laetitia, dengan melibatkan keluarga-keluarga sebagai peserta.

Budaya Dialog Melawan Logika Perang

Salah satu bagian penting pidato Paus berkaitan dengan tema perdamaian.

Ia mengatakan bahwa para kardinal telah menangkap dengan jelas salah satu gagasan utama ensiklik Magnifica Humanitas: perang tidak lahir hanya dari konflik antarnegara, melainkan dari “budaya kekuasaan” yang merasuki relasi manusia, ekonomi, politik, teknologi, bahkan agama.

Sebagai tanggapan atas situasi itu, Paus mengusulkan pembangunan kembali budaya kerja sama dan dialog, memperkuat multilateralisme, serta mendorong partisipasi kaum awam dalam kehidupan publik yang diinspirasi oleh ajaran sosial Gereja.

Paus juga membela respons tanpa kekerasan (non-violence) sebagai pilihan yang sungguh evangelis. Menurutnya, sikap tanpa kekerasan bukan berarti pasif, melainkan menghadapi konflik tanpa mengulangi logika kebencian.

Dalam konteks tersebut, Paus mengungkapkan bahwa beberapa kelompok kerja meminta pendalaman refleksi teologis dan pastoral mengenai pembelaan diri yang sah (legitimate defense) dalam terang perubahan-perubahan yang terjadi dalam konflik kontemporer.

Gereja yang Bersaksi Sebelum Berorganisasi

Paus Leo menegaskan bahwa pembaruan Gereja tidak hanya bergantung pada reformasi struktural, tetapi terutama pada kesaksian komunitas-komunitas yang mampu menghidupi Injil secara kredibel.

“Gereja dipanggil untuk semakin menjadi apa yang diwartakannya,” katanya.

Ia menekankan bahwa setiap reformasi kelembagaan hanya akan menghasilkan buah apabila lahir dari perjumpaan dengan Kristus dan kehidupan sakramental.

Paus juga menegaskan kembali niatnya untuk melanjutkan pertemuan tahunan seperti ini mulai tahun depan. Ia menjelaskan bahwa tanggal pelaksanaannya belum ditentukan, tetapi berharap dapat mengumumkannya sebelum akhir tahun ini.

Seruan Terakhir untuk Perdamaian

Pada bagian penutup pidatonya, Paus Leo sepenuhnya mengadopsi seruan bersama yang muncul dari Konsistori dan mengundang para kardinal untuk meneruskannya kepada seluruh Gereja dan bangsa-bangsa di dunia.

“Allah terus membuka jalan-jalan rekonsiliasi dan perdamaian dalam sejarah. Kita memiliki tanggung jawab untuk menapakinya dengan berani dan membantu dunia mengenalinya,” katanya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kontribusi mereka, termasuk para relator, moderator, dan semua orang yang dengan kemurahan hati dan kerendahan hati memungkinkan hari-hari kerja serta persaudaraan itu terlaksana.

“Terima kasih karena telah membantu saya sekali lagi mengenali karya yang terus dilakukan Kristus di tengah umat-Nya dan di dunia. Kita mempercayakan buah-buah Konsistori ini kepada perantaraan Santa Perawan Maria, Bunda Gereja. Semoga ia mengajarkan kita untuk menjaga persatuan dalam keberagaman dan melayani Injil perdamaian dengan kerendahan hati, keberanian, dan harapan. Terima kasih!”

27 Jun 2026, 20:38