Uskup Australia Berjanji Pulihkan Kepercayaan Setelah Pendahulunya Dinyatakan Bersalah dalam Kasus Pelecehan
Vatican News
Uskup Broome, Australia, menyampaikan kesedihan mendalam atas penderitaan dan rasa malu yang dialami para korban dan penyintas setelah pendahulunya dinyatakan bersalah atas tindak pidana seksual.
Pada Kamis, juri di Pengadilan Distrik Australia Barat menyatakan Uskup Christopher Saunders, Uskup Emeritus Broome, bersalah atas 13 tindak pidana pelecehan seksual terhadap dua pria muda Aborigin.
Uskup Saunders membantah bahwa serangan seksual tersebut terjadi dan masih dapat mengajukan banding atas putusan tersebut. Ia menjabat sebagai Uskup Broome dari 1996 hingga 2021, sementara tindak pidana tersebut terjadi antara 2008 dan 2019.
Dalam surat pastoral yang ditujukan kepada umat Katolik di seluruh wilayah Kimberley, Uskup Timothy Norton, SVD, Uskup Broome saat ini, mengakui putusan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada pihak berwenang Australia yang telah membawa kasus itu ke hadapan juri.
Uskup Norton memberikan penghormatan kepada para korban, penyintas, dan saksi lainnya yang tampil ke depan “untuk menyampaikan kebenaran mereka”.
“Mereka menunjukkan ketangguhan dan komitmen yang luar biasa melalui proses yang panjang dan sulit,” katanya. “Mereka layak didengarkan dengan penuh belas kasih dan diperlakukan dengan bermartabat.”
Uskup Norton menyampaikan kesedihan mendalam atas luka dan rasa malu yang telah mereka tanggung.
Ia juga menyayangkan lamanya waktu yang dibutuhkan hingga suara mereka didengar dan penderitaan mereka diakui.
Uskup Norton berjanji bahwa Keuskupan Broome akan melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk menjangkau mereka yang terdampak dan mendampingi mereka menuju harapan dan pemulihan.
Dalam surat pastoralnya, Uskup Australia tersebut mengakui bahwa dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang memberikan kesaksian kepada polisi dan di hadapan pengadilan.
“Kepercayaan telah rusak dan luka-luka akibat pengkhianatan serta perpecahan telah terbuka di seluruh keuskupan,” katanya. “Luka ini juga dirasakan oleh mereka yang telah menaruh kepercayaan kepada kepemimpinan kami dan kepada Gereja.”
Situasi tersebut juga meninggalkan banyak umat Katolik, terutama mereka yang telah melayani paroki dan komunitas setempat, dengan “pertanyaan-pertanyaan sulit dan perasaan yang belum terselesaikan”.
Komitmen Baru terhadap Keamanan dan Akuntabilitas
Uskup Norton mengakui rasa sakit komunitas Katolik setempat yang sedang berusaha memahami bagaimana pengkhianatan semacam itu dapat terjadi di dalam kepemimpinan keuskupan mereka.
Sebagai tanggapan, ia berjanji memperbarui komitmen untuk menjadikan keuskupan sebagai tempat yang menjunjung “keamanan, penghormatan, dan akuntabilitas”, mulai dari Katedral di Broome hingga komunitas-komunitas paling terpencil di Kimberley.
Uskup Norton mengatakan keuskupan akan bekerja untuk memastikan setiap orang diperlakukan dengan martabat dan belas kasih, serta berusaha membangun “relasi yang autentik dan damai, bahkan ketika kita tidak selalu memiliki kesepakatan satu sama lain”.
Perjalanan Mendengarkan dan Penyembuhan
Untuk bulan-bulan mendatang, Uskup Norton mengumumkan bahwa ia akan mengunjungi komunitas-komunitas di seluruh wilayah keuskupan yang sangat luas tersebut.
Kunjungan itu, katanya, akan menjadi kesempatan untuk berduka dan mendengarkan, ketika umat beriman berjalan bersama dalam sebuah perjalanan sinodal menuju masa depan yang lebih penuh belas kasih.
Ia mengundang umat untuk menyampaikan keprihatinan dan pandangan mereka agar dapat berkontribusi dalam proses penyembuhan komunitas.
Uskup tersebut juga mendorong siapa pun yang merasa tertekan oleh putusan pengadilan atau kesaksian yang didengar selama persidangan untuk mencari bantuan. Ia mengatakan bahwa staf keuskupan dan paroki dapat membantu menghubungkan mereka dengan layanan pendampingan independen.
Menutup surat pastoralnya, Uskup Norton mempercayakan Keuskupan Broome kepada Our Lady Queen of Peace, pelindung keuskupan, seraya memohon perantaraannya dan pendampingannya dalam perjalanan menuju “rekonsiliasi, penyembuhan, dan harapan”.