Cari

Christel Grimbergen berziarah dari Maastricht, Negeri Belanda, ke Roma, Italia dengan berjalan kaki Christel Grimbergen berziarah dari Maastricht, Negeri Belanda, ke Roma, Italia dengan berjalan kaki 

Perjalanan Ziarah Seorang Perempuan Belanda Seorang Diri dari Maastricht ke Roma

Christel Grimbergen menempuh perjalanan 2.800 kilometer selama hampir empat bulan dengan berjalan kaki dari Belanda hingga akhirnya tiba di makam Santo Petrus di Basilika Santo Petrus, Roma. Kepada Vatican News Bagian Polandia, ia menceritakan bagaimana dan mengapa ia melakukan perjalanan tersebut.

Oleh Piotr Kowalczuk

“Nama saya Christel Grimbergen. Saya tinggal di Amsterdam. Saya seorang psikiater. Dalam pekerjaan saya, saya membantu orang-orang yang hidup di jalanan, banyak di antara mereka menghadapi persoalan hukum dan kecanduan.”

Demikian kisah Grimbergen ketika duduk di sebuah kafe di Piazza della Città Leonina, di bawah bekas kediaman Kardinal Joseph Ratzinger, tak jauh dari Lapangan Santo Petrus.

Ia merayakan ulang tahunnya yang ke-52 dalam perjalanan menuju Roma, ketika sedang menyeberangi Sungai Po.

Membaca tanda-tanda Tuhan

Grimbergen dibaptis sebagai seorang Katolik, tetapi tumbuh dalam keluarga yang tidak menjalankan kehidupan iman. Sekitar delapan tahun lalu, ia mulai tertarik pada agama dan perlahan-lahan semakin dekat dengan Gereja Katolik. Pada akhirnya, ia menerima Sakramen Krisma.

Sebelumnya, ia tidak pernah membayangkan akan melakukan ziarah. Alasannya sederhana: ia memang tidak suka berjalan kaki.

Tiga tahun lalu, sahabat dekatnya, Marieke, yang telah melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia, meninggal dunia. Sebagian sebagai penghormatan terhadap kenangan akan sahabatnya itu, dan sebagian lagi karena alasan iman, Grimbergen memutuskan untuk melakukan perjalanan ziarah.

“Dia menginspirasi saya. Saya berpikir bahwa ia pasti akan menyukai gagasan ini. Kalau dia masih hidup, dia tentu akan ikut bersama saya,” kenangnya.

Pada musim dingin, ia pergi ke Spanyol dan berjalan sejauh 150 kilometer dari rute terkenal Camino Francés menuju Santiago de Compostela. Dua tahun kemudian, ia kembali melakukan perjalanan, kali ini berangkat dari Amsterdam. Ia berjalan selama empat bulan.

Dengarkanlah Christel Grimbergen berbicara tentang alasannya memilih untuk melakukan ziarah berjalan kaki seorang diri menuju Roma

“Kali ini perjalanan itu sangat panjang. Kemudian saya berpikir: baiklah, mari kita lakukan lagi—tetapi kali ini menuju Roma,” katanya.

“Saya ingin mengalami keheningan dan kesunyian, serta memiliki banyak ruang untuk tetap berhubungan dengan Tuhan, membaca tanda-tanda-Nya dan belajar percaya kepada-Nya. Berjalan sejauh itu membawa banyak tekanan. Begitu banyak hal bisa terjadi. Kita hanya harus percaya bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja,” jelas Grimbergen.

Santo Servatius

Sebelum berangkat menuju Roma, Grimbergen berkali-kali berlatih dengan berjalan kaki menempuh rute sepanjang 450 kilometer dari Amsterdam ke Maastricht.

Ia memilih Maastricht sebagai titik awal perjalanan ziarahnya menuju Roma “karena kota ini dekat dengan hati saya”.

“Saya pernah belajar di sana. Di sanalah saya pertama kali masuk ke sebuah gereja, yakni Basilika Santo Servatius.”

Santo Servatius hidup pada abad keempat dan merupakan Uskup Tongeren serta santo pelindung kota Maastricht. Meskipun sudah tidak muda lagi, ia berjalan kaki ke Roma sebanyak tiga kali.

“Saya berpikir: kalau dia mampu melakukannya, mungkin saya juga bisa,” ujar Grimbergen.

Relikwi Santo Servatius di dalam Basilika Maastricht, di mana Grimbergen memulai peziarahannya.
Relikwi Santo Servatius di dalam Basilika Maastricht, di mana Grimbergen memulai peziarahannya.

Santo Servatius secara tradisional dikaitkan dengan kunci-kunci, sehingga Grimbergen melihat adanya hubungan dengan Santo Petrus, yang dimakamkan di Roma.

Ia menyelesaikan satu kilometer terakhir menuju makam Rasul Petrus dengan ditemani seorang imam Belanda, Eric van Teijlingen, kanonik Basilika Santo Petrus. Imam tersebut menemuinya di pintu masuk Via della Conciliazione, jalan yang menuju Basilika Santo Petrus.

Dalam perjalanan menuju Gua-Gua Vatikan, sang imam membawanya masuk ke salah satu kapel samping dan memperlihatkan sebuah lukisan fresco di langit-langit. Lukisan itu menggambarkan Santo Petrus bangkit dari makamnya dan menyerahkan Kunci Kerajaan Surga kepada Santo Servatius, yang sedang berdoa di depan altar. Lukisan tersebut menjadi penghormatan atas pembelaan Santo Servatius terhadap iman Gereja dalam menghadapi Arianisme.

Tiga puluh delapan kilometer dalam sehari

Ketika ditanya bagaimana ia mengatur perjalanan ziarah tersebut, Grimbergen menjelaskan bahwa di sepanjang rute ziarah kadang tersedia penginapan khusus bagi para peziarah. Namun, tempat seperti itu tidak selalu dapat dipastikan.

Dalam perjalanan sejauh itu, banyak hal harus dilakukan secara spontan. Kadang-kadang makanan tersedia di tempat penginapan, atau ia dapat membeli makanan di kafe maupun supermarket. Namun, di wilayah Prancis bagian timur terdapat banyak desa kecil yang terpencil dan sama sekali tidak memiliki toko.

Rencananya, ia berjalan tidak lebih dari 25 kilometer sehari, bahkan lebih sedikit ketika melewati pegunungan. Tetapi kadang-kadang satu-satunya cara untuk mencapai tempat penginapan mengharuskannya menempuh jarak yang jauh lebih panjang.

Rekor pribadinya adalah 38 kilometer dalam satu hari.

Bahaya di sepanjang perjalanan

Grimbergen mengatakan bahwa seorang peziarah dapat menghadapi banyak bahaya yang tidak terduga.

Berjalan dengan membawa ransel berat, bahkan dengan bantuan tongkat trekking, membuat seseorang mudah tersandung, terjatuh dan mengalami cedera. Selain itu ada gelombang panas, salju, badai petir, serangga, hingga anjing-anjing yang agresif.

Ia mengingat satu pengalaman paling dramatis selama perjalanan.

“Saya sedang berjalan di pegunungan antara Prancis dan Swiss. Prakiraan cuaca mengatakan kemungkinan badai petir hanya kecil, jadi saya berangkat. Saya harus melewati sebuah gunung sebelum turun menuju tempat penginapan.”

“Tiba-tiba badai petir datang. Saya merasa seolah-olah udara di sekitar saya dialiri listrik. Kemudian hujan es mulai turun dan angin bertiup sangat kencang.”

Di Great St. Bernard Pass, yang terletak di Pennine Alps yang berada di perbatasan di antara Swiss dan Italia
Di Great St. Bernard Pass, yang terletak di Pennine Alps yang berada di perbatasan di antara Swiss dan Italia

Saat itu ia berada seorang diri di jalan yang sepi, melewati tengah hutan lebat, tanpa tempat untuk berlindung.

“Awalnya saya mulai khawatir dan ketakutan. Kemudian saya mulai berdoa,” katanya.

Akhirnya sebuah mobil van muncul.

“Pengemudinya berhenti dan menyelamatkan saya. Ia seorang teknisi listrik dan namanya Florian—nama santo pelindung yang melindungi dari api dan petir. Ia membawa saya ke sebuah bar kecil bernama Le Refuge, yang berarti ‘Tempat Perlindungan’. Saya sungguh sangat beruntung.”

Saat-saat keraguan

“Setiap hari saya bertanya kepada diri sendiri: Mengapa saya melakukan ini?” aku Grimbergen.

“Apakah saya benar-benar bisa sampai? Saya bukan orang yang pandai berjalan. Kadang terlalu dingin, kadang terlalu panas. Saya sangat takut terhadap anjing karena memang saya sangat takut pada mereka.”

Doa membantunya melewati semua itu. Demikian pula pengalaman-pengalaman indah di alam dan orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan.

Terik salah satu tantangan Grimbergen selama peziarahan
Terik salah satu tantangan Grimbergen selama peziarahan

“Hal terbaik adalah tidak memikirkan terlalu jauh ke depan. Saya bangun pagi dan kembali berjalan sedikit demi sedikit, dengan keyakinan bahwa saya mampu melakukannya—bahwa saya hanya perlu terus berjalan.”

Iman kepada sesama manusia

Ketika ditanya apa yang diberikan oleh perjalanan ziarah itu kepadanya dan apa yang dapat dipelajari seseorang dari pengalaman semacam itu, Grimbergen pertama-tama berbicara tentang perasaan bahwa ada seseorang—atau sesuatu—yang melindunginya, baik dari anjing maupun badai hujan es.

Pertemuan dengan orang-orang yang menolongnya sepanjang perjalanan sangat berarti baginya. Sering kali mereka bahkan berdoa bersama.

Di Italia, orang-orang menunjukkan kepadanya kartu-kartu doa bergambar para santo yang memiliki tempat khusus dalam kehidupan iman mereka.

“Mereka memberikannya kepada saya untuk saya cium. Bagi saya, sangat penting untuk memahami bagaimana mereka menjalani iman mereka. Kami banyak berbicara mengenai hal itu.”

Di Prancis, masyarakat setempat sering berkata kepadanya:

“Doakan kami ketika kamu sampai di Roma.”

Grimbergen dengan hati-hati mencatat intensi doa mereka, nomor telepon dan alamat mereka, agar dapat mendoakan mereka di makam Santo Petrus. Setelah itu, ia berencana mengirimkan foto atau kartu pos kepada mereka.

“Sungguh luar biasa bahwa ketika kita melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, begitu banyak orang bersedia menolong kita,” tegasnya.

“Ada rasa saling percaya. Orang-orang saling membantu, dan itu sungguh indah. Menurut saya, itulah hal terindah dari sebuah ziarah: kita memperoleh kembali iman kepada sesama manusia.”

Ziarah ke Yerusalem

Ketika ditanya mengenai rencana ziarah berikutnya, Grimbergen segera menyebut Yerusalem. Namun, untuk saat ini rencana tersebut masih ditunda karena perang yang terus berlangsung di sana.

Ia menekankan bahwa perjalanan ziarah seperti itu membutuhkan persiapan yang matang.

Untuk perjalanan ke Roma, ia berlatih empat kali seminggu di bawah bimbingan seorang mantan pemain sepak bola profesional. Latihannya terutama difokuskan pada penguatan otot dan tendon di lutut serta pergelangan kaki. Untungnya, bagian tubuh tersebut tidak banyak mengalami masalah selama perjalanan.

“Saya rasa Yerusalem akan menghadirkan tantangan yang berbeda—terutama panasnya. Persiapan saya setidaknya akan memerlukan waktu dua tahun.”

“Jika semuanya berjalan baik, jika orang tua saya tetap sehat dan majikan saya memberi izin cuti, mungkin saya bisa berangkat dalam tiga tahun.”

“Jika itu terjadi, saya akan menyelesaikan tiga ziarah besar dengan berjalan kaki dari rumah saya di Amsterdam: Santiago de Compostela, Roma dan Yerusalem.”

11 Aug 2026, 14:23