Di Tenerife, Paus : Bukalah Samudra Kasih Kristus
Oleh Augustine Asta – Tenerife
Dengan latar belakang menakjubkan Pelabuhan Santa Cruz de Tenerife dan perairan Samudra Atlantik yang berkilauan di belakangnya, Paus Leo mengakhiri kunjungannya ke Kepulauan Canaria sekaligus menutup Perjalanan Apostoliknya ke Spanyol.
Dalam homilinya, Paus Leo mengajak umat beriman untuk merenungkan Hati Kudus Yesus sebagai pusat sejarah manusia—tempat di mana sukacita, harapan, kesedihan, dan kecemasan seluruh umat manusia bergema.
“Tidak ada orang yang bisa hidup sendiri,” tegasnya, seraya menekankan bahwa hidup Kristiani adalah sebuah eksodus yang terus-menerus menuju sesama dan Allah. Paus memperingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam kesibukan, materialisme, dan pencarian keuntungan, yang berisiko menjerat manusia dalam “dinamisme yang mandul”.
Di wilayah yang sangat bergantung pada sektor pariwisata ini, ia mengajak masyarakat setempat maupun para pengunjung untuk kembali menemukan kesederhanaan, rasa syukur, dan nilai relasi antarmanusia yang lebih penting daripada sekadar transaksi ekonomi. “Ada kehidupan ketika kita memberikan kehidupan,” tegas Paus.
Spiritualitas yang kaya
Merenungkan Injil hari itu, Paus menyoroti tempat istimewa yang dimiliki oleh mereka yang termarjinalkan dalam rencana Allah. Menurutnya, pewahyuan ilahi sering kali dinyatakan kepada mereka yang dianggap tidak penting atau tidak berdaya oleh dunia.
Paus mengutip seruan apostoliknya Dilexi Te, yang menegaskan bahwa kaum miskin bukan sekadar penerima bantuan, melainkan pembawa kebijaksanaan yang dapat mewartakan Injil kepada Gereja sendiri.
Migrasi dan keramahtamahan di Tenerife
Kepulauan Canaria merupakan salah satu titik transit utama bagi para imigran yang menyeberangi Samudra Atlantik. Dalam homilinya, Paus Leo XIV mengakui kenyataan pahit yang dihadapi para imigran, termasuk eksploitasi oleh para pelaku perdagangan manusia, dan menyerukan agar umat Kristiani tidak hanya memberikan bantuan material, tetapi juga persaudaraan yang sejati.
Ia menantang komunitas-komunitas lokal untuk membiarkan diri mereka diubah oleh perjumpaan dengan para pendatang baru. Pengalaman kaum miskin dan para imigran, katanya, merupakan sumber kebijaksanaan bagi masyarakat yang sering kali terjebak dalam kenyamanan dan individualisme.
Melihat dengan Hati Kristus
Menjelang akhir homilinya, Paus menyampaikan rasa syukur kepada masyarakat Kepulauan Canaria atas semangat penerimaan dan persaudaraan yang mereka tunjukkan.
Ia mendorong komunitas-komunitas Kristiani untuk memberikan perhatian khusus kepada kaum muda, mereka yang rentan, baik yang kaya maupun yang miskin, penduduk lokal maupun para pengunjung.
“Allah adalah kasih,” demikian ia mengingatkan, mengutip Surat Pertama Santo Yohanes.
Paus Leo mengajak umat beriman untuk membantu sesama menemukan “samudra kasih” yang terdapat dalam Hati Kristus, sehingga tidak seorang pun merasa dikecualikan dari perjumpaan dengan Allah dan dengan saudara-saudarinya.
Perpisahan dan ucapan terima kasih
Pada akhir Misa, Paus Leo XIV menyampaikan rasa syukur “kepada Allah dan kepada semua yang telah menyambutnya serta membantu melalui begitu banyak cara”, dalam mempersiapkan kunjungannya ke Madrid, Barcelona, Montserrat, dan Kepulauan Canaria.
“Saya kembali ke Roma dengan hati yang sangat tersentuh oleh kasih sayang luar biasa yang melingkupi diri saya,” kata Paus Leo, “dan dikuatkan oleh kesaksian iman serta cinta kepada Gereja, yang merupakan ungkapan dari hati terdalam orang-orang Katolik Spanyol.”
