Kepada Kakek-Nenek dan Lansia, Paus: Kasih Allah Senantiasa Tertuju pada Anda
Oleh Deborah Castellano Lubov
“Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan pernah melupakan seorang pun dari kita. Ia meyakinkan kita bahwa wajah kita telah terukir di telapak tangan-Nya (bdk. Yes 49:16), dan bahwa kasih-Nya jauh lebih besar daripada kasih seorang ibu kepada anaknya (bdk. Yes 49:15).”
Demikian pesan penghiburan yang disampaikan Paus Leo XIV dalam Pesan untuk Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia ke-6 yang akan dirayakan pada Minggu keempat bulan Juli. Tema yang dipilih tahun ini adalah, “Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes. 49:15).
Dalam pesannya yang dirilis Vatikan hari ini, Paus menjelaskan bahwa Nabi Yesaya menghadirkan gambaran dialog yang sangat akrab dan mendalam antara Allah dan umat-Nya. Melalui kata-kata tersebut, Allah berbicara kepada setiap pribadi sekaligus kepada seluruh umat-Nya. Menurut Paus, sabda itu tetap relevan dan ditujukan kepada setiap orang hingga hari ini.
Putra-Putri Allah di Setiap Tahap Kehidupan
Paus Leo mengatakan bahwa kata-kata yang penuh penghiburan dan harapan itu merupakan jawaban atas kegelisahan yang sering muncul dalam hati manusia: “Tuhan telah meninggalkan aku, Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14).
Ia mengakui bahwa tidak sedikit lansia yang mengalami perasaan menyakitkan karena merasa dilupakan, terutama ketika harus menghadapi kesepian atau ketika identitas mereka seolah hanya dipandang sebagai nomor tempat tidur rumah sakit atau sekadar penyakit yang mereka derita.
Menurut Paus, perayaan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia menjadi kesempatan untuk menemukan kembali bahwa Gereja dipanggil menjadi ibu bagi semua orang. Pada usia berapa pun, setiap orang tetap dapat menyadari dirinya sebagai putra dan putri Allah yang terkasih.
Undangan bagi Kaum Muda
Bapa Suci juga mengajak semua orang, terutama kaum muda, untuk menghidupkan kembali tradisi indah mengunjungi kakek-nenek, anggota keluarga lanjut usia, maupun para lansia yang tidak memiliki siapa pun untuk mengunjungi mereka.
“Bawalah kepada mereka, melalui pesan ini dan kehadiran kalian, kedekatan dan kasih sayang Paus,” ujarnya.
Paus mengajak keluarga dan orang-orang terdekat untuk menghadirkan perjumpaan yang hangat, penuh perhatian, dan kasih bagi para lansia.
Ia kembali menegaskan bahwa Gereja memahami penderitaan yang dialami banyak orang lanjut usia. Namun pada saat yang sama, selalu ada sukacita ketika seseorang menyadari bahwa dirinya adalah penerima kasih Allah yang tidak pernah berakhir.
Mengutip Beato Yohanes Paulus I, Paus mengatakan bahwa Allah “selalu memandang kita, bahkan ketika segala sesuatu tampak gelap,” dan bahwa Allah adalah Bapa kita, bahkan lebih dari itu, “Ia juga adalah ibu bagi kita.”
Kembali ke Pelukan Allah
Paus Leo menegaskan bahwa meskipun tidak selalu mudah memandang kehidupan dengan cara seperti itu, kenyataannya seseorang tidak pernah berhenti menjadi anak Allah, bahkan ketika memasuki usia lanjut.
Karena itu, undangan untuk kembali ke pelukan Allah tetap berlaku pada setiap tahap kehidupan.
Bagi banyak orang, pengalaman akan kelembutan kasih Allah ditemukan secara bertahap sepanjang hidup, bahkan tidak jarang baru disadari pada tahun-tahun terakhir kehidupan mereka.
Tidak Pernah Terlambat Berbalik kepada Tuhan
Paus mengamati bahwa pada masa kini semakin banyak orang mencapai usia lanjut tanpa pernah mengalami pengalaman iman yang mendalam.
Meski demikian, Allah tetap mendekati mereka.
“Tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai berpaling kepada-Nya. Itu dapat menjadi anugerah besar bagi setiap orang,” tegas Paus.
Dilahirkan Kembali di Masa Tua
Kepada para lansia, Paus berkata, “Jangan takut akan kerapuhan.”
Ia mengakui bahwa usia lanjut sering kali membawa berbagai keterbatasan dan kelemahan. Namun justru dalam keadaan itu seseorang tetap dipanggil oleh Tuhan.
Menurutnya, seorang laki-laki maupun perempuan dapat mengalami kelahiran baru secara rohani bahkan pada masa tua.
Paus juga menyoroti situasi dunia saat ini yang masih diwarnai perang dan berbagai gejolak sosial. Banyak kakek dan nenek, katanya, bertanya-tanya seperti apa dunia yang akan diwariskan kepada cucu-cucu mereka.
Karena itu, ia mengajak para lansia untuk bergabung bersamanya dalam doa yang sungguh-sungguh agar perdamaian segera terwujud di dunia.
Menutup pesannya, Paus Leo XIV menyampaikan terima kasih kepada semua lansia yang setiap hari menopangnya melalui doa-doa mereka, terutama melalui doa Rosario.
“Saya membalas rasa syukur itu dengan sepenuh hati,” katanya.
Paus kemudian menutup pesannya dengan doa sederhana:
“Semoga Tuhan senantiasa memperbarui kita dalam iman, harapan, dan kasih — Dia yang tidak pernah melupakan kita.”
