Uskup Agung Ende: Gempa Bumi Tidak Hancurkan Cinta
Oleh Rm. Kasmir Nema, SVD
ENDE, Indonesia — Di tengah situasi pascagempa dahsyat yang melanda Pulau Flores, Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, mengatakan ada satu gambaran yang terus melekat dalam ingatannya: rumah-rumah yang berubah menjadi puing, tetapi komunitas masyarakat menolak membiarkan penderitaan memutus ikatan iman dan solidaritas mereka.
“Di tengah reruntuhan, kasih mereka tidak hancur,” ujar Uskup Agung Ende kepada Vatican News, dua hari setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang sebagian besar wilayah pulau tersebut.
Gempa yang terjadi pada dini hari 15 Agustus itu telah menewaskan puluhan orang, melukai ratusan lainnya, mengungsikan ribuan warga, serta menyebabkan kerusakan parah pada rumah, gereja, sekolah, dan bangunan publik di sejumlah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Namun, di tengah duka dan ketidakpastian, Uskup Agung Kleden mengatakan bahwa ia menyaksikan tanda-tanda luar biasa dari kasih, kepedulian, dan ketangguhan masyarakat.
Jumlah Korban Meninggal
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, jumlah korban meninggal telah mencapai 68 orang hingga 17 Agustus, sementara 213 orang mengalami luka-luka.
Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban meninggal tertinggi, yakni 26 orang, disusul Manggarai Timur dengan 24 orang, Nagekeo delapan orang, Sikka empat orang, serta Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing dua orang.
Lebih dari 5.000 orang masih mengungsi di sejumlah kabupaten. Sikka melaporkan jumlah pengungsi terbesar, dengan lebih dari 3.300 orang tinggal di tempat penampungan sementara dan pusat-pusat evakuasi.
Gempa terjadi pada pukul 04.58 waktu setempat, dengan pusat gempa berada sekitar 68 kilometer di sebelah utara-barat laut Ende. Meskipun pihak berwenang kemudian mencabut peringatan tsunami, peringatan tersebut sempat memicu kepanikan luas, khususnya di kalangan masyarakat yang tinggal di sepanjang pesisir utara Flores.
Sejak gempa utama terjadi, lebih dari 300 gempa susulan terus mengguncang pulau tersebut. Kondisi ini semakin menambah ketakutan masyarakat dan membuat banyak keluarga belum berani kembali ke rumah mereka.
Sebagai respons terhadap bencana tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menetapkan status tanggap darurat selama dua pekan, mulai 15 hingga 28 Agustus.
“Rumah mereka retak, tetapi kasih mereka tidak hancur”
Uskup Agung Kleden berada di Roe, dekat Mbay, ketika gempa terjadi. Ia menghabiskan malam di tempat tersebut setelah menghadiri perayaan jubileum perak seorang imam dan sedang mempersiapkan diri untuk memimpin Misa Krisma pada hari itu.
“Kami semua panik,” kenangnya. Setelah peringatan tsunami dikeluarkan, banyak warga segera melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Dalam beberapa jam, Uskup Agung mulai mengunjungi keluarga-keluarga yang mengungsi. Dengan mengendarai sepeda motor melalui jalan-jalan yang rusak, pertama bersama seorang kepala desa dan kemudian bersama sopir keuskupannya, ia menjumpai warga yang mencari perlindungan di pinggir jalan, di hutan, dan di ruang terbuka di sekitar rumah serta sekolah. Ia kembali mengunjungi komunitas yang sama pada sore hari dan sekali lagi pada malam harinya.
Mengenang apa yang disaksikannya, Uskup Agung Kleden mengatakan bahwa ada dua gambaran yang sangat kuat terpatri dalam ingatannya. “Pertama, saya melihat kepanikan dan ketakutan masyarakat karena mereka tidak tahu kapan mereka dapat kembali ke rumah. Sungguh menyakitkan untuk menyaksikannya,” katanya. “Namun, saya juga melihat solidaritas luar biasa di antara umat beriman.”
Komunitas di Flores, Indonesia, membantu upaya penanggulangan bencana
Keluarga-keluarga yang tinggal di wilayah yang relatif lebih aman secara spontan membangun tempat perlindungan sementara dan berbagi makanan serta kebutuhan lainnya dengan mereka yang kehilangan rumah, meskipun banyak rumah mereka sendiri juga mengalami kerusakan.
“Rumah mereka retak, tetapi kasih mereka tidak hancur,” katanya.
Satu perjumpaan secara khusus meninggalkan kesan mendalam bagi Uskup Agung. Saat melakukan perjalanan dari Aeramo menuju Danga, ia melihat seorang ibu mengendarai sepeda motor bersama tiga anaknya. Salah seorang anak tersebut memegang salib kecil.
“Bagi saya, itu merupakan ungkapan iman yang sangat mendalam,” katanya. “Anak itu membawa Tuhan yang tersalib di tengah jalan salib yang mereka jalani sendiri.”
Paus Leo XIV menjamin para korban dalam doanya
Ketika komunitas-komunitas di seluruh Flores terus berduka atas kehilangan yang mereka alami, Paus Leo XIV menyampaikan kedekatan dan perhatiannya kepada mereka yang terdampak bencana tersebut.
Dalam telegram yang ditujukan kepada Uskup Agung Paulus Budi Kleden, Bapa Suci menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga-keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih serta menjamin solidaritas spiritualnya kepada semua pihak yang terdampak.
Paus mengatakan bahwa ia “sangat berduka” atas jatuhnya korban jiwa dan kehancuran luas yang disebabkan oleh gempa bumi tersebut. Sambil menyerahkan para korban kepada belas kasih Allah yang penuh kasih, ia menyampaikan doa bagi mereka yang meninggal dunia, mereka yang terluka, serta semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelamatan dan bantuan.
Pesan Paus tersebut diterima dengan penuh syukur oleh umat Katolik setempat. Banyak di antara mereka tetap berkumpul untuk berdoa meskipun gereja-gereja dan bangunan paroki mengalami kerusakan.
Dalam pesannya kepada umat beriman, Uskup Agung Kleden mendorong masyarakat agar tidak menyerah pada keputusasaan.
“Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa kita tidak sendirian dalam situasi seperti ini. Allah tidak meninggalkan kita,” katanya. “Dengan keyakinan ini, kita membantu diri kita sendiri dan membantu orang lain. Solidaritas adalah kunci dalam situasi seperti ini.”
Meskipun kehancuran terjadi di berbagai tempat, para imam di seluruh Keuskupan Agung Ende tetap merayakan Misa di ruang terbuka, sesuai arahan Uskup Agung. Ia mencatat bahwa umat tetap berkumpul untuk berdoa dan beribadah meskipun mereka tinggal di tempat-tempat penampungan sementara.
Gereja mengerahkan respons darurat
Menurut Uskup Agung Kleden, para imam, biarawan-biarawati, dan umat Katolik awam segera memberikan respons setelah gempa terjadi, bahkan sebelum program tanggap darurat resmi keuskupan dibentuk.
“Inilah Caritas dalam arti yang sesungguhnya,” katanya.
Keuskupan Agung Ende kemudian membentuk tim koordinasi yang bekerja sama erat dengan Caritas Indonesia untuk mengorganisasi bantuan darurat bagi masyarakat yang terdampak.
Salah satu prioritas segera adalah memberikan dukungan psikologis dan pemulihan trauma, khususnya bagi anak-anak dan keluarga yang masih mengalami ketakutan akibat gempa susulan yang terus terjadi.
Para pemimpin Gereja juga mulai menyusun rencana untuk proses panjang dan sulit dalam membangun kembali rumah, gereja, sekolah, serta infrastruktur publik. Skala kerusakan sangat besar. Bahkan kediaman Uskup Agung mengalami kerusakan struktural yang cukup parah.
“Kami bekerja bersama pemerintah, LSM, dan semua orang yang berkehendak baik,” kata Uskup Agung Kleden, “untuk membangun kembali dari puing-puing yang ditinggalkan oleh gempa.”
Ia juga meminta umat Katolik di seluruh dunia untuk terus mendoakan masyarakat Flores saat mereka memulai perjalanan menuju penyembuhan dan pemulihan.