Para Uskup Amerika Serikat Ajak Umat Berdoa dan Beraksi Lawan Penyebaran Pil Aborsi
Oleh Vatican News
Komite Kegiatan Pro-Life Konferensi Waligereja Katolik Amerika Serikat (USCCB) mengajak umat Katolik untuk bergabung dalam upaya khusus melalui doa dan aksi melawan penyebaran pil aborsi, yang dimulai pada 18 Agustus hingga Oktober.
“Setiap aborsi melibatkan kematian seorang anak dan membahayakan ibu. Kini, dengan semakin mudahnya akses terhadap pil aborsi, angka aborsi meningkat secara tragis, bersamaan dengan meningkatnya risiko kesehatan,” kata Uskup Agung Paul Coakley, Presiden USCCB, dan Uskup Daniel Thomas, Ketua Komite Pro-Life Konferensi tersebut, dalam seruan bersama yang dirilis pada 18 Agustus.
Seruan tersebut mencakup doa dalam bahasa Inggris dan Spanyol yang dapat didaraskan melalui perantaraan Santo Yosef, Pembela Kehidupan. Seruan itu juga mendorong umat Katolik untuk mengunjungi situs web Doa dan Aksi Respect Life milik USCCB, tempat mereka dapat mempelajari bahaya pil aborsi serta mengirimkan pesan kepada apotek dan perusahaan farmasi yang terlibat.
Inisiatif tersebut diluncurkan agar bertepatan dengan bulan penghormatan atas kehidupan (Respect Life Month), yang diperingati setiap Oktober oleh Gereja Katolik di Amerika Serikat.
Sistem yang Membuat Perempuan Rentan
“FDA telah turut mendorong berkembangnya industri aborsi dengan memperluas akses terhadap pil aborsi melalui layanan pengiriman nasional. Kebijakan ini memungkinkan pil aborsi diresepkan melalui konsultasi telehealth dan diperoleh baik di apotek maupun secara daring, sehingga berpotensi mengesampingkan undang-undang di sejumlah negara bagian yang memberikan perlindungan terhadap kehidupan dalam kandungan,”ujar para uskup menyerukan.
“Hal ini membuat perempuan rentan menjalani aborsi seorang diri di rumah, tanpa pengawasan medis. Ini juga menciptakan peluang eksploitasi dan tindak kekerasan oleh pasangan serta potensi perdagangan manusia.”
Pada Mei, Mahkamah Agung Amerika Serikat memperpanjang sebuah perintah yang untuk sementara waktu tetap mengizinkan pil aborsi diresepkan melalui telemedisin dan dikirim melalui pos, sementara sengketa hukum mengenai persoalan ini berlangsung di pengadilan tingkat lebih rendah.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), badan kesehatan masyarakat federal Amerika Serikat, pada 2022, sebanyak 58% aborsi di AS menggunakan pil.