Cari

Foto arsip Paus Leo XIV saat melakukan kunjungan pastoral ke Acerra, Italia, pada 23 Mei 2026 Foto arsip Paus Leo XIV saat melakukan kunjungan pastoral ke Acerra, Italia, pada 23 Mei 2026  (@VATICAN MEDIA)

Evangelisasi dan Kedekatan dengan Migran: Perjalanan ke Jantung

Direktur Editorial Vatican News merefleksikan tantangan yang akan mewarnai Perjalanan Apostolik Paus Leo XIV ke Spanyol dalam rangka peringatan 100 tahun wafatnya Antoni Gaudí, arsitek Sagrada Família. Kunjungan tersebut akan membawa Paus ke Madrid, Barcelona, serta Kepulauan Canary.

Oleh Andrea Tornielli

Perjalanan selama tujuh hari yang akan dijalani Paus Leo XIV di Spanyol—meliputi Madrid, Barcelona, dan Kepulauan Canary—dapat dipandang sebagai sebuah ziarah menuju jantung Eropa. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan Perjalanan Apostolik yang mencerminkan berbagai tantangan besar yang sedang dihadapi Gereja di benua tersebut.

Kunjungan ini berlangsung setelah Perjalanan Apostolik Paus Leo ke Turki dan Lebanon, yang sarat makna ekumenis serta berfokus pada upaya perdamaian di Negeri Cedars. Dalam beberapa bulan terakhir, wilayah tersebut mengalami konflik yang menghancurkan dan membawa penderitaan besar bagi masyarakat akibat serangan udara Israel.

Perjalanan ini juga mengikuti kunjungan satu hari Paus ke Monako serta Perjalanan Apostolik selama sebelas hari ke empat negara Afrika pada bulan April lalu. Ziarah yang disebut Paus sebagai perjalanan “misioner” itu merupakan perjalanan apostolik pertama dalam masa kepausannya.

Kini, ketika memulai perjalanan berikutnya pada hari Sabtu, Penerus Santo Petrus akan berhadapan dengan realitas masyarakat Eropa yang semakin terpolarisasi, khususnya di Spanyol.

Madrid: Politik dan Kebaikan Bersama

Persinggahan pertama di Madrid akan ditandai oleh pertemuan Paus dengan para anggota parlemen. Momen ini menjadi kesempatan penting untuk kembali menegaskan cara Gereja memandang politik dan keterlibatan dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Pandangan Gereja saat ini berada jauh dari segala bentuk keberpihakan politik. Pada saat yang sama, Gereja juga menolak upaya yang didorong oleh ideologi sekularisme untuk membatasi iman Kristen hanya sebagai pengalaman pribadi dan batiniah semata.

Gereja tidak dapat bergantung pada kekuasaan politik demi mempertahankan identitas dan misinya dalam mewartakan Injil. Keterikatan yang terlalu erat dengan kekuasaan justru berpotensi mengaburkan panggilan dasarnya.

Sebaliknya, Gereja juga tidak menerima bentuk religiositas yang hanya berpusat pada diri sendiri. Iman Kristen bersifat inkarnatif; karena itu, umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan Injil melalui tindakan nyata yang membuat masyarakat menjadi lebih manusiawi, lebih adil, dan lebih peduli kepada mereka yang berada di pinggiran kehidupan sosial.

Gereja di Spanyol, yang dipanggil untuk memberi kesaksian tentang persatuan di tengah polarisasi dan pertentangan, pernah mengalami luka mendalam akibat perang saudara pada abad lalu. Bersama seluruh rakyat Iberia, Gereja masih membawa sebagian luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.

Karena itu, pertanyaan mengenai bagaimana Injil dapat diwartakan di tengah masyarakat yang dibentuk oleh tradisi Kristen yang kuat, namun kini semakin terseret arus sekularisasi, akan menjadi tema yang menyertai seluruh perjalanan Uskup Roma tersebut.

Barcelona: Bahasa Keindahan sebagai Sarana Pewartaan

Di Barcelona, kunjungan ke Basilika Sagrada Família yang megah—di mana Paus Leo akan meresmikan menara tertinggi yang didedikasikan bagi Yesus Kristus—menawarkan salah satu kemungkinan jawaban atas tantangan evangelisasi masa kini: bahasa keindahan.

Sepanjang sejarah, Gereja telah berbicara kepada semua orang melalui seni, terutama melalui bahasa visual. Lukisan dinding, mosaik, dan patung telah menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan ajaran iman kepada berbagai generasi.

Sagrada Família, hasil perpaduan iman dan kejeniusannya Antoni Gaudí, arsitek asal Catalonia yang wafat seratus tahun lalu dan kini sedang menempuh proses menuju kanonisasi, menjadi salah satu contoh paling nyata dari kekuatan bahasa keindahan tersebut.

Siapa pun yang berdiri di hadapan basilika itu akan diajak menelusuri inti terdalam iman Kristiani melalui simbol, bentuk, dan ruang yang berbicara tanpa kata-kata.

Warisan Antoni Gaudí menjadi semakin relevan pada masa kini, khususnya di Eropa, ketika pewarisan iman dalam keluarga mengalami kemunduran dan evangelisasi dasar tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang otomatis terjadi.

Kepulauan Canary: Wajah Migrasi dan Panggilan untuk Tetap Manusiawi

Tahap terakhir perjalanan di Gran Canaria dan Tenerife akan membawa Paus berhadapan langsung dengan tragedi kemanusiaan yang dialami para migran.

Mereka yang berhasil selamat dari perjalanan laut yang berbahaya tiba di gerbang Eropa, sementara benua tersebut kerap gagal memberikan respons yang terkoordinasi dan terorganisasi. Akibatnya, negara-negara yang berada di garis depan krisis migrasi harus menanggung beban itu sendirian. Spanyol termasuk di antaranya.

Kunjungan ke Kepulauan Canary sesungguhnya merupakan keinginan yang pernah diungkapkan oleh Paus Fransiskus. Kini, keinginan tersebut diwujudkan oleh penerusnya, Paus Leo XIV.

Pada Oktober tahun lalu, Paus Leo XIV menerbitkan Seruan Apostolik Dilexi Te, yang merupakan hasil pekerjaan yang telah dimulai pada masa kepausan sebelumnya. Dokumen itu menyoroti hubungan erat antara kasih Kristus dan panggilan untuk mendekati kaum miskin, mereka yang tersisih, yang menderita, serta “orang asing” yang disebut Yesus dalam Injil.

Dalam ensiklik Magnifica Humanitas, Paus juga mengajak umat untuk “memandang dunia dari posisi yang lebih rendah: melalui mata mereka yang menderita, bukan melalui mata mereka yang berkuasa; melihat sejarah dari sudut pandang mereka yang kecil, bukan dari perspektif para penguasa; serta menafsirkan peristiwa-peristiwa sejarah melalui pengalaman janda, yatim piatu, orang asing, anak-anak yang terluka, mereka yang terusir, dan para pengungsi.”

Karena itu, kunjungan Paus ke Kepulauan Canary bukan sekadar agenda pastoral. Kunjungan tersebut menjadi bentuk kehadiran nyata di tengah penderitaan mereka yang paling rentan, sekaligus seruan bagi umat Kristiani untuk memberikan kesaksian Injili melalui tindakan konkret.

Pada saat yang sama, perjalanan ini merupakan panggilan bagi semua orang untuk memikul tanggung jawab bersama: tanggung jawab untuk tetap menjadi manusia.

05 Jun 2026, 13:54